Jurnalisme Warga

Manado, Kota Tinutuan yang Eksotik

SETELAH menempuh perjalanan udara selama lebih kurang 15 jam dari Banda Aceh dengan dua kali transit

Manado, Kota Tinutuan yang Eksotik
IST
DR. SRI RAHMI, M.A., Dosen MPI UIN Ar-Raniry, Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe), melaporkan dari Kota Manado

OLEH DR. SRI RAHMI, M.A., Dosen MPI UIN Ar-Raniry, Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe), melaporkan dari Kota Manado

SETELAH menempuh perjalanan udara selama lebih kurang 15 jam dari Banda Aceh dengan dua kali transit, Medan dan Jakarta, akhirnya pesawat yang membawa saya mendarat di Bandar Udara Sam Ratulangi Manado. Kehadiran saya di Manado kali ini adalah memenuhi undangan untuk dua kegiatan. Hari pertama saya diminta menjadi narasumber pada kegiatan kuliah tamu di Aula Pascasarjana IAIN Manado. Sedangkan pada hari berikutnya menjadi presenter dan memberi sambutan pada acara pembukaan The 2nd Annual Conference of Islamic Education Management yang berlangsung di Hotel Peninsula Manado.

Kota yang dikenal sebagai kantong Kristen ini, saat saya hadir sedang dalam perayaan Paskah sehingga sepanjang jalan dari bandara menuju hotel, saya saksikan suasana religius yang sangat kental. Sepanjang jalan dihiasi oleh lampu berlambang salib yang didominasi warna violet.

Sesi yang paling menyenangkan setiap melakukan rihlah akademik ke wilayah Indonesia adalah saat jadwal city tour tiba. Saya dibawa panitia mengelilingi setiap sudut eksotik yang ada di Manado: Tomohon, Tondano dan Minahasa. Jika biasanya kita menikmati sunset di bibir pantai menghadap lautan lepas maka saat di Manado saya menikmati sunset di ujung Danau Linow. Danau yang berada di daerah Tomohon ini berjarak lebih kurang satu jam dari Kota Manado. Merasakan semilir angin pegunungan lokon yang berada di sisi danau sambil menikmati kopi khas Manado ditemani goreng pisang yang dimakan dengan sambal (cara masyarakat Manado menikmati pisang goreng) membuat rasa lelah saya—setelah seharian beraktivitas—hilang entah ke mana.

Tak ingin rasanya beranjak dari tempat duduk saya, namun kawan yang menemani saya mengingatkan bahwa malam sudah larut dan kita harus meninggalkan danau. Saat itu mata saya masih sangat bersahabat karena jam di tangan masih menunjukkan pukul 21.00 WIB. Teman mengingatkan bahwa saya belum mengubah waktu jam tangan saya karena Manado masuk wilayah Waktu Indonesia Tengah (WITA), sehingga memiliki selisih waktu dengan Aceh satu jam. Namun, dalam keadaan yang sudah lelah, sebelum kembali ke hotel saya masih menyempatkan diri untuk shalat Isya sejenak di Masjid Kiai Modjo di daerah Tondano. Ini salah satu masjid besar di wilayah Manado. Masjid ini juga sangat membantu wisatawan muslim untuk melaksanakan ibadah wajibnya karena memang sangat sulit bagi saya menemukan masjid di wilayah Tomohon dan Tondano.

Selain mengunjungi Danau Linow, saya juga menyempatkan diri berwisata ke pulau yang sudah terkenal seantero dunia. Pulau itu berjarak 45 menit dari Kota Manado yang ditempuh dengan kapal penyeberangan yang telah dipersiapkan bagi para wisatawan domestik maupun mancanegara. Nama pulau tersebut adalah Bunaken yang bersebelahan dengan Pulau Siladen. Saya bahagia sekali karena cuaca sangat mendukung perjalanan saya. Dengan ditemani seorang guide (pemandu wisata), saya banyak mendapatkan informasi penting tentang Bunaken dan Siladen.

Dari cerita sang guide-lah saya mengetahui bahwa dermaga di Manado umumnya dilayani oleh kapal-kapal berukuran kecil. Hal ini dikarenakan lokasi perairan Manado yang berdekatan dengan lokasi Taman Laut Bunaken yang dilindungi dan juga perairan yang cukup dangkal. Pemerintah benar-benar sangat menjaga kehidupan bawah laut yang juga merupakan aset wisata. Pemerintah tak ingin ada kapal-kapal besar yang ketika melintas justru dapat merusak ekosistem laut Bunaken.

Pada umumnya, kapal-kapal yang sandar di Pelabuhan Manado adalah kapal dengan tujuan ke Kepulauan Sangir dan Talaud. Speedboat dari dan menuju Bunaken maupun Siladen umumnya berlabuh di dermaga ini. Untuk kapal-kapal berukuran besar milik PT Pelni berlabuh di Kota Bitung, berjarak kurang lebih 40 km sebelah barat Manado sehingga tidak melintasi kawasan Bunaken.

Karena tidak ikut snorkeling dan diving, saya hanya menikmati keindahan bawah laut melalui perahu berkaca (Manado: katamaran), sambil sesekali melihat turis-turis asing yang melakukan aktivitas photography underwater (foto bawah laut), sunbathing (mandi matahari), dan tamasya pantai.

Karena termasuk perairan dangkal maka dengan leluasa saya dapat menikmati ikan hias yang bercengkrama di sela-sela terumbu karang yang beraneka bentuk dan sangat indah. Turis asing mengatakan bahwa jika ke Bunaken atau Siladen tidak snorkeling atau pun diving maka tidak ada apa-apanya atau dengan idiom mereka “no snorkeling, no diving, nothing”.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved