Puasa, Permintaan Tebu Meningkat

Permintaan tebu di tingkat pedagang air tebu di Banda Aceh dan Aceh Besar pada bulan puasa

Puasa, Permintaan Tebu Meningkat
SERAMBI/HERIANTO
PENJUAL tebu dari Aceh Tengah, menurunkan tebu dagangannya di lokasi penjual air tebu di Simpang Surabaya, Banda Aceh, Kamis (9/5). 

* Harga Tebus Ikut Naik

BANDA ACEH - Permintaan tebu di tingkat pedagang air tebu di Banda Aceh dan Aceh Besar pada bulan puasa ini meningkat. Kenaikan permintaan bisa tiga hingga lima kali lipat dari hari-hari di luar Ramadhan. Meningkatnya jumlah permintaan itu juga menyebabkan harga beli di tingkat petani ikut naik.

Sejumlah pedagang air tebu di Aceh Besar dan Banda Aceh mengungkatkan, meningkatkannya permintaan tebu dikarenakan tingginya tingkat konsumsi air tebu di kalangan masyarakat setiap bulan Ramadhan, seperti saat ini. Jika pada hari biasa diluar Ramadhan, pedagang hanya mampu menjual 10 ikat, tapi pada bulan puasa mereka bisa menjual hingga 50 ikat.

Sebagaimana diakui Bakhtiar Johan, pegadang air tebu di Simpang Surabaya, Banda Aceh. Kepada Serambi, Kamis (9/5), dia menjelaskan, untuk satu minggu harus ada stok tebu minimal 30-50 ikat. Karena jika tidak, akan sulit memenuhi permintaan pembeli.

Pada hari pertama puasa, Bahktiar mengakui memiliki stok tebu sekitar 50 ikat. Namun pada hari keempat puasa, stok tebunya tinggal 10 ikat lagi. “Ini artinya setiap hari, jumlah tebu yang diperas mencapai 10 ikat (100 batang),” tandasnya.

Karena permintaan meningkat, Kamis kemarin Bakhtiar menambah stok tebunya dengan memesan 250 ikat lagi. Selain untuk memenuhi kebutuhan pembeli, ia memesan tebu sebanyak itu agar tidak berulang-ulang melakukan pembelaian. “Kalau stok banyak, kita tak khawatir lagi kehabisan tebu. Jika habis, baru kita pesan kembali,” ungkapnya.

Dikatakan, meningkatnya permintaan tebu di kalangan pedagang pada bulan puasa ini, menyebabkan harga tebus di tingkat petani juga mengalami kenaikan. Untuk tebu berukuran biasa sebelumnya dilepas Rp 30.000/ikat (10 batang), tapi naik menjadi Rp 35.000. Tebu ukuran sedang dari Rp 50.000 menjadi Rp 55.000/ikat, dan tebu ukuran jumbo dari Rp 75.000 menjadi Rp 80.000/ikat.

Soal besaran untung yang diperoleh, Bakhtiar mengaku tidak begitu besar. Tapi karena pada bulan puasa pembelinya meningkat tiga kali lipat dari hari biasa, jumlah air tebu yang dijual jadi banyak dan harganya Rp 5.000/gelas. Sebatang tebu ukuran biasa, dengan panjang 2,5-3 meter, hanya menghasilkan air tebu 1,5-2 gelas.

Selain air tebu, Bakhtiar Johan juga menjual air kelapa muda. Harga air kelapa muda lebih tinggi dari air tebu Rp 7.000-Rp 8.000/gelas. Satu kelapa muda dibeli dari penyalurnya Rp 4.000-Rp 5.000/biji. Belinya partai besar, minimal 50 biji. Dalam 50 biji, ada sekitar 5-10 biji, yang kualitas kelapa mudanya kurang bagus. Ini sudah menjadi risiko pedagang kelapa muda, begitu juga tebu. “Ada tebu yang sudah diperas berulang kali hanya menghasilkan air tebu 1 gelas, normalnya untuk ukuran kecil 2 gelas,” pungkasnya.

Sementara itu Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Aceh, A Hanan mengatakan, areal perkebunan tebu terluas sementara ini ada di Aceh Tengah, yaitu sekitar 2.000 hektare. Di Aceh Tengah sudah beberapa kali, ada pihak yang ingin mendirikan pabrik gula pasir, tapi sampai kini tidak jadi. Namun begitu, tidak membuat semangat petani di Aceh Tengah menjadi turun, bahkan sebaliknya mereka tetap bercocok tanam tebu. Areal tanaman tebu di Aceh Tengah itu tersebar di beberapa Kecamatan, antara lain Ketol dan Blang Mancung.

Dikatakan, bisnis tebu, cukup menjanjikan, sama seperti kopi arabika dan robusta. Hal ini terbukti, areal tanaman tebu di Aceh Tengah, tidak pernah surut, tetap stabil, dan pada bulan tertentu malah bertambah, karena permintaannya tinggi. “Tebu-tebu yang didistribusikan ke pedagang air tebu umumnya berasal dari Aceh Tengah,” jelasnya.(her)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved