Jurnalisme Warga

Melihat dari Dekat Usaha Garam Bebas Najis

SORE kemarin suhu jarum jam sudah hampir merapat ke angka 17.00 WIB. Suasana di kawasan rekreasi pantai Jangka, Bireuen, tak lagi ramai

Melihat dari Dekat Usaha Garam Bebas Najis
IST
ZULKIFLI, M.Kom, Akademisi Umuslim Peusangan, Ketua Majelis Pertimbangan Karang Taruna, dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen

ZULKIFLI, M.Kom, Akademisi Umuslim Peusangan, Ketua Majelis Pertimbangan Karang Taruna, dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen

SORE kemarin suhu jarum jam sudah hampir merapat ke angka 17.00 WIB. Suasana di kawasan rekreasi pantai Jangka, Bireuen, tak lagi ramai. Hanya tersisa beberapa pelancong lokal yang sedang menikmati embusan angin laut, sunset di atas Selat Malaka, sambil menikamati beberapa kuliner yang dijual di pantai tersebut.

Saat pulang saya sengaja menempuh rute melalui arah barat, melewati beberapa desa. Kira-kira lima menit perjalanan, saya berhenti di sebuah bangunan yang luasnya lebih kurang 800 meter persegi. Bangunan beton yang telah disekat menjadi empat bagian itu terdiri atas kantor, ruang produksi, penyimpanan, dan ruang mesin pengolahan.

Saya disambut ramah oleh pemilik bangunan tersebut, yakni Qurrata‘Aini SE, alumnus D3 Manajemen Informatika Komputer (MIK) dan Fakultas Ekonomi (S1) Umuslim. Dia sekarang mengelola usaha garam yang mampu memproduksi garam beryodium 70.000-80.000 kg/bulan dengan peralatan yang memadai dan modern seperti mesin penghalus, pencuci, oven, dan hand sailler.

Suasana perjumpaan kami begitu akrab dan penuh persahabatan. Sebelumnya kami juga sudah saling kenal, baik di kampus maupun pada acara kemasyarakatan lainnya. Mengawali pembicaraan silaturahmi sore itu, Qurrata‘Aini menceritakan kisah awal lahirnya usaha garam tersebut yang ia warisi dari ayahnya, Tgk Yusuf Milhy, pemilik usaha garam rakyat di Tanoh Anoe, Jangka, Bireuen. Menurut Aini–begitu ia biasa disapa--penataan ruang yang ia lakukan di unit usahanya itu sudah sesuai dengan aturan dan syarat sebagai tempat usaha yang layak dan ber-Standar Nasional Indonesia (SNI).

Produksi garamnya pun telah mendapat sertifikat halal dari MPU Aceh: 14060000451214. Ini menandakan produksinya bebas najis atau dikelola secara syar’i karena berpagar sehingga ternak tidak leluasa masuk, bahkan buang hajat, terutama pada malam hari, di lahan pengumpulan air lautnya. Usaha ini langsung menyedot air laut sebagai bahan baku pembuatan garam.

Usahanya juga mendapat sertifikat Standar Nasional Indonesia (SNI) 3556-2010 maupun dari Badan Pemeriksaan Obat dan Makanan (BPOM) RI dengan nomor register MD 255301001021.

Usaha garam ini juga pernah mendapat piagam penghargaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) kategori industri pengolahan tahun 2017 kerja sama Plut KUMKM Aceh dengan Dinas Koperasi Usaha Kecil Menengah Aceh. Juga mendapat piagam penghargaan Siddhakarya dari Dinas Ketenagakerjaan dan Mobilitas Penduduk Aceh serta penghargaan Siddhakarya atas produktivitas dengan kategori “good performance”.

Menurut Aini, ketika Jepang masih bercokol di wilayah Bireuen, ayahnya Tgk Yusuf Milhy sudah merintis usaha garam rakyat tersebut. Gelar Milhy bahkan disandangkan oleh serdadu Jepang ketika menguasai kawasan tersebut. Bahkan dengan adanya usaha garam tersebut beberapa warga Tanoh Anoe Jangka bisa membeli pakaian pada Jepang ketika itu. Begitu diceritakan Qurrata‘Aini dalam nada bersemangat.

Milhy sendiri yang kemudian ditabalkan sebagai merek garam yang mereka produksi berasal dari kata milhon dalam bahasa Arab yang artinya asin (garam). Milhy juga nama tabalan kepada orang tuanya, Tgk Yusuf selaku pemilik usaha garam rakyat tertua di Tanoh Anoe, Jangka, Bireuen.

Halaman
123
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved