Opini

Mewujudkan Peran Ganda Pendidikan

Peringatan hari pendidikan pada tanggal 2 Mei kemarin mengusung tema; “menguatkan pendidikan dan memajukan kebudayaan”

Mewujudkan Peran Ganda Pendidikan
IST
DR JOHANSYAH, MA, Anggota Lembaga Pemantau Pendidikan Aceh (LP2A).

OLEH DR JOHANSYAH, MA, Anggota Lembaga Pemantau Pendidikan Aceh (LP2A).

Peringatan hari pendidikan pada tanggal 2 Mei kemarin mengusung tema; “menguatkan pendidikan dan memajukan kebudayaan”. Tema ini adalah salah satu core pemikiran bapak pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara.

Sebagaimana dipaparkan dalam pidatonya, Kemdikbud Muhadjir Effendi, bahwa betapa eratnya relasi antara pendidikan dan kebudayaan dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang sarat dengan nilai dan pengalaman kebudayaan guna membingkai hadirnya sumber daya manusia yang berkualitas demi terwujudnya Indonesia berkemajuan.

Untuk mewujudkan pemikiran pendidikan di atas dalam konteks kekinian, kita harus mampu mamainkan peran ganda pendidikan secara sinergis dan seimbang. Peran ganda tersebut adalah peran konservatif dan peran progresif. Pertama, pendidikan berusaha mempertahankan dan mewariskan nilai-nilai budaya dan kearifan lokal. Kedua, pendidikan harus visioner, futuristik, berorientasi jauh ke depan. Adanya semangat untuk perubahan, perbaikan, inovasi, kontribusi, dan menjadi pelaku perubahan.

Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa ada ketimpangan antara dua peran ini. Semangat untuk mengikuti perkembangan zaman di kalangan masyarakat lebih tinggi dari pada komitmen mempertahankan nilai-nilai budaya dan kearifan lokal. Mirisnya, keikutsertaan dalam mengikuti perkembangan jaman tersebut sebagian besarnya mengarah pada pola hidup hedonis 3F (food, fun, and fashion), bukan peran aktif dalam mengembangkan dan memajukan pengetahuan.

Salah paham
Masih banyak generasi kita yang salah paham dalam mengartikan dan menginterpretasi zaman modern. Wujudnya hanya sebatas penggunaan kata-kata gaul, mode pakaian, maupun gaya rambut. Di saat yang sama, mereka menjauh dari nilai-nilai budayanya sendiri karena mungkin terlanjur memahami bahwa budaya masa lalu itu terkesan kuno dan tertinggal.

Untuk itulah mengapa diperlukan penguatan peran konservatif pendidikan. Pertama, budaya itu adalah identitas sebuah kelompok maupun bangsa. Ketika budaya diabaikan dan tidak diwariskan ke generasi berikutnya, maka suatu saat budaya itu akan punah, kita akan kehilangan indentitas. Ini tidak mustahil kalau kita merujuk salah satu contoh tentang bahasa daerah yang semakin terancam. Menurut Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan bahasa), di tahun 2017 ada sekitar 19 bahasa daerah yang terancam punah, 2 dalam kondisi kritis, dan 11 bahasa daerah sudah punah (Liputan6, 12/02/18).

Kedua, salah satu esensi dari budaya itu adalah muatan nilai-nilai kebaikan. Pernyataan bahwa manusia adalah anak kandung budayanya adalah tepat. Maka tugas utama pendidikan adalah menanamkan dan menumbuhkan karakter anak berdasarkan nilai-nilai budaya dan kearifan lokal.

Nilai kebaikan yang dikonstruksi dalam budaya itu bersifat abadi. Bagaimana pun majunya sains dan teknologi, standar nilai itu tidak akan pernah bergeser dan berubah. Tidak ada istilah kadaluarsa dalam tatanan nilai budaya. Nilai sopan santun terhadap orangtua, guru, tetangga, perilaku jujur, kasih sayang, tanggung jawab, dan lain-lainnya tetap abadi, tidak pernah berubah.

Terlepas dari pentingnya peran pendidikan dalam upaya melestarikan dan mewariskan nilai budaya dan kearifan lokal, pendidik kita harus futuristik progresif. Pendidikan harus tanggap terhadap perubahan dan kebutuhan jaman dan mampu menjawab tantangannya. Anak-anak kita tidak boleh hanya menjadi pengekor dan peniru produk sains dan teknologi yang dihasilkan bangsa lain. Mereka harus ikut ambil bagian dan berkontribusi dalam perkembangan dan kemajuan pengetahuan. Generasi kita harus mampu besanding dan bersaing dengan generasi negara lain.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved