Jurnalisme Warga

Perjuangkan Cinta Hingga ke Abdya

Ini kisah tentang sejoli. Munira, seorang gadis di Aceh Barat Daya (Abdya) menolak lamaran seorang pemuda

Perjuangkan Cinta Hingga ke Abdya
IST
AMIRUDDIN (ABU TEUMING), Direktur Lembaga Keluarga Sakinah Mawaddah dan Rahmah (K-Samara), Penyuluh Agama Islam pada KUA Kecamatan Krueng Barona Jaya, Aceh Besar, melaporkan dari Blangpidie, Aceh Barat Daya

OLEH AMIRUDDIN (ABU TEUMING), Direktur Lembaga Keluarga Sakinah Mawaddah dan Rahmah (K-Samara), Penyuluh Agama Islam pada KUA Kecamatan Krueng Barona Jaya, Aceh Besar, melaporkan dari Blangpidie, Aceh Barat Daya

Ini kisah tentang sejoli. Munira, seorang gadis di Aceh Barat Daya (Abdya) menolak lamaran seorang pemuda asal Kota Lhokseumawe, Fata. Bukan karena Fata minim materi, pendidikannya rendah, atau wajahnya di bawah standar. Tetapi justru karena sosok gadis yang hendak dia peristri punya prinsip hidup, terutama benci pada rokok yang lebih banyak mudarat daripada manfaatnya.

Alasan tersebut membuat sang gadis Abdya tidak tertarik pada lelaki perokok. Bagi kebanyakan perempuan, lelaki perokok itu tidak bisa diyakini mencintai dan menyayangi istri sepenuhnya. Toh, terhadap dirinya sendiri saja belum ada bukti cinta. Hal ini terbukti dengan masih banyak pria dan para suami ketagihan rokok, padahal kandungan racun (nikotin) pada rokok dapat merusak tubuh secara perlahan-lahan.

Ternyata, pemuda kelahiran Lhokseumawe itu bukan semata ditolak oleh wanita idamannya, melainkan niat lamarannya dihalang total oleh seluruh keluarga si perempuan. Kedua orang tua perempuan sangat gencar mengingatkan putrinya agar tidak menerima cinta dari pemuda perokok, sebab ayah dan ibunya tak akan pernah membuka keran bagi lelaki pecandu rokok. Apalagi memberikan tanggung jawab anaknya pada pria yang hobi isap asap. Tentu bukan keputusan bijak.

Hati siapa yang tidak hancur lebur, bila niat berumah tangga dengan orang idaman seakan pupus di tengah jalan. Ternyata, tolakan atas niat lamaran tidak membuat pemuda Lhokseumawe itu patah arang. Ia malah bangkit untuk membuktikan bahwa dirinya bisa menjadi seperti harapan keluarga sang gadis. Baginya, setiap masalah ada solusinya. Karenanya, ia_haqqul yakin_ punya solusi untuk masalah cintanya. Benar saja kata pepatah, “Banyak jalan menuju Roma.”

Sebelum menyatakan niat meminang pada gadis Abdya, Fata memang lelaki yang mampu menghabiskan sebungkus rokok tiap harinya. Terkadang ia butuh dua bungkus rokok per hari. Dalam bahasa remaja, _”samboeng puteng”. Bisa dibayangkan tingkat kecanduannya pada rokok. Menghabiskan sebungkus rokok serasa jadi kewajiban baginya lantaran telah jadi kebutuhan dasar. Ditambah lagi pecinta kopi kental plus pahit, hanya sedikit saja rasa manisnya.

Kita tahu bagaimana dampak buruk rokok bagi kesehatan dan stabilitas ekonominya. Saya tak ingin menyebut efek negatif rokok, sebab sudah banyak sosialisasi dan peringatan bahaya rokok bagi kesehatan, seperti terlihat di bungkus rokok.

Memang tidak salah kata orang, “cinta itu perlu pengorbanan dan pembuktian”. Ketika hati yakin akan melamar wanita idaman, pemuda Lhokseumawe itu pun langsung gantung kotak rokok (berhenti merokok). Istilah_samboeng puteng_ sudah ia kuburkan.

Prinsip yakin, dan atas nama cinta, pemuda yang kepincut bunga dari Abdya tersebut memutuskan untuk lari dari jeratan rokok. Ia mulai melangkah cepat, bukan merangkak, artinya ia berhenti merokok secara totalitas. Bukan berhenti mengurangi jumlah rokok per hari. Tetapi tidak menyetuh lagi setengah batang rokok pun setiap hari.

Biasanya, para aktivis kesehatan mengajarkan tip dan trik berhenti merokok dengan mengurangi konsumsi rokok. Jika sehari sebungkus, kurangi jadi setengah bungkus hingga mencapai titik tidak ketagihan lagi pada rokok.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved