Cerita Unik di Bilik TPS

Tahun 2019 untuk pertama kalinya dalam sejarah pemilihan umum (pemilu) di Indonesia pemilihan presiden (pilpres)

Cerita Unik di Bilik TPS
IST
CHAIRUL BARIAH, Dosen di Universitas Almuslim Peusangan, anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen, melaporkan dari Matangglumpang Dua, Bireuen 

OLEH CHAIRUL BARIAH, Dosen di Universitas Almuslim Peusangan, anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen, melaporkan dari Matangglumpang Dua, Bireuen

Tahun 2019 untuk pertama kalinya dalam sejarah pemilihan umum (pemilu) di Indonesia pemilihan presiden (pilpres) dan pemilu legislatif digabungkan pelaksanaannya secara serentak. Untuk pertama kalinya pula pemilih harus mencoblos lima surat suara ketika berada di bilik tempat pemungutan suara (TPS).

Persaingan antarkandidat pun menjadi sangat ketat, khususnya di antara calon anggota legislatif dan dewan perwakilan daerah (DPD) yang jumlahnya sangat banyak. Oleh karenanya, pesertapemilu harus aktif menyusun strategi dan trik untuk merangkul sebanyak-banyaknya pendukung, mulai dari pemilih pemula, mahasiswa, perempuan, bahkan manula.

Suatu pemandangan yang tak pernah kita temui pada tahun sebelumnya adalah begitu banyaknya foto yang terpampang di sepanjang jalan raya, lorong, bahkan di jalan setapak, apalagi ruang terbuka, sehingga pajangan foto tersebut mampu mengalahkan iklan komersial lainnya.

Foto peserta, baik pilpres maupun pileg, bertaburan layaknya iklan terbuka, mulai dari yang kecil, sedang, bahkan dalam bentuk baliho besar. Penuh warna-warni, ditambah lagi dengan lambaian bendera dan umbul-umbul partai dalam berbagai ukuran di sepanjang jalan yang kita lewati. Semua itu semakin menambah semaraknya pesta demokrasi tahun ini. Nah, pemandangan yang unik itu kini telah menjadi kenangan.

Pagi itu, Rabu,17 April 2019, seperti biasa tugas saya pada hari libur adalah membersihkan rumah dan menyiram bunga di taman, sementara itu banyak orang kampung mulai dari remaja dan emak-emak melewati jalan di depan rumah kami. Saya lirik jam baru menunjukkan pukul 07.30 WIB. Saya tanya seseorang, “Mau ke mana pagi-pagi sekali?” Dia sahut, “Mau cepat-cepat ke TPS, takut nanti terlambat dan masih banyak tugas di rumah yang belum selesai.” Ya, hari itu adalah puncak pesta demokrasi yang telah lama ditunggu-tunggu oleh seluruh rakyat Indonesia.

Tepat pukul 09.00 WIB saya dan suami melangkah ke lokasi pelaksanaan pemilu di halaman masjid desa tempat tinggal kami. Ada delapan TPS yang tersedia. Saya memilih di TPS 8 sesuai surat pemberitahuan pemungutan suara yang dibagikan sebelumnya.

Sebelum masuk ke TPS, saya sempat melihat beraneka ragam tingkah polah pemilih yang akan memberikan suaranya. Ada yang berdiskusi, ada yang berbisik-bisik. Ada pula yang berpakaian modis dan berdandan layaknya seperti orang yang hendak ke pesta. Ada juga pemilih yang pakai pakaian ke sawah karena sepulang coblos dia berniat langsung ke sawah.

Pesta demokrasi tahun 2019 ini sungguh berbeda dari tahun sebelumnya. Selain untuk memenuhi hak pilih, kegiatan ini juga menjadi ajang silaturahmi antarkeluarga dan masyarakat. Ada yang lima tahun lalu bertemu di TPS, baru saat ini bertemu kembali di tempat yang sama. Itu karena ada warga yang sudah beberapa lama pindah tempat tinggal, tapi saat pemilu mereka pulang kampung untuk memilih karena kartu keluarga (KK)-nya masih terdaftar di kampung asal.

Antusiasme masyarakat bukan hanya dari kalangan yang telah memiliki hak memberikan suara, tetapi juga turut diramaikan oleh anak anak dan para pedagang yang menjajakan makanan ringan di lokasi pencoblosan. Bahkan terjadi perbincangan antara pedagang dan anak anak tentang siapa yang dipilih.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved