Opini

Ramadhan dan Gairah Politik

TANPA terasa, bulan suci Ramadhan kembali menyapa kita. Maka bergembiralah kita sebagai hamba pilihan yang masih

Ramadhan dan Gairah Politik
IST
Abd. Halim Mubary, M.Kom.I, Dosen Komunikasi dan Penyiaran Islam, IAI Al-Aziziyah Samalanga dan penghulu pada KUA Kecamatan Makmur, Bireuen

Oleh Abd. Halim Mubary, M.Kom.I, Dosen Komunikasi dan Penyiaran Islam, IAI Al-Aziziyah Samalanga dan penghulu pada KUA Kecamatan Makmur, Bireuen.

TANPA terasa, bulan suci Ramadhan kembali menyapa kita. Maka bergembiralah kita sebagai hamba pilihan yang masih diberikan kesempatan oleh Allah Swt untuk menjalani kewajiban ibadah puasa Ramadhan tahun ini. Ibarat para pelanggan yang selalu menanti datangnya diskon besar-besaran di pusat perbelanjaan atau pasar murah yang digelar bagi rakyat kecil dan fakir miskin, karena harga-harga yang ditawarkan jauh lebih miring dibandingkan hari-hari biasanya. Maka kita akan memborong sebanyak mungkin barang kebutuhan sesuai dengan isi kantong masing-masing.

Bulan Ramadhan juga telah Allah janjikan berupa limpahan pahala ibadah dengan ketinggian derajat yang luar biasa. Bukan hanya memberikan diskon besar-besaran, namun juga garansi bagi hamba-hamba-Nya berupa kenikmatan surga dan membebaskan para hamba-Nya dari api neraka, sebagaimana sabda Rasulullah saw, “Barang siapa bergembira dalam menyambut bulan Ramadhan, maka Allah akan haramkan tubuhnya dari api nereka.” (HR Baihaqi). Bukan hanya itu, di bulan Ramadhan juga banyak terkandung kelebihan, seperti adanya shalat tarawih dan malam lailatul qadar.

Untuk itu, sudah seharusnya kita memersiapkan diri sebaik mungkin dalam menyambut tamu Allah ini. Ramadhan bukan saja sekadar bulan ritual biasa. Namun Ramadhan juga sebagai sandaran kita untuk lebih banyak beribadah dan beramal semaksimal mungkin. Sehingga kita tidak lagi lalai dan menganggap Ramadhan sebagai rutinitas tahunan semata. Maka sudah sepantasnya jika ritualitas ibadah menjadi lebih berwarna dibandingkan hari-hari lalu.

Kita juga harus berada dalam perjalanan untuk menuju keindahan ukhrawi, dan sejenak melupakan hiruk-pikuk politik yang sedang berada memanas pascapemilu. Karena di bulan suci inilah Allah Swt akan melipat-gandakan pahala ibadah puasa bagi para hamba-Nya yang bertakwa, guna mencapai insan yang muttaqin (la’allakum tattaqun). Karena takwa merupakan puncak ibadah yang ingin digapai dalam puasa Ramadhan.

Sebagai menusia yang bertakwa, kita sebaiknya dapat mengamalkan semua tuntunan dan tuntutan yang digariskan oleh Allah dan Rasul. Selain memperbanyak nilai ibadah kepada Allah, juga sebagai sarana kita untuk melihat ceruk dan relung hati kita, mana yang selama ini masih belum kita bersihkan. Ada dua jenis ibadah dalam bulan Ramadhan, yaitu hablum minallah dan hablum minannas. Artinya, ibadah kita bukan hanya vertikal semata (dengan Allah), namun juga secara horizontal (sesama manusia).

Ibadah rahasia
Selain ibadah individual, dalam bulan Ramadhan kita juga seyogyanya dapat menjalin ibadah sosial dengan sesama. Seperti menyumbangkan bekal berbuka puasa kepada kaum muslimin, menyantuni anak yatim dan fakir miskin. Atau menjenguk para janda dan kaum papa lainnya yang butuh uluran tangan kita. Di sini kita juga diingatkan Allah untuk selalu mengingat mereka yang selama ini kehidupannya selalu berkekurangan. Ada yang sehari hanya mampu makan sekali karena tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup. Sehingga ketika bulan Reamadhan, maka semuanya akan merasakan kelaparan dan kehausan. Ada kebersamaan baik dalam menahan lapar, bersahur, dan hingga berbuka. Seorang Sayyid Husain Al’Affani dalam karyanya Nidaa-u Rayyan, fi fiqhi Shaumi wa Fadhli Ramadhan menyebutkan, tujuan utama dan terpenting dari Ramadhan adalah apa yang dapat kita petik dari hikmah puasa dan bagaimana mewujudkannya dalam realitas kehidupan kesehariannya. Sebagai seorang hamba Allah, kita hendaknya dapat memperbaiki diri, sehingga menjadi lebih baik dibandingkan pada hari sebelum Ramadhan. Hidup secara ikhlas lahir batin dalam menjalankan ibadah puasa. Karena keikhlasan sangat berpotensi untuk diwujudkan dalam ibadah puasa, sehingga menjadi pintu gerbang ‘ibadatus-sirr (ibadah rahasia) yang hanya Allah dan hamba yang menjalaninya saja yang tahu seseorang berpuasa atau tidak.

Allah Swt mengganjar pahala besar bagi orang yang mengerjakan puasa dengan ikhlas. “Setiap amalan bani Adam akan dilipatgandakan pahalanya, kecuali puasa. Sesungguhnya itu milik-Ku dan aku akan memberikan balasannya kelak.” (HR. Muslim).

Keikhlasan merupakan salah satu datangnya pintu pertolongan dari Allah kepada hamba-hamba yang dapat menjalani puasa secara ikhlas. Kita dapat berbohong kepada siapa saja, bahkan dalam keluarga sekalipun, tidak akan ada yang tahu kalau kita sebenarnya sedang tidak berpuasa. Karena di depan orang kita kelihatan sama saja. Sama-sama tidak makan dan minum pada siang hari. Namun Allah Maha Tahu atas segala yang dikerjakan oleh hamba-Nya.

Sebuah alamalan akan kehilangan maknanya ketika manusia telah melanggar dan menyalahi aturan Allah. Dengan melanggar semua aturan (Alquran dan sunnah) maka jangan harap kita akan memperoleh la’allakum tattaqun pada penghujung Ramadhan. Bahkan mungkin akan mendapatkan ganjaran dosa yang membawa kita jauh dari hamba yang bertakwa (QS. al-Baqarah: 183). Karena sesungguhnya ibadah puasa yang kita kerjakan tersebut merupakan landasan kuat sebagai pembentuk nilai takwa.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved