Opini

Aceh, Brexit, Trump, dan Musabaqah Koaks

MENYANDINGKAN Aceh dengan Brexit dan Trump dalam satu kalimat kelihatannya tidak hanya seperti main-main, namun juga terkesan sombong.

Aceh, Brexit, Trump,  dan Musabaqah Koaks
IST
Prof. Dr. Ahmad Humam Hamid, M.A. Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala.

Prof. Dr. Ahmad Humam Hamid, M.A.
Guru Besar Fakultas Pertanian
Universitas Syiah Kuala.

MENYANDINGKAN Aceh dengan Brexit dan Trump dalam satu kalimat kelihatannya tidak hanya seperti main-main, namun juga terkesan sombong. Apalah artinya sebuah provinsi miskin di ujung Sumatera, dibandingkan dengan cerita sebuah bekas negara adikuasa --Kerajaan Inggris-- yang telah keluar dari persekutuan Uni Eropa dalam satu referendum, keputusan rakyat, Brexit. Aceh juga tidak relevan disandingkan dengan Trump, presiden Amerika Serikat, negara adikuasa abad ke 20 yang kini mulai redup, seiring dengan tampilnya Cina dan sejumlah negara Asia lainnya ke panggung global.

Apa yang membuat Aceh layak disandingkan dengan Brexit dan Donald Trump adalah proses demokratis yang melibatkan keputusan rakyat terhadap perjalanan kehidupan kebangsaan masing-masing; referandum Brexit di Inggris, pilpres di Amerika Serikat, serta pilpres dan pileg di Aceh, Indonesia. Apa yang terjadi di ketiga kasus ini dan membuat relevan adalah karena proses itu terjadi secara demokratis, sangat tergantung, dan dipengaruhi oleh revolusi digital.

Gelombang
informasi baru
Persamaan besar antara Brexit, Aceh, dan Donald Trump adalah hadirnya gelombang informasi baru kepada publik yang tidak membedakan status sosial ekonomi, jenis kelamin, agama, tempat tinggal dan berbagai perangkat indentitas. Apa yang membuat mereka suatu kesatuan adalah “jaringan” besar informasi bebas hambatan via handphone atau komputer.

Bagi Indonesia yang jumlah pengguna internetnya diperkirakan tembus 175 juta pengguna pada 2019, ditambah dengan pengguna handphone-nya pada 2018 sekitar 355.5 juta, dapatlah dibayangkan bagaimana dampak informasi yang akan terjadi. Sementara itu, platform media sosial dengan sebaran terbesar adalah Youtube 88%, Whatsapp 83%, Facebook 80%, Instagram 80%, dan Twitter 52% (Indonesian Digital Report, 2019).

Dalam konteks revolusi informasi, media konvensional yang dahulunya adalah kiblat publik kini telah mengalami stadium senjakala. Banyak koran dan majalah besar dan berpengaruh di dunia, kini sudah gulung tikar. Kalau dulu pembaca yang mencari berita, kini berita yang mencari pembaca, setiap saat, selama 24 jam, di Mall, tempat ibadah, kamar tidur, dan bahkan WC.

Kini, orang dapat tersambung dengan perdebatan live (langsung) “perang dagang” AS-Cina di pertemuan Ekonomi Dunia di Davos, sama halnya dengan akses berita fenomenal “Haji Uma” terpilih berkat kegiatannya “mengunjungi” orang sakit dan “pemurah” untuk rakyat kecil. Telah datang makhluk baru yang bernama “media sosial” yang sedang dan telah merubah tidak hanya landskap, tetapi juga metode, dan bahkan logika pemberitaan.

Persoalan besar hari ini adalah terjadinya “tsunami informasi” yang menerjang apa saja, siapa saja, dan di mana saja. Ketika media konvensional masih digdaya, informasi yang dimiliki publik sangat kurus dan tidak beragam, namun memiliki unsur verifikasi. Akan tetapi pada era digital, informasinya menjadi sangat gemuk, bervariasi, mulai dari berita yang nilai objektivitasnya “24 karat”, sampai kepada berita yang nilainya tidak lebih dari sampah dan nanah yang dibuat dengan seksama.

Ketika masyarakat tersentuh dengan arus informasi digital, masalahnya bukan lagi pada bagaimana berita diperoleh, melainkan lebih kepada kemampuan mencerna informasi yang benar. Hal yang memperparah keadaan adalah, seringkali karena kredibilitas media cetak dan TV sering digerogoti kepentingan elite dan pemilik, memaksa masyarakat mencari informasi alternatif, dan akhirnya memilih media sosial.

Untuk diketahui rata-rata waktu perhari manusia Indonesia menggunakan media sosial melalui perangkat apa pun adalah 3 jam, 26 menit (Indonesian Digital Report, 2019). Kalaulah jumlah waktu tidur manusia Indonesia 8 jam per hari, ini artinya hampir 25% dari kehidupan “meleknya” digunakan untuk berselancar dengan media sosial.

Halaman
12
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved