Opini

Industri Kesehatan; Nilai dan Norma

Berbicara mengenai ekonomi normatif dalam konteks ekonomi kesehatan tidak dapat dipisahkan dari pembahasan

Industri Kesehatan; Nilai dan Norma
IST
DOKTER HERIANTI, Penanggung Jawab Klinik Asy-Syifa Sekretariat DPRA

OLEH DOKTER HERIANTI, Penanggung Jawab Klinik Asy-Syifa Sekretariat DPRA

Berbicara mengenai ekonomi normatif dalam konteks ekonomi kesehatan tidak dapat dipisahkan dari pembahasan tentang ekonomi itu sendiri. Hakikat ilmu ekonomi yang lahir dari adanya kebutuhan manusia yang tidak terbatas dalam situasi sumber daya yang terbatas. Dengan kata lain, pemenuhan kebutuhan harus dilakukan dengan memperhitungkan situasi ketersediaan sumber daya.

Pendekatan kajian ilmu ekonomi secara garis besar dapat dibagi menjadi dua: ekonomi positif dan ekonomi normatif. Ekonomi positif menjelaskan tentang fenomena ekonomi secara apa adanya tanpa melibatkan nilai-nilai ideal (value free), sedangkan ekonomi normatif menjelaskan tentang bagaimana seharusnya suatu fenomena ekonomi itu terjadi, sehingga industri kesehatan merupakan lingkup industri yang sarat dengan nilai dan norma, yang pada kesempatan ini penulis akan coba membahasnya.

Sembilan norma
Ekonomi kesehatan merupakan lingkup kajian ekonomi normatif yang mengandung implikasi bahwa norma-norma harus diterapkan dalam aspek ekonomi pelayanan kesehatan. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Prof Ascobat Gani (tahun 2014) pada 1st Inahea Assocaition Congress bahwa industri kesehatan sarat dengan nilai-nilai normatif, terdapat sembilan norma-norma kesehatan.

Norma pertama adalah bahwa kesehatan merupakan salah satu hak asasi manusia yang bersifat fundamental dan diakui secara nasional dan internasional, termasuk hak untuk menikmati kemajuan teknologi juga merupakan salah satu hak asasi manusia.

Norma kedua yang harus diwujudkan dalam ekonomi kesehatan adalah nondiskriminatif, norma ini juga sejalan dengan Universal Declaration of Human Rights yang menegaskan tentang tidak adanya perbedaan perlakuan yang didasari oleh latar belakang SARA dan kondisi sosial ekonomi.

Norma ketiga adalah ekuitas yang mengandung makna bahwa pelayanan kesehatan harus mewujudkan prinsip kesetaraan, baik secara vertikal maupun spasial-horizontal. Norma keempat adalah nonmarketibility, yaitu seseorang tidak bisa menghakimi orang lain menderita suatu penyakit atau pasien meminta sendiri misalnya untuk diimunisasi.

Norma kelima motif auturistik, value ini adalah niat kita untuk membantu, mengurangi atau menghilangkan penderitaan masyarakat karena sakit. Norma keenam adalah norma ini mengatakan bahwa setiap orang berhak memperolah manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya demi meningkatkan kualitas hidupnya dan kesejahteraan umat manusia (enjoying development of technology is also human right).

Norma ketujuh berkeadilan dalam konstribusi kesehatan, artinya pasien dapat membayar sesuai dengan kemampuan dan keinginannya sehingga dapat terjadi kesenjangan pembiayaan. Norma kedelapan mekanisme pasar yang dikenal dengan market hiller, hukum pasar adalah segala sesuatu berlangsung dalam hukum penawaran, supply dan demand. Norma kesembilan peran pemerintah membiayai public goods, jenis-jenis barang dan jasa.

Didalam teori ekonomi terdapat 3 jenis barang dan jasa, yaitu: public goods, private goods, dan marite goods.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved