Salam

Harapan Kita Pemilu Berakhir Damai

Sampai kemarin ada 6.000-an personil Brimob dari berbagai daerah sudah tiba di Jakarta dan berada di bawah

Harapan Kita Pemilu Berakhir Damai
(Kolase Serambinews.com/foto Kompas.com/SABRINA ASRIL/CHRISTOFORUS RISTIANTO)
Mantan Kepala Staf Kostrad, Mayor Jenderal (Purn) Kivlan Zen (kiri) dan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranto. 

Sampai kemarin ada 6.000-an personil Brimob dari berbagai daerah sudah tiba di Jakarta dan berada di bawah kendali operasi Polda Metro Jaya. “Brimob itu untuk bantuan saja. Kita kan mengantisipasi kalau ada potensi-potensi kerawanan muncul, kita sudah menyiapkan langkah-langkah antisipasi,” kata Kapolda Metro Jaya Irjen Gatot Eddy Pramono.

Para personel BKO itu disebar di sejumlah titik potensi rawan seperti Monas, DPR/MPR, dan Kemayoran. Tugas BKO itu melaksanakan patroli skala besar, gabungan dengan personel kami, termasuk TNI. Penyebarannya di titik-titik potensi rawan.

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto meminta masyarakat tidak meributkan adanya kedatangan personel Brimob dari berbagai daerah ke Jakarta pascapemilu. “Tidak usah diributkan. Kalau ada kebijakan memindahkan pasukan dari sini ke sana, dari sana ke situ, itu kebijakan dari Polri,” kata Wiranto.

Ia mengatakan, Polri tentunya sudah melakukan analisis keamanan setempat dan kerawanan di daerah-daerah yang membutuhkan penguatan aparat keamanan. “Tujuannya, untuk membuat masyarakat tenteram dan tidak khawatir akan hal-hal yang akan mengganggu ketertiban dan keamanan.”

Kepala Staf Kepresidenan, Moeldoko, menilai sejauh ini belum ada indikasi keamanan terganggu. Penambahan personel Brimob ke Jakarta merupakan upaya preventif karena Jakarta merupakan barometer, sehingga harus diperkuat dan dijamin keamanan masyarakat dalam beraktivitas di ibu kota negara ini.

Terkait pengerahan Brimob ke Jakarta, Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Maruf Amin menilainya sebagai langkah yang wajar. “Perintah itu merupakan upaya antisipasi agar negara dalam tetap kondisi aman dan nyaman usai pelaksanaan pemilu. Sebab, bisa jadi dasar instruksi itu memang pascapemilu ini ada dinamika demokrasi yang relatif hangat,” kata Abdul Kadir Karding dari TKN.

Lebih tegas lagi Kadir mengatakan, pengerahan itu juga dilakukan mengingat adanya upaya provokasi secara masif untuk tidak percaya terhadap Komisi Pemilihan Umum (KPU). “Penghasutan itu dilakukan guna menyatakan pemilu curang dan ujung itu semua pengerahan people power”.

Kondisi ini mengingatkan kita pada pendapat Thomas R Seitz, guru besar pada program studi internasional Universitas Wyoming Amerika Serikat. Ketika berada di Indonesia tahun lampau, ia berpendapat, demokrasi di Indonesia sekarang sudah menemukan bentuk meskipun masih terdapat banyak tantangan. Menurut kajian yang dilakukannya, tantangan itu, umumnya berupa tekanan yang berasal dari kelompok-kelompok tertentu di masyarakat. Tantangan lain, banyaknya partai politik yang ikut dalam pemilu. Karena itu sangat penting untuk terus-menerus dilakukan konsolidasi parpol-parpol di Indonesia.

Berbicara pada tahun 2018, Thomas R Seitz PhD menegaskan, “Tahun 2019 berlangsung pemilihan presiden dan legislatif untuk semua tingkatan pada hari yang sama. Demokratisasi yang berlangsung begitu cepat tentu ada kekhawatiran terjadi kekacauan meskipun indikator yang ada menunjukkan demokrasi Indonesia baik-baik saja. Cuma, terdapat banyak orang kurang peduli dengan hasil pemilu. Mareka berpendapat, pemilu hanyalah untuk para elit tertentu mendapatkan keuntungan dari proses politik itu.”

Kembali ke soal suasana hangat di Jakarta. Kita adalah bangsa besar yang sudah berkali-kali lolos dari cobaan demokrasi. Dan, Pemilu presiden 2014 yang sempat diprediksi banyak orang akan terjadi chaos, nyatanya berlangsung tanpa gangguan yang berarti. Begitu juga Pemilu 2019, ini kita harap akan happy ending. Tentu, melaksanakan pemilu serentak Pilpres dan Pileg ini bukan berarti harus tanpa cobaan. Toh, harus disadari bahwa setiap kontestasi politik seperti pemilu, niscaya akan penuh dengan berbagai strategi dan intrik politik.

Ancaman menggunakan isu-isu SARA dalam kampanye, penyebaran disinformasi, ujaran kebencian, hingga kampanye hitam juga sempat membayangi. Kemudian, pada tahapan pencoblosan berbagai tindakan aneh dan curang juga ditemukan. “Namun, melihat demokrasi kita yang sudah matang dan juga modal sosial kita yang memiliki akar keindonesiaan yang begitu kuat, kita yakin akan bisa melewati pemilu kali ini dengan damai”. Nah?!

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved