Citizen Reporter

Pondok Tradisional Rasa Modern di Maroko

PADA Sabtu lalu, saya bersama sembilan orang teman dari Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di Maroko

Pondok Tradisional Rasa Modern di Maroko
IST
ASYRAF MUNTAZHAR, putra Barabung, Darussalam, Mahasiswa Jurusan Islamic Studies di Université Sidi Mohamed ben Abdellah Sais, Fès, melaporkan dari Maroko

OLEH ASYRAF MUNTAZHAR, putra Barabung, Darussalam, Mahasiswa Jurusan Islamic Studies di Université Sidi Mohamed ben Abdellah Sais, Fès, melaporkan dari Maroko

PADA Sabtu lalu, saya bersama sembilan orang teman dari Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di Maroko berkesempatan menghadiri acara tahunan dalam memperingati milad putra mahkota Maroko, Maulay Hassan III.

Pemerintah Indonesia melalui Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Rabat secara resmi diundang sebagai tamu sekaligus diminta menampilkan kesenian nasionalnya pada acara tersebut. Tahun lalu Indonesia juga diundang sebagai tamu kehormatan dan menampilkan seni hadrah atau qasidah. Kali ini, pihak panitia meminta tari saman yang ditampilkan di hadapan ribuan penonton dalam perhelatan akbar itu.

Perayaan ini diselenggarakan di Pondok Tradisional Tamsoult (al Madrasah al ‘Atiiqah Tamsoult). Letaknya tepat di puncak gunung dan jauh dari perkotaan, hampir enam jam perjalanan via darat dari Kota Marrakech atau di atas sepuluh jam perjalanan via darat dari Kota Casablanca.

Saya dan teman-teman penari, ditambah satu warga Maroko sebagai sopir sprinter (minibus) memulai perjalanan dari Casablanca sejak pukul 3 pagi dan sampai di Kota Taroudant, salah satu daerah di arah selatan Maroko pukul 12 siang. Kami dan tetamu dari negara lain dijamu dengan menu sarapan setempat, roti croissant, dan teh mint khas Maroko.

Perjalanan ke Pondok Tradisonal Tamsoult ini dimulai pukul 4 sore dari Taroudant setelah semua tamu selesai santap siang. Perjalanan dari Taroudant ke Tamsoult memakan waktu lebih dari dua jam, karena lokasi pondok yang terletak di puncak gunung dan jalan yang belum rata teraspal membuat kami tak mungkin bisa jalan lebih cepat.

Menariknya pondok ini, walaupun mengambil nama al-Madrasah al-‘Atiqah atau pesantren tradisional, selain karena tempatnya yang memang terkesan ‘agak’ kuno, suasana yang didapat dari para santrinya sama sekali tidak menggambarkan bahwa mereka sedang menuntut ilmu dari pondok tradisional. Ketika diajak berdiskusi, sangat jelas bahwa santri di pondok ini berpikiran sangat futuristik, tapi tetap menghargai penuh jasa-jasa pendahulu dengan menyebutkan sanad-sanad keilmuan dengan gamblang. Tidak kalah, bahkan lebih bermutu jika dibandingkan dengan kualitas ilmu para mahasiswa-mahasiswi di universitas-universitas Maroko.

Pondok Tradisional Tamsoult ini merupakan satu dari banyak pondok tradisional yang tersebar di seantero Maroko. Umumnya, pondok-pondok ini mewajibkan seluruh santrinya untuk mengkhatamkan Alquran sebelum kemudian bisa memulai pelajaran lainnya, mulai dari ilmu-ilmu syariat sampai ilmu-ilmu “duniawi” seperti matematika, biologi, fisika, kimia, geografi, astronomi, ekonomi, dan sebagainya.

Metode menghafal yang mereka pakai pun berupa metode Tahfizh bil Lauhah yang sempat saya paparkan singkat pada tulisan sebelumnya. Metode ini memakan waktu jauh lebih lama ketimbang metode menghafal kilat ala santri Indonesia pada umumnya. Di pondok ini, para santri umumnya sudah mengkhatamkan hafalan mereka sejak kelas 4 ibtidaiah (setara SD di Indonesia).

Pelajaran umum seperti matematika dan sains yang dipelajari di Pondok Tamsoult ini juga bukannya untuk sekadar dipelajari. Di kebanyakan pondok pesantren di Indonesia, termasuk di Aceh, kita tak bisa menafikan bahwa masih sangat banyak pondok pesantren yang memasukkan pelajaran-pelajaran umum di daftar kurikulum santrinya, tapi tidak diberikan ruang untuk berkembang. Seolah masih menjadi “anak tiri” dari ilmu-ilmu agama. Maka bukan hal aneh jika banyak masyarakat menganggap lulusan pesantren dan pendidikan agama merupakan dua hal yang tidak sinkron, pesantren bukan tempat untuk mengembangkan kemampuan saintifik anak.

Di Pondok Tradisional Tamsoult ini, para santrinya dididik untuk membiasakan diri dan mencintai ilmu-ilmu “duniawi” seperti matematika, fisika, kimia, astronomi, geografi, dan sebagainya sebagaimana mereka dibiasakan untuk mencintai agama dan ilmu syariat. Sistem pembelajaran yang mereka adopsi pun cukup unik. Mereka mempelajari fisika, tapi tidak terpaku hanya pada teori-teori yang dihadirkan ilmuwan Barat. Sebagai santri yang sudah mempelajari ilmu tafsir dan metode penafsiran Alquran, mereka kemudian mencari persamaan antara teori yang diumumkan ilmuwan Barat dengan ayat Alquran dengan menafsirkannya, tentu dengan pengawasan para asatidz. Juga dengan mengkaji ulang pemikiran-pemikiran ilmuwan muslim tentang teori-teori yang bersinggungan dengan bahasan mereka. Terlebih, Maroko yang dulunya merupakan bagian dari Kerajaan Islam Andalusia tentu sempat mengorbitkan banyak ilmuwan muslim yang kemudian gencar memaparkan pemikiran-pemikiran brilian pada zamannya.

Saya juga sempat berbincang lama dengan beberapa santri yang sudah lebih senior dari santri pondok kebanyakan, usianya bahkan sudah lebih tua dari saya, namun secara jenjang pendidikan, beliau masih berada di kelas 2 tsanawi atau setingkat SMA di Indonesia. Hafalan Aqurannya sudah 30 juz mutqin, hafal ribuan hadis, dari berbagai judul kitab dengan sanad yang lengkap, sekaligus juga lancar menjelaskan kejadian-kejadian alam, fasih menyebutkan struktur tubuh manusia lengkap dengan fungsinya masing-masing. Masya Allah, Tabaarakallah.

Dari beliau kami tahu sedikit-banyak tentang Pondok Tradisional Tamsoult ini. Pondok Tradisional ini tidak sedikit pun mengutip biaya dari para santri yang menuntut ilmu di sana. Seluruh biaya makan, tempat tinggal, dan penunjang lain seperti air dan listrik dibiayai oleh pemerintah setempat dan banyak dermawan. Untuk bisa masuk ke pondok ini pun tidak memerlukan seleksi ketat dengan tahapan yang berjejeran. Benar-benar menginterpretasi istilah “Ilmu ada untuk dinikmati siapa pun”. Para santrinya pun datang dari berbagai daerah dan dari berbagai kalangan, mulai dari keluarga pebisnis yang tinggal di daerah perkotaan seperti Casablanca, Rabat, Marrakech, Agadir, dan sebagainya, sampai daerah yang jauh dari perkotaan seperti santri yang datang dari keluarga penggembala di perkampungan Sahara, semuanya dipandang dan diperlakukan sama.

Semangat belajar dan juga semangat berderma dengan penuh keikhlasan seperti inilah yang patut dicontoh rakyat Aceh dan Indonesia secara umum, jika masih mempunyai cita-cita ingin membangun kembali citra islam sebagai kiblat keilmuan dunia. Bukannya malah meraup untung finansial dari yayasan-yayasan pendidikan. Hal itu sama sekali tidak salah, tapi tentu akan sangat lebih bermartabat jika kita mengikhlaskan harta kita untuk memajukan Islam demi generasi masa depan yang lebih berilmu. Tentu bantuan dari pemerintah setempat juga sangat diharapkan andilnya, ringan dalam memberikan bantuan kepada dayah-dayah dan sekolah umum, tunjangan untuk para guru, dan hal-hal lain yang hanya bisa dilakukan dengan kapasitas dan kewenangan sebagai pelaku pemerintahan.

Insyaallah, dengan adanya kerja sama yang apik dari berbagai pihak seperti itu, dengan Izin Allah Islam akan kembali meraih puncak kejayaannya di masa yang akan datang. Amin yaa rabbal ‘alamin.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved