Opini

‘Risywah’ dan Marwah Ternoda

MEMBACA artikel “Transaksi Jabatan di Negara Demokrasi” oleh Dr Sri Rahmi MA (Serambi, 11/4/2019), membuat saya tergelitik

‘Risywah’ dan Marwah Ternoda
IST
Saifuddin A. Rasyid, Akademisi FAH UIN Ar-Raniry, pemerhati community development, tinggal di Barabung, Darussalam, Aceh Besar

Oleh Saifuddin A. Rasyid, Akademisi FAH UIN Ar-Raniry, pemerhati community development, tinggal di Barabung, Darussalam, Aceh Besar.

MEMBACA artikel “Transaksi Jabatan di Negara Demokrasi” oleh Dr Sri Rahmi MA (Serambi, 11/4/2019), membuat saya tergelitik untuk melirik ke satu fenomena sosial yang masif dan selalu berulang. Dalam tulisannya itu, Dr Sri Rahmi menyoroti secara komprehensif betapa untuk mendapatkan jabatan orang rela membayar, cara yang tidak “bermoral”, melawan hukum, bahkan menentang norma agama.

Satu faktor mengapa orang rela menyogok baik dengan uang maupun barang atau jasa (sembako, mukena, proyek) tulisnya, adalah karena Indonesia telah mengalami krisis kepemimpinan, calon pemimpin tidak berkapasitas. Sudah sulit orang bersaing secara alami untuk mendapatkan jabatan yang dikehendaki, dan ini menurutnya telah menjadi kejadian luar biasa (KLB), kronis dan memprihatinkan.

Tapi pertanyaannya mengapa di negara-negara yang diklaim demokratis yang para calonnya berkapasitas, seperti Amerika Serikat, praktik transaksi seperti itu juga masih dilakukan? Ini menurut saya mesti ada faktor lainnya, yaitu kecanduan. Memimpin dan menjabat adalah candu, dan menyogok untuk mendapat jabatan yang diinginkan adalah candu lainnya. Hanya “pil anti-candu” yang dapat menghentikan kecanduan itu.

Belum lama terjadi, cakrawala moral dan norma Indonesia baru kembali goncang. Yaitu dengan isu jual-beli jabatan di lingkungan Kementerian Agama (Kemenag) RI. Isu yang tumpah ruah ke ruang publik itu masif menyusul penangkapan Romy (Romahurmuzi) melalui operasi tangkap tangan (OTT) pada 15 Maret 2019 di satu hotel di Surabaya (Serambi, 16/3/2019).

Diduga Romy menjadi pelaku utama kasus itu. Walau masih dugaan tapi seperti bensin yang tumpah ke hamparan kering isu itu menjalar secara cepat ke segala arah. Menyambar beberapa sasaran dan membuat “sakit perut” beberapa lainnya, karena namanya berpotensi dapat terseret ke kasus Romy yang dalam waktu dekat mulai bergulir di pengadilan.

Kasus tersebut bahkan sempat menyeret nama PPP sebagai satu partai Islam besar, partainya ulama, yang telah sangat terukur kredibilitasnya dan berjasa mengawal moral bangsa sejak lama. Beruntung shareholders PPP cepat mengambil langkah memecat sang ketua kala itu, untuk memisahkan partai dari efek pribadi Romy. Juga menyeret nama mulia lembaga pendidikan tinggi Islam, UIN dan IAIN.

Suap atau sogok
Rasuah --seringkali disejajarkan pada korupsi, meskipun pada dasarnya hanya merupakan bagian dari korupsi-- adalah satu terminologi dari istilah Arab, risywah yang berarti suap atau sogok. Dalam istilah Inggris dikenal graft, yaitu praktik memberikan sesuatu (biasanya uang) untuk meraih keuntungan secara tidak sah (illicit advantages). Dari sini kemudian (mungkin) berkembang istilah gatifikasi (gratification) yang berarti uang hadiah untuk menimbulkan kepuasan atau kegembiaraan (John M. Echols dan Hassan Shadily).

Terkait dengan risywah, Ibnu Hajar al ‘Asqalani dalam kitabnya Fath Al Baari menukil perkataan Ibnu al ‘Arabi ketika menjelaskan tentang makna risywah atau suap-menyuap sebagai suatu harta yang diberikan untuk membeli kehormatan atau kekuasaan bagi yang memilikinya, guna menolong atau melegalkan sesuatu yang sebenarnya tidak halal.

Senada dengan itu MUI memberikan pengertian risywah (suap) adalah pemberian yang diberikan oleh seseorang kepada orang lain, atau pejabat, dengan maksud meluluskan suatu perbuatan yang batil (tidak benar secara syar’i) atau membatilkan perbuatan yang hak. Sementara Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI edisi 2008) menyebutnya rasywah, yaitu tergolong nomina (kata benda) yang berarti pemberian untuk menyogok (menyuap), uang sogok (suap).

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved