Aceh Protes Panitia Arafura Games

Tim sepak bola Aceh melayangkan protes kepada panitia Arafura Games 2019, menyusul perubahan

Aceh Protes Panitia Arafura Games
SERAMBI/IMRAN THAYEB
PANITIA Arafura Games menerima delegasi tim Aceh di Kantor Major Event Darwin, Australia, pagi kemarin waktu setempat. 

* Terkait Perubahan Regulasi Cabang Sepak Bola

DARWIN - Tim sepak bola Aceh melayangkan protes kepada panitia Arafura Games 2019, menyusul perubahan mendadak regulasi di cabang tersebut. Pasalnya, perubahan regulasi secara sepihak itu mengakibatkan tiga pemain Aceh mengalami cedera serius. Mereka adalah M Iqbal Sahputra yang lutut kanannya bergeser, Ilham Mahfuzulillah mengalami retak kaki, dan Agus Pranata retak tangan. Demikian dilaporkan wartawan Serambi Indonesia, Imran Thayeb, dari Darwin, Australia, tadi malam.

Ketiga pemain Tanah Rencong itu cedera parah tersebut akibat benturan keras dengan pemain lawan ketika menghadapi Indigenous Roos Australia dan Northern Knights Darwin. Pemain kedua tim itu tidak seimbang dengan anak-anak Aceh yang rata-rata berusia 17 tahun. Sementara mereka menurunkan pemain dengan usia bebas. “Setelah rapat dengan manajer, pelatih, dan ofisial, kita langsung melayangkan protes kepada panitia Arafura Games,” kata Ketua Rombongan Tim Aceh, Muksalmina.

Sesuai isi undangan dari panitia, sebutnya, usia pemain sepak bola di atas 16 tahun dan di bawah 18 tahun. Artinya, pemain yang diikutsertakan dalam even itu rata-rata berumur 17 tahun. Sesuai surat itu, Aceh, Timnas Timor Leste, Timnas Cina Makao, dan Bintang Timur Atambua, Nusa Tenggara Timur (NTT) mengirim tim dengan usia pemain sesuai regulasi. “Sementara enam klub lokal semuanya memakai pemain dengan usia bebas. Tentu saja, dari segi postur pemain kita kalah dan tak seimbang dengan mereka. Sehingga benturan keras dalam tiga partai membuat tiga pemain kita cedera,” ungkapnya.

Menyusul protes itu, panitia Arafura Games langsung meresponsnya. Buktinya, pagi kemarin, Tim Aceh diundang ke Kantor Major Event Darwin. Mereka diterima Chair Arafura Games 2019, Andrew Hopper, Sally Jarvis (Director Arafura Games), dan Tim Watford (General Manager). Kehadiran tim Aceh didampingi sejumlah staf dari Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Darwin.

Sementara itu, Manajer Tim Aceh, H Ade Zulfadhli SE, menyebutkan, Aceh sudah mengikuti Arafura Games tahun 2009 dan 2011. Dalam dua edisi sebelumnya, menurut Ade, tim sepak bola diisi oleh pemain di bawah 18 tahun. “Tapi, di Arafura Games kali ini sangat kacau karena panitia tak konsisten dalam menerapkan regulasi. Buktinya, aturan dapat berubah setiap waktu. Ini tentu merugikan kita,” kritiknya. Muksalmina dan Adek Zulfadhli berharap panitia dapat melakukan sejumlah perbaikan pada pelaksanaan Arafura Games di masa mendatang.

Chair Arafura Games 2019, Andrew Hopper berjanji akan memperbaiki berbagai kekurangan pada pelaksanaan even dua tahunan tersebut. Dikatakan, pihaknya menghargai setiap masukan demi suksesnya kegiatan itu di masa mendatang. “Kami berharap pemain Aceh yang cedera cepat pulih. Kami minta maaf atas kejadian yang tak mengenakkan ini. Semoga ke depan tak ada lagi peristiwa seperti ini,” ungkapnya.

Ia mengakui, pelaksanaan Arafura Games masih ada kekurangan. Terlebih, ajang ini sudah delapan tahun tak digelar sejak 2011. “Kami berharap kehadiran Aceh ke Darwin makin meningkatnya hubungan antara Indonesia dengan Australia. Kami sangat menghargai partisipasi Aceh selama ini,” tegasnya.(ran)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved