Salam

Lampu Merah untuk Tuberkulosis di Aceh

Menteri Kesehatan (Menkes) Republik Indonesia, Prof Dr dr Nila F Moeloek SpM-(K) mengatakan, Indonesia saat ini masih dihadapkan pada tantangan

Lampu Merah untuk Tuberkulosis di Aceh
STOP HIV AIDS 

Menteri Kesehatan (Menkes) Republik Indonesia, Prof Dr dr Nila F Moeloek SpM-(K) mengatakan, Indonesia saat ini masih dihadapkan pada tantangan berbagai penyakit menular, di antaranya HIV/AIDS, kusta, dan tuberkolosis (TBC).

Indonesia bahkan tercatat sebagai negara yang jumlah pengidap TBC-nya momor tiga terbanyak di dunia. Aceh sendiri menjadi salah satu provinsi merah yang memiliki penularan TBC tertinggi di negeri ini.

Atas fakta yang demikian, Menkes mengimbau perlunya upaya preventif agar penyakit tersebut tidak menular secara masif. “Harus ada kesantunan dan etika saat batuk, salah satunya dengan menggunakan masker agar kuman TBC tidak berpindah ke orang lain,” kata Menkes saat menyampaikan orasi ilmiah dalam rangka Dies Natalis Ke-37 Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Darussalam, Banda Aceh, Sabtu (27/4), sebagaimana disiarkan Harian Serambi Indonesia, Minggu kemarin.

Rektor Unsyiah, Prof Dr Samsul Rizal mengingatkan juga bahwa alumni fakultas kedokteran merupakan ujung tombak untuk mengatasi permasalahan tersebut. Ia optimis, alumni Fakultas Kedokteran Unsyiah mampu menjawab semua tantangan itu, termasuk menekan angka stunting (badan seseorang jauh lebih pendek dibandingkan tinggi badan orang seusianya -red ) yang di Aceh angkanya juga sangat tinggi. Yakni berada di peringkat ketiga setelah Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi Barat.

Nah, yang namanya TBC maupun stunting –meski yang satu menular, yang satu lagi tidak–toh keduanya sama-sama berdampak pada hilangnya kualitas dan produktivitas hidup sehingga menjadi ancaman serius bagi generasi Indonesia yang bermukim di Aceh. Masa depan mereka bakal suram. Maka diperlukan optimalisasi pola asuh anak, pola makan, serta pembenahan sanitasi, dan air bersih, sebagaimana direkomendasikan Ibu Menkes.

Untuk langkah antisipatif, pertama mari kita sadari bahwa secara nasional persoalan TBC ini memang masalah yang serius. Soalnya, Indonesia adalah negara dengan beban TBC tertinggi ketiga di dunia. Diperkirakan, terdapat 842.000 kasus TBC baru setiap tahunnya dengan angka kematian mencapai 110.000 kasus. Artinya, setiap hari diperkirakan 300 orang meninggal karena TBC.

Kedua, mari kita cermati posisi Aceh. Sejauh ini Aceh masih merupakan salah satu “provinsi merah” yang memiliki penularan TBC tertinggi di negeri ini, seperti pengakuan Menkes. Data di tingkat provinsi pun menunjukkan bahwa jumlah penderita TBC di Aceh bukannya menurun, tapi malah bertambah.

Nah, Dinas Kesehatan Aceh dan kabupaten/kota harus proaktif mencari akar penyebabnya. Bisa saja kasus TB meningkat justru karena semakin bagus pencatatan dan pelaporannya, apalagi target penemuannya terus ditingkatkan dari tahun ke tahun hingga lima tahun ke depan.

Di sisi lain, bisa saja jumlah kasus yang semakin bertambah itu justru karena memang bertambahnya penderita baru. Mereka termasuk ke dalam kelompok 842.000 kasus TBC baru yang bertambah setiap tahunnya.

Oleh karenanya, mencari tahu adanya penderita baru, mengingat Aceh merupakan “provinsi merah” dalam hal penularan TBC, perlu diintensifnya. Bikin data terpilah untuk memastikan mana penderita lama yang baru tercatat sekarang, mana pula penderita yang justru baru terjangkit dalam satu atau dua tahun terakhir.

Memiliki data terpilah seperti ini akan membuat upaya penanganan kasus TBC di Aceh semakin terfokus. Kita juga akan semakin tahu seberapa besar sebenarnya tingkat keberhasilan pengobatan terhadap pasien lama dan seberapa berhasil pula angka penularan dapat ditekan.

Sejalan dengan itu, hal lain yang penting diupayakan adalah segera tingkatkan kesadaran masyarakat dengan deteksi dini, mengingat pengobatan TB lini pertama dengan paduan hrze (pengobatan menggunakan isonoazid, rifampicin, pirazinamide, dan etambutol) adalah langkah paling bakterisidal atau paling ampuh dan paling baik secara biofarmasi dibanding apabila harus menggunakan golongan kedua, apalagi ketiga.

Terakhir, alat baru yang canggih dan efektif untuk mendiagnosis TB, yakni TCM (tes cepat molekuler) harus pula tersebar rata di seluruh kabupaten/kota di Aceh. Dengan demikian, setiap penderita baru akan lebih cepat terdeteksi dan akan lebih cepat pula diberikan penanganan yang semestinya. Seperti halnya HIV/AIDS, penyakit TBC ini pun bisa menyebar luas. Tapi kita harus tetap ingat bahwa kita bisa kena, kita juga bisa cegah.

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved