BI Aceh dan Diplomat AS Bahas Perekonomian di Aceh

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Aceh, Zainal Arifin Lubis dan dua diplomat Amerika Serikat (AS) yaitu Konsul Konjen AS di Medan

BI Aceh dan Diplomat AS  Bahas Perekonomian di Aceh
SERAMBINEWS.COM/IDRIS ISMAIL
Kepala BI Aceh, Zainal Arifin Lubis (tiga dari kiri) bersama Bupati Pidie, Roni Ahmad (tiga dari kanan), meninjau ketersediaan sembako di Pasar Pante Tengoh, Sigli, Kamis (19/4/2018). 

BANDA ACEH - Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Aceh, Zainal Arifin Lubis dan dua diplomat Amerika Serikat (AS) yaitu Konsul Konjen AS di Medan, Juha P Salin dan Konselor Ekonomi Kedutaan Besar AS di Jakarta, Andrew Shaw, Jumat (16/4), berkunjung ke Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Aceh.

Dalam kunjungan itu, kedua diplomat tersebut juga diterima oleh Deputy BI Aceh, Teuku Munandar serta Analis BI, Ridwan Sobirin. Kedua diplomat AS ke Kantor BI Aceh disela kegiatan Aceh Internatiobal Businesa Summit and Expo 70th US-Indonesia Diplomatic Relation, yang berlangsung di Banda Aceh Convention Hall, selama tiga hari, (26-28/4).

Dalam keterangan tertulis yang diterima Serambi, Senin (29/4), Kepala BI Aceh, Zainal Arifin Lubis menjelaskan terkait kondisi perekonomian Indonesia dan Aceh. Selain itu, juga dipaparkan potensi-potensi ekonomi yang dimiliki Aceh, terutama dari sektor pertanian, perikanan, dan pariwisata. “Dengan sumber daya alam yang melimpah, Aceh merupakan salah satu tujuan investasi yang menjanjikan di Indonesia,” kata Zainal.

Ia menyebutkan, banyak produk unggulan di Aceh yang belum digarap secara optimal antaranya minyak nilam, rotan, hasil laut, serta sektor pariwisata. Sementara untuk komoditas Aceh yang sudah dikenal dunia seperti kopi, juga masih perlu ditingkatkan produktivitasnya dalam rangka memenuhi permintaan luar negeri.

Lebih lanjut Arifin menyampaikan, saat ini keberadaan industri menengah dan besar di Aceh masih sangat minim, sehingga output yang dihasilkan dari bumi Aceh masih berbentuk bahan baku. Menurutnya, kondisi inilah yang menyebabkan masih tingginya angka pengangguran dan kemiskinan di Aceh.

Dengan masuknya investasi asing, diharapkan dapat menjadikan Aceh sebagai daerah penghasil produk olahan terutama yang berorientasi ekspor atau substitusi impor.

“Hal ini akan memberikan value added dalam kegiatan ekonomi Aceh, dan berdampak terhadap penciptaan lapangan kerja, peningkatan pendapatan masyarakat, serta mendorong pertumbuhan ekonomi Aceh,” sebutnya.

Sedangkan, kedua diplomat AS itu mengatakan bahwa hingga saat ini kehadiran perusahaan asal Amerika di Aceh memang sangatlah sedikit. Hal tersebut disebabkan oleh masih kurangnya informasi mengenai Aceh yang diterima oleh para pengusaha AS.

Umumnya untuk berinvestasi ke suatu daerah, pengusaha AS akan meminta informasi mengenai kondisi daerah tersebut kepada pengusaha AS yang sudah lebih dahulu berinvestasi di daerah itu. “Inilah yang menyebabkan mengapa informasi mengenai Aceh masih kurang didapatkan oleh pengusaha AS, karena minimnya perusahaan AS yang berbisnis di Aceh selama ini,” kataKonsul Konjen AS di Medan, Juha P Salin.

Lebih lanjut Juha, menjelaskan saat ingin berinvestasi, beberapa hal yang menjadi perhatian para investor diantaranya adalah kondisi perekonomian, kebijakan pemerintah setempat, regulasi, isu ketenagakerjaan, keamanan, infrastruktur, serta potensi yang dimiliki.(una)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved