Opini

Manusia dan Sampah

MANUSIA dan sampah tidak bisa dipisahkan. Manusia selalu menghasilkan sampah; di mana ada kerumunan dan keramaian

Manusia dan Sampah
IST
dr. Aslinar, Sp.A, M.Biomed, Ketua Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana PW Aisyiyah Aceh, dan Wakil Ketua Forum PRB Aceh.

Oleh dr. Aslinar, Sp.A, M.Biomed, Ketua Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana PW Aisyiyah Aceh, dan Wakil Ketua Forum PRB Aceh.

MANUSIA dan sampah tidak bisa dipisahkan. Manusia selalu menghasilkan sampah; di mana ada kerumunan dan keramaian pasti akan bertumpuk sampah. Semua rumah tangga menghasilkan sampah setiap harinya. Mulai dari bangun tidur sampai tidur kembali kita menghasilkan sampah. Semua kegiatan yang kita lakukan selalu menghasilkan sampah, baik kegiatan kecil maupun besar.

Pada saat rapat skala kecil, saat ada pertemuan besar atau kegiatan seminar juga acara yang menghadirkan banyak peserta misalkan senam masal atau kegiatan kampanye politik, kegiatan demonstrasi, di pasar, lokasi wisata, terminal atau apapun acara yang menghadirkan massa maka dapat dipastikan sampah akan menumpuk. Mulai dari kertas, tissue, gelas/botol plastik, bahkan sampah berupa pampers bayi, juga kaleng minuman plus pembungkus makanan. Belum lagi sampah puntung rokok yang berserakan.

Berdasarkan data, jumlah sampah yang dihasilkan di Indonesia secara keseluruhan mencapai 175.000 ton per hari atau 0,7 kg per orang per hari. Di Banda Aceh, setiap harinya produksi sampah mencapai 230 ton. Angka ini belum termasuk sampah yang dibuang sembarangan dan lokasi lain selain tempat pembuangan sampah. Indonesia termasuk negara penghasil sampah plastik kedua terbesar di dunia setelah Cina. Diprediksikan pada 2019 ini, produksi sampah di Indonesia akan mencapai 67,1 juta ton per tahun.

Harus dibuang
Sampah (refuse) adalah sebagian dari sesuatu yang tidak dipakai, tidak disenangi atau sesuatu yang harus dibuang, yang umumnya berasal dari kegiatan yang dilakukan oleh manusia (termasuk kegiatan industri), tetapi bukan biologis (karena human waste tidak termasuk di dalamnya) dan umumnya bersifat padat (Azwar, 1990). Definisi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti sampah adalah barang yang dibuang oleh pemiliknya karena tidak terpakai lagi atau tidak dinginkan lagi, misalnya kotoran, kaleng minuman, daun-daunan, kertas, dan lain-lain. Sumber sampah bisa bermacam-macam, di antaranya adalah dari rumah tangga, pasar, warung, kantor, bangunan umum, industri, dan jalan.

Mengapa produksi sampah sangat banyak? Hal tersebut tidak terlepas dari perilaku kita sebagai masyarakat yang tidak bijak dalam keseharian. Perilaku membuang sampah sembarangan, perilaku menggunakan bahan yang berimbas pada dihasilkannya sampah yang tidak bisa didaur ulang. Berdasarkan komposisi kimianya, maka sampah dibagi menjadi sampah organik dan sampah anorganik. Penelitian mengenai sampah padat di Indonesia menunjukkan bahwa 80% merupakan sampah organik, dan diperkirakan 78% dari sampah tersebut dapat digunakan kembali.

Permasalahan sampah yang utama saat ini adalah produksi sampah plastik yang sangat banyak. Sampah ini sangat berbahaya karena sukar terurai. Butuh waktu yang sangat lama (puluhan, bahkan ratusan tahun) untuk membuat sampah plastik tersebut bisa terurai. Dampak negatifnya sangat mengerikan, yaitu berupa tercemarnya air tanah dan tanah, kantong plastik akan mengganggu penyerapan air ke dalam tanah. Membuang sampah plastik sembarangan akan mengakibatkan terjadinya pendangkalan sungai dan aliran sungai tersumbat yang menyebabkan banjir serta sampah tersebut mengakibatkan menurunnya kesuburan tanah.

Indonesia penjadi negara penghasil sampah plastik kedua terbanyak di dunia. Aceh juga termasuk juara dalam hal produksi sampah plastiknya. Bahkan rilis video terbaru dari BBC menunjukkan banyaknya sampah plastik yang tersebar di pantai yang ada di Aceh. Suatu hal yang memalukan bagi kita tentunya apalagi Aceh yang sudah menjalankan syariat Islam seharusnya kebersihan juga selayaknya diperhatikan dengan baik.

Bagaimana caranya menyiasati masalah sampah ini? Tentunya perlu keterlibatan semua pihak. Kota Banda Aceh sudah mengeluarkan Qanun No.1 Tahun 2017 tentang Pengelolaan Sampah. Dalam qanun tersebut disebutkan tentang pengurangan sampah berupa pembatasan timbunan sampah, pendaur ulang sampah dan pemanfaatan kembali sampah.

Saya sangat setuju dengan kebijakan pemerintah mengeluarkan aturan kantong plastik berbayar. Diharapkan dengan aturan itu, penggunaan kantong plastik sedikit bisa dikurangi. Akan tetapi hal tersebut hanya berlaku bila kita berbelanja di supermarket atau swalayan tertentu saja. Tidak berlaku sama sekali bila kita berbelanja di warung kecil, pasar tradisional ataupun toko toko kelontong lainnya.

Fatwa MUI
Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) No.47 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Sampah untuk Mencegah Kerusakan Lingkungan, menetapkan ketentuan hukum sebagai berikut: 1). Setiap muslim wajib menjaga kebersihan lingkungan, memanfaatkan barang-barang gunaan untuk kemaslahatan serta menghindarkan diri dari berbagai penyakit serta perbuatan tabdzir dan israf. Tabdzir adalah menyia-nyiakan barang/harta yang masih bisa dimanfaatkan menurut ketentuan syar’i ataupun kebiasan umum di masyarakat. Israf adalah tindakan yang berlebih-lebihan, yaitu penggunaan barang/harta melebihi kebutuhannya.

2). Membuang sampah sembarangan dan/atau membuang barang yang masih bisa dimanfaatkan untuk kepentingan diri maupun orang lain hukumnya haram. 3). Pemerintah dan Pengusaha wajib mengelola sampah guna menghindari kemudharatan bagi makhluk hidup. 4). Mendaur ulang sampah menjadi barang yang berguna bagi peningkatan kesejahteraan umat hukumnya wajib kifayah.

Sebagai manusia dan hamba Allah, sudah sepatutnya kita ikut menjaga lingkungan. Memelihara lingkungan adalah amanah Allah dan tanggung jawab manusia sebagai khalifatullah fil ardl. Manusia merupakan bagian dari alam, manusia mempunyai peran atau tugas khusus yakni sebagai khalifah, atau wakil Allah dan pemimpin di bumi (QS. Al-An’am: 165). Dalam ayat lain, Allah berfirman, “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya.” (QS. Al-A’raf: 7).

Allah Swt juga berfirman, “Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan.” (QS. al-Syuara’: 183). Memelihara lingkungan sama wajibnya dengan memelihara kehidupan dan sebaliknya. Mengelola lingkungan bagian dari ibadah dan memenuhi tugas dan fungsi sebagai khalifah (QS. Al-Baqarah: 30). Sikap dan perilaku terhadap lingkungan sesungguhnya menunjukkan kualitas iman seseorang.

Nah, mari mulai dari diri kita pribadi dan juga keluarga tentunya untuk bisa meminimalisir produksi sampah terutama sampah plastik. Mulailah dari sekarang hal hal kecil ini, Insyaa Allah kita akan terbiasa sehingga sampah plastik maupun sampah lainnya terutama bisa kita kurangi. Bumi sudah semakin tua, sayangi dia dengan perilaku baik kita. Sanggup? Insya Allah! (ummihirzi@gmail.com)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved