Jurnalisme Warga

Perjuangan Mengikuti Kemah Literasi di Sumut  

Saya sangat ingin mengikuti kegiatan berskala nasional ini karena orientasinya bagus untuk pengembangan FAMe

Perjuangan Mengikuti Kemah Literasi di Sumut   
IST
YELLI SUSTARINA, alumnus Fakultas Keperawataan Universitas Syiah Kuala, Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) melaporkan dari Medan, Sumatera Utara

OLEH YELLI SUSTARINA, alumnus Fakultas Keperawataan Universitas Syiah Kuala, Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) melaporkan dari Medan, Sumatera Utara

“Pak, Yel tidak jadi ikut Kemah Literasi,” ujar saya kepada Yarmen Dinamika, Pembina Forum Aceh Menulis (FAMe).

“Lo, kenapa?” jawabnya yang heran atas keputusan saya.

Padahal, empat hari sebelumnya saya begitu bersemangat mengabarkan atas kelulusan saya dalam seleksi Kemah Literasi yang diadakan Indonesia Melek Media (IMMedia) di Kota Medan, Sumatera Utara (Sumut), pada 25-28 April 2019. Kegiatan ini tidak ditanggung panitia biaya keberangkatannya dan justru pesertalah yang harus investasi dengan membayar sejumlah uang untuk biaya pendaftran.

Saya sangat ingin mengikuti kegiatan berskala nasional ini karena orientasinya bagus untuk pengembangan FAMe ke depan sebagi komunitas yang fokus terhadap literasi di Aceh. Oleh sebab itu pula saya mendaftarkan diri atas nama FAMe. Namun, karena acaranya dibuat pada akhir bulan, di tengah kondisi keuangan saya yang saat itu sedang menipis, maka saya batalkan untuk ikut serta dalam kegiatan penting ini.

Uang yang saya simpan untuk keberangkatan ke Medan sebelumnya saya gunakan untuk pulang ke kampung halaman saya, Aceh Selatan, untuk bisa ikut pemilu. Sebenarnya saya bisa saja mencoblos di Banda Aceh dengan meminta keterangan form A5, tapi ibu meminta saya pulang untuk memilih di kampung karena pascanikah bulan Februari lalu, saya belum pernah pulang. Akhirnya duit itu terpakai untuk biaya pulang kampung yang jumlahnya sama dengan biaya ke Medan dari Banda Aceh.

Sebenarnya, saya bisa saja memanfaatkan momen pemilu dengan menerima uang dari beberapa calon legislatif (caleg) yang mengandalkan praktik politik uang untuk membeli suara pemilih. Bahkan ada beberapa tim sukses (timses) caleg yang menawarkan uang dengan jumlah lumayan besar kepada saya, tapi saya tolak.

Bila orang di sekitar saya menjadikan momen itu sebagai ‘aji mumpung’ untuk mengumpul rupiah, biarlah mereka saja yang bersikap begitu. Tapi saya memilih untuk tidak terlibat di dalamnya. Sudah menjadi rahasia umum waktu pemilu lalu bahwa praktik uang begitu menjamur di daerah saya. Namun, saya tetap memegang prinsip bahwa suara saya independen dan tak perlu dibeli.

Akhirnya ketika balik ke Banda Aceh saya hanya menyisakan beberapa lembar uang lima puluhan ribu yang cukup untuk ongkos mobil dan biaya makan. Sedangkan honorarium menulis dan kerja paruh waktu saya baru keluar awal bulan Mei. Mencari pinjaman pun juga sulit karena kondisinya di akhir bulan, makanya saya putuskan untuk membatalkan ikut acara Kemah Literasi tersebut.

Orang baik
“Kalau begitu, FAMe akan tanggung semua biaya pendaftaran Yelli. Untuk transportasi, Yel bisa naik bus saja dan uangnya coba pinjam di pegadaian dulu karena jangka waktunya sebentar. Dulu saat saya kuliah, ketika orang tua saya telat mengirimkan uang belanja maka pegadaianlah solusinya,” ujar Yarmen kepada saya. Ia juga mengomunikasikan di grup WhatsApp FAMe perihal kendala finansial yang sedang saya hadapi. Rupanya ada teman yang berbaik hati mengirimkan sejumlah uang kepada saya untuk keberangkatan ke Medan.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved