Air Mata Iqbal

Tensi panas tersaji dalam tarung antara tuan rumah Northern Knights melawan tim Aceh dalam lanjutan

Air Mata Iqbal
SERAMBI/IMRAN THAYEB
PETUGAS medis dan Manajer Tim Aceh, Ade Zulfadhli, mendorong Iqbal Sahputra ke dalam ambulans di Stadion Marrara, Darwin, Australia, tadi malam. 

* Northern Knights 2 vs 0 Aceh

DARWIN - Tensi panas tersaji dalam tarung antara tuan rumah Northern Knights melawan tim Aceh dalam lanjutan cabang sepak bola grup B Arafura Games 2019, di Stadion Marrara, Darwin, Australia, tadi malam waktu setempat. Kerasnya duel yang berakhir dengan skor 2-0 untuk kemenangan Northern Knights itu memakan korban.

Betapa tidak, gelandang serang Aceh, Muhammad Iqbal Sahputra, mengalami cedera parah. Bahkan, usai pertandingan, pemain asal Tamiang itu terpaksa harus dibawa ke rumah sakit Darwin. Ketika petugas medis, warga Indonesia di Darwin, plus Manajer Tim Aceh, H Ade Zulfadhli SE mengangkatnya ke dalam ambulans, air mata pemain berkostum 19 itu pun jatuh. Dia mengerang kesakitan menahan sakit di lutut kanannya.

Wartawan Serambi Indonesia, Imran Thayeb, dari Darwin, Australia, tadi malam, melaporkan, insiden itu terjadi saat babak kedua baru berlangsung tujuh menit. Iqbal berhasil mematahkan serangan pemain Northern Knights. Dia dengan cepat mendribble bola ke wilayah tuan rumah. Melihat kondisi itu membahayakan gawangnya, pemain bawah Northern Knights coba menghentikankan laju Iqbal. Ternyata, pemain tuan rumah melakukan tekelan keras di lutut kanan Iqbal dari arah belakang.

Melihat pelanggan keras itu, wasit hanya menyatakan pelanggaran biasa. Bukan hanya kartu kuning, wasit juga sama sekali tak memberikan peringatan keras kepada pemain tuan rumah.

Menyadari wasit berulangkali melakukan kesalahan, Manajer Tim Aceh, H Adek Zulfadhli SE, langsung meminta pemain untuk meninggalkan lapangan pertandingan. Dia langsung memprotes keputusan wasit.

Kecuali itu, Ketua Umum Badan Liga Aceh, Sunardi Saleh bersama ofisial juga ikut memprotes. Bahkan, warga Indonesia di Darwin tak mau ketinggalan. Menyadari dalam posisi tak menguntungkan, wasit langsung kabur ke ruang ganti. Kini, hanya tinggal wasit tunggu dan asisten di lapangan. Duel pun terhenti.

Guna mendinginkan suasana, pengurus sepakbola Northern Territory datang ke bench Aceh. Sontak, kehadirannya dimanfaatkan Zulfadhli untuk kembali memprotes keputusan pengadil.

Menerima protes dari kubu Tanah Rencong, pengurus sepakbola Northern Territory menyatakan dia akan mengawasi kinerja wasit dari pinggir lapangan. Keputusan itu diterima dan laga dilanjutkan.

Aksi protes kubu Aceh terhadap buruknya kepemimpinan wasit, memaksa tarung dengan tuan rumah Northern Knights dalam lanjutan cabang sepak bola grup B Arafura Games 2019, di Stadion Marrara, Darwin, Australia, tadi malam waktu setempat, terhenti selama 20 menit. Anehnya, saat pertandingan dilanjutkan kembali, wasit hanya memimpin 10 menit lagi dan kemudian ia langsung mengakhiri duel tersebut.

Manajer Tim Aceh, H Ade Zulfadhli SE, sangat kecewa dengan panitia Arafura Games dan wasit. “Kita diundang untuk mengirim tim berusia 17 tahun. Sementara klub lokal mendaftar pemain berusia bebas. Tentu saja tidak seimbang,” kritiknya seperti dilaporkan wartawan Serambi Indonesia, Imran Thayeb, dari Darwin, Australia, tadi malam.

Dari peserta Arafura Games yang berlaga di cabang sepak bola, lanjutnya, hanya tiga tim yang memenuhi persyaratan seperti undangan panitia. Ketiga tim itu adalah Timnas Timor Leste, Timnas Cina Makao, dan Aceh. Sementara tim lokal diisi pemain liga dan marinir.

Zulfadli menyebutkan, akibat ketidakprofesional panitia dan wasit, dua pemain Aceh mengalami cedera parah. Mereka adalah Ilham Mahfuzulillah ketika melawan Indigenous Roos, Australia, dan Iqbal saat menghadapi tuan rumah Northern Knights. “Panitia dan wasit benar-benar tak sportif,” ungkapnya kecewa.(*)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved