Jurnalisme Warga

PPS dan KPPS, Kerja Superman Makan Supermie

PENYELENGGARAAN Pemilu serentak 2019 banyak meninggalkan persolaan dan ini harus dievaluasi oleh pemerintah

PPS dan KPPS, Kerja Superman Makan Supermie
IST
ZULKIFLI, M.Kom, Kepala Bagian Humas Universitas Almuslim Peusangan dan Anggota FAMe Chapter Bireuen, melaporkan dari Mesidah, Bener Meriah

Zulkifli, M.Kom.

Dosen Universitas Almuslim dan Panitia Seleksi (Pansel) KIP Bireuen periode 2013-2018 dan 2018-2023, melaporkan dari Bireuen

PENYELENGGARAAN Pemilu serentak 2019 banyak meninggalkan persolaan dan ini harus dievaluasi oleh pemerintah. Pemilu serentak ini telah menambah beban kerja yang cukup berat bagi penyelenggara pemilu di tingkat bawah seperti Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK), Panitia Pemungutan Suara (PPS), dan Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) yang selama ini tidak disadari oleh pembuat kebijakan di tingkat atas.

Pengamatan saya di lapangan, mereka yang PPK, PPS, dan KPPS harus melakukan pekerjaan yang sangat berat, berjibaku siang malam mengawal tempat pemungutan suara (TPS). Banyak dari mereka yang sangat luar biasa lelahnya hingga jatuh sakit, bahkan tak sedikit pula akhirnya meninggal dunia, baik di Aceh maupun di tempat lain di Indonesia, padahal honor yang mereka terima sangatlah minim.

Jumlah PPS di tiap desa tiga orang dan KPPS di setiap TPS tujuh orang, ditambah anggota Linmas, dengan rincian honor mungkin tidak etis saya sebutkan di sini. Para anggota Linmas harus sabar dan mengurut dada, karena ada daerah yang tidak menyediakan atribut linmas, sehingga mereka terlihat seperti warga biasa saja ketika berada di pintu masuk TPS. Padahal, atribut seperti itu sangat perlu untuk membedakan mereka sebagai pengawal keamanan pada ring 1 di setiap TPS.

Sebenarnya pengorbanan dan perjuangan penyelenggara pemilu demi tegaknya demokrasi di negeri ini patut kita beri apresiasi tinggi. Terutama dengan memberikan perhatian sedikit tambahan finansial atau pun perhatian kesejahteraan lain dari bantuan pemerintah daerah.

Menurut informasi dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) sampai 24 April 2019, ada 91 anggota KPPS yang meninggal dunia dan 374 orang sakit saat menjalankan tugas menghitung, merekap, dan proses rekapitulasi hasil Pemilu 2019. Sementara itu, data terbaru di Aceh, ada dua petugas TPS di Aceh yang meninggal dan 47 orang jatuh sakit.

Selain itu, ada 15 anggota kepolisian yang gugur saat bertugas melakukan pengamanan. Sungguh jumlah yang sangat besar untuk sebuah pelaksanaan demokrasi di negera yang aman dan damai ini. Dengan jumlah personel yang sangat terbatas, tetapi tugas mereka yang cukup berat, ditambah ancaman dan rayuan dari para caleg nakal agar mau berbuat curang.

Semua itu merupakan tantangan yang cukup besar bagi penyelenggara pemilu di tingkat kecamatan dan desa dalam mempertahankan semangat kejujuran dan bersikap adil dalam menjalankan tugas. Belum lagi tugas perbaikan data dan terjadinya pemungutan suara ulang (PSU) akan menambah beban kerja. Mereka bekerja penuh tangung jawab tanpa memersoalkan honor yang diberikan.

Sejauh yang saya amati, kebanyakan mereka benar-benar bekerja ala Superman (manusia super), tetapi makannya Supermie (tanpa biaya poding). Kita acungi jempol atas keikhlasan dan pengabdian yang telah ditunjukkan oleh pengawal demokrasi ini, walaupun belum mendapat perhatian dan reward yang wajar dari pemerintah daerah.

Halaman
12
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved