Citizen Reporter

Sungai Nil, Saksi Bisu Peradaban Mesir Kuno

Sungai Nil adalah sungai terpanjang di dunia yang bersumber dari Pegunungan Kilimanjaro dan bermuara

Sungai Nil, Saksi Bisu Peradaban Mesir Kuno
IST
AFKAR, alumnus Dayah Modern Yapena Lhokseumawe, Mahasiswa Darul Lughah Markas Syekh Zayed Center, Al-Azhar University, melaporkan dari Kairo, Mesir

OLEH AFKAR, alumnus Dayah Modern Yapena Lhokseumawe, Mahasiswa Darul Lughah Markas Syekh Zayed Center, Al-Azhar University, melaporkan dari Kairo, Mesir

Sungai Nil adalah sungai terpanjang di dunia yang bersumber dari Pegunungan Kilimanjaro dan bermuara di Laut Tengah. Sungai Nil melewati empat negara, yaitu Uganda, Sudan, Ethiopia, dan Mesir. Tapi, tampaknya Negeri Kinanahlah yang paling banyak mengambil keuntungan dari sungai ini.

Dari panjangnya 6.650 km, hanya 22% bagian sungai yang melewati Mesir. Di antara kota di Mesir yang dialiri Sungai Nil adalah Kairo, Aswan, Karnak, Thebes, dan Alexandria. Sungai Nil menjadi penopang kesuburan tanah Mesir dan menjadi saksi bisu peradaban kuno bangsa Mesir ribuan tahun Sebelum Masehi (SM).

Pusat Sungai Nil di kawasan Kota Kairo sendiri terletak di wilayah Tahrir. Tahrir merupakan kota pemerintahan negara Mesir. Banyak bangunan pencakar langit yang memperindah estestika wilayah ini. Di wilayah ini pula terletak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI).

Dalam reportase singkat ini, saya ingin berbagi pengalaman ketika berwisata ke Sungai Nil. Setelah memberikan hak pilih di KBRI, kami beberapa mahasiswa Aceh memutuskan untuk jalan-jalan menelusuri Sungai Nil. Di tepian sungai ini banyak sekali muda-mudi yang berlalu lalang, Mereka menghabiskan waktu sore sambil menunggu matahari terbenam di tepian Sungai Nil. Di sekitar Sungai Nil juga banyak pemuda yang menawarkan kepada turis untuk naik perahu. Perahu yang bermuatan sekitar 50 orang ini akan membawa kita mengitari Sungai Nil sambil menikmati keindahannya, diiringi alunan musik Arab yang diputar sekeras-kerasnya. Bayarnya sekitar 35 pound Mesir (sekitar Rp 35.000). Setelah duduk santai dan berfoto ria kami putuskan untuk naik perahu.

Sambil menikmati keindahan Sungai Nil dari dalam perahu, saya jadi teringat kisah Khalifah Umar ibn Khattab tentang Sungai Nil ketika Islam sudah menaklukkan Negeri 1.000 Menara ini. Konon, ketika memasuki musim panas Sungai Nil akan mengering. Untuk membuatnya berair kembali penduduk Mesir hendak mempersembahkan seorang gadis tercantik dengan dandanan terbaik sebagai tumbal untuk Sungai Nil. Nah, ketika Mesir sudah ditaklukkan, penduduk Mesir ingin melakukan kembali tradisi tersebut, tapi dilarang oleh Amr bin Ash yang menjabat Gubernur Mesir kala itu. Maka Amr bin Ash melaporkan masalah ini kepada Khalifah Umar.

Sang Khalifah membalas melalui secarik surat yang diperintahkannya untuk dilemparkan ke dalam Sungai Nil. Kertas tersebut berisi tulisan dari Khalifah Umar untuk Sungai Nil: Jika kamu mengalir karena dirimu sendiri maka jangan mengalir. Namun, jika Allah Yang Maha Esa dan Mahaperkasa yang mengalirkanmu maka kami mohon kepada Allah yang Maha Esa dan Mahaperkasa untuk membuatmu mengalir.

Pagi harinya, ternyata Allah telah mengalirkan Sungai Nil enam belas hasta dalam satu malam. Hingga kini Sungai Nil tetap mengalir dan tak pernah kering lagi.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved