Opini

Berpuasa di Medsos

Ramadhan adalah bulan al-Quran, bulan yang di dalamnya terdapat kemuliaan dan keberkahan

Berpuasa di Medsos
IST
MUNAWIR UMAR, Mahasiswa Program Magister Pengkajian Islam, Konsentrasi Tafsir Interdisipliner UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

OLEH MUNAWIR UMAR, Mahasiswa Program Magister Pengkajian Islam, Konsentrasi Tafsir Interdisipliner UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Ramadhan adalah bulan al-Quran, bulan yang di dalamnya terdapat kemuliaan dan keberkahan. Ramadhan juga digelar sebagai sayyidusy syuhur, yaitu penghulu segala bulan dengan lipat ganda amal kebaikan dan imbalan langsung dari sisi Allah Tuhan semesta alam, tanpa ada perantaraan.

Disebutkan dalam sebuah hadits Qudsi, “Semua amal manusia adalah miliknya, kecuali puasa, sesungguhnya ia adalah milik-Ku dan Aku yang akan memberikan balasannya.” (HR. Muttafaqun `Alaihi). Dauhan ini adalah bentuk indikasi peluang meraih kemuliaan untuk diburu dan digapai oleh seluruh manusia yang berikrar bahwa ia bagian dari Islam.

Ramadhan jangan sampai terlewatkan begitu saja tanpa ada resapan iman dan taqwa yang membekas dalam jiwa setiap insan. Kerena taqwa adalah misi Ramadhan sebagaimana tercantum dalam al-Quran, “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagai diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183).

Dalam rangka meraih semua itu, agaknya perlu menahan diri dari segala yang dapat membatalkan puasa mulai dari terbit fajar hingga matahari terbenam. Menahan diri dari dahaga dan makan memang menjadi indikasi awal dalam puasa Ramadhan. Tetapi harus dicamkan, bahwa keduanya bukan esensi dari kataqwaan yang diinginkan Tuhan, karena itu hanya pada batas puasa orang awam.

Tetapi sejatinya kolaborasi puasa hati, mata, kemaluan hingga menjaga lisan adalah hal paling esensial dalam menjauhkan diri dari nafsu birahi, kecongkakan, dan juga permusuhan. Ada ucapan orang bijak menyebutkan, ‘Mulutmu, harimaumu’.

Artinya, menjaga mulut dan lisan adalah sebuah kewajiban di bulan suci Ramadhan agar rahmat dan maghfirah-Nya bisa diraih dengan segala kebaikan. Karena jika tidak, maka ia ibarat harimau yang siap menerkam pawangnya tanpa ada belas kasihan.

Menjaga lisan
Di era yang penuh kecanggihan, seharusnya kita merenung dauhan kalam Ilahi Rabbi agar tidak terjatuh dalam dosa lisan yang berujung pada kebinasaan. Allah Swt berfirman, “...Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok), dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-ngolok) perempuan lain, (kerena) boleh jadi yang perempuan (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok).

Janganlah kamu saling mencela satu sama lain dan janganlah saling memanggil dengan gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) fasik setelah beriman. Dan barang siapa yang tidak bertaubat bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Hujurat: 11).

Lebih tegas Rasul Saw menyebutkan dalam haditsnya, “Seorang muslim ialah orang yang menjamin keselamatan muslim lainnya dari lisan dan tangannya”. (HR. Bukhari).

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved