Jurnalisme Warga

Menikmati Akhir Pekan di Pantai Ujong Blang

SEPERTI biasa pada setiap Minggu sore saya dan keluarga menghabiskan waktu untuk bersama di luar

Menikmati Akhir Pekan di Pantai Ujong Blang
IST
YUSRAWATI, S.E., M.M., Staf dan Dosen Universitas Almuslim Peusangan, melaporkan dari Lhokseumawe

OLEH YUSRAWATI, S.E., M.M., Staf dan Dosen Universitas Almuslim Peusangan, melaporkan dari Lhokseumawe

SEPERTI biasa pada setiap Minggu sore saya dan keluarga menghabiskan waktu untuk bersama di luar. Kebetulan sore itu kami menuju Kota Lhokseumawe sambil mencari sedikit keperluan bahan sekolah untuk anak. Jarak tempuh antara tempat tinggal saya ke Lhokseumawe lebih kurang 30 menit.

Setelah menempuh perjalanan lebih kurang 20 menit, sampailah kami di simpang Loskala. Simpang tersebut merupakan persimpangan menuju jalan alternatif yang dibangun untuk jalur menuju Kota Lhokseumawe dari arah barat. Kami sekeluarga sepakat untuk memilih jalur alternatif tersebut.

Memasuki jalan baru mulai dari simpang Loskala saya tercengang melihat ramainya warga yang mengambil rute tersebut. Saking padatnya lalu lalang kendaraan di jalur ini membuat kami harus mengendara dengat pelan dan sangat hati-hati.
Di sepanjang jalan sebelum sampai ke Ujong Blang, Kota Lhokseumawe, kami lihat berbagai jenis kendaraan dengan berbagai model dan seri berjalan saling mendahului, baik dari arah masuk maupun arah ke luar dari lokasi Ujong Blang. Banyak juga remaja yang mengendarai sepeda motor (sepmor) secara ugal-ugalan.
Di sepanjang pinggir jalan kami juga melihat padatnya parkiran kendaraan, baik itu kendaraan roda dua, roda tiga (becak), maupun roda empat. Semua dijejer di halaman pondok kuliner atau kafe yang dibangun berderet di sepanjang jalan menuju pantai Ujong Blang.

Ujong Blang merupakan salah satu pantai yang menjadi destinasi wisata andalan di bekas “kota gas” tersebut. Setiap hari minggu banyak pelancong dari luar daerah yang datang menikmati deburan ombak di sini.

Dari pusat Kota Lhokseumawe ke Ujong Blang butuh waktu hanyak belasan menit saja dengan berkendara. Langsung dapat kita nikamti lokasi yang nyaman untuk bersantai sambil menikmati pantai Selat Malaka.

Kami melihat betapa ramainya masyarakat yang duduk di atas tikar secara berkelompok, baik itu keluarga, maupun sesama kolega, sambil mencicipi makanan yang telah disiapkan dari rumah. Mereka dengan gembira menikmati riuhnya suasana ombak dan angin pantai pada sore itu. Tak jarang pula terlihat mereka memesan dan menikmati kuliner yang dijual di pondok-pondok yang berjejer rapi di sepanjang pantai Ujong Blang, mulai dari rujak, mi instan rebus atau goreng, hingga ikan bakar. Itulah kuliner khas pantai Ujong Blang ditambah kelapa muda yang sangat andal untuk mengusir dahaga.
Karena ramainya warga yang turun ke lau, lagi pula cuaca dan ombak pun sangat bersahabat, sehingga saya bersama anak ikut turun juga ke tepi pantai untuk sekadar melihat suasana dan menghabiskan waktu sambil menikmati hempasan ombak pantai pada sore itu.
Dalam pikiran saya, ramainya warga yang berada di bibir pantai sore itu seperti adanya atraksi tarek pukat yang merupakan pekerjaan rutin nelayan setiap pagi di pantai ini. Tarek pukat adalah kebiasaan masyarakat nelayan untuk menangkap ikan dengan memakai jaring secara berkelompok. Biasanya tarek pukat dilakukan pada pagi hari, saat nelayan baru pulang melaut. Banyak masyarakat yang menyaksikan aktivitas tarek pukat tersebut dan menjadi tontonan yang menarik dan mengasyikkan.

Saat kami sedang menikmati semilir angin berembus ke tepi pantai dan nyanyian suara ombak yang bergelombang mendekati bebatuan yang tersusun rapi sebagai penahan ganasnya gelombang pantai tersebut agar tidak menggerus pemukiman penduduk, dari kejauhan beberapa boat kecil nelayan berwira-wiri dimanfaatkan beberapa pengunjung untuk memancing, sesekali tampak boat terhempas dengan deburan ombak setinggi lutut sehingga dari kejauhan boat seperti adegan jumping.

Saat berada di pinggir pantai saya melihat ke atas seputaran jalan, pondok atau kafe, terlihat begitu ramainya masyarakat yang datang ke pantai tersebut, rata-rata mereka pergi secara berkelompok bersama keluarga.
Yang herannya, makin sore masyarakat makin ramai yang datang, sehingga saya penasaran, ada apa? Kenapa makin mau terbenam matahari makin ramai orang yang datang, mereka ada yang hanya duduk termenung memandang ke laut lepas, ada yang asyik bercengrama sesama anggota kelompok, ada juga yang hanya untuk menemani anak-anaknya mandi laut, tetapi yang lebih banyak para remaja milenial yang asyik berselfi ria.
Karena penasaran saya sempat bertanya pada seorang pemilik kafe di jalan ke luar dari area pantai tersebut, “ Pak ada acara apa? Makin sore kok makin ramai saja orang yang datang , padahal matahari mulai terbenam.”
Pemilik kafe itu menjelaskan bahwa ini merupakan kebiasaan masyarakat, tidak hanya masyarakat seputaran Lhokseumawe saja yang menghabiskan waktu sorenya di Pantai Ujong Blang, tapi banyak juga warrga dari daerah lain datang untuk mandi laut di Pantai Ujong Blang, apalagi pekan lalu itu mau memasuki bulan suci Ramadhan. Jadi, ada tradisi masyarakat kita pada minggu terakhir bulan Syakban banyak yang pergi santai untuk rekreasi bersama keluarga di pantai.

Setelah mendapat penjelasan dari bapak setengah baya itu barulah saya mengerti maksud orang tersebut hadir sampai sore ke pantai Ujong Nlang Lhokseumawe yang merupakan salah satu destinasi wisata pantai di Lhokseumawe. Selain menikmati pemandangan laut pada sore hari, di tengah hiruk pikuk ramainya masyarakat menikmati suasana pantai, saya juga melihat banyak warga yang memanfaatkan waktu membeli ikan segar yang banyak dijual oleh sejumlah nelayan di sepanjang jalan menuju lokasi pantai. Aktivitas jual beli ini terlihat sangat sibuk, melebihi suasana di pasar ikan sendiri. Para penjual juga begitu cekatan memainkan jurus mautnya merayu dan melayani calon pembeli yang datang dari beberapa desa di Kota seputaran Lhokseumawe.

Warga yang datang membeli ikan naik mobil umumnya lebih siap, karena mereka sudah mempersiapkan baskom atau timba plastik kecil sebagai wadah untuk menampung ikan segar yang dibeli. Apabila ada ikan yang sesuai selera dan cocok harga, mereka langsung bisa memanfaatkan baskom atau timba tersebut sebagai tempat ikan yang dibeli sehingga tidak mengotori mobilnya saat dibawa pula ke rumah. Rutinitas seperti itu terus berkelindan dari pekan ke pekan.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved