Balai Bahasa

Higher Order Thingkings Skills

Beberapa tahun terakhir ini kita bakal diramaikan, khususnya dunia pendidikan dengan istilah HOTS

Higher Order Thingkings Skills
IST

Oleh: Teguh Santoso, Kabid Program dan Informasi PPPPTK Penjas BK Kemdikbud, Jakarta

Beberapa tahun terakhir ini kita bakal diramaikan, khususnya dunia pendidikan dengan istilah HOTS (Higher Order Thingking Skills). Ya, berbicara tentang HOTS akan banyak berkaitan dengan guru dan siswa. Lebih mengerucut lagi pada persoalan pembelajaran yang muaranya adalah soal-soal yang bersifat HOTS.

Pada saat pasca-Ujian Nasional, khususnya tingkat SMA tahun 2018ini, bermunculan keluhan dari para siswa yang mereka tuangkan melalui instagram, baik instagram Menteri Pendidikan maupun instagram Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Pada umumnya mereka mengeluhkan bentuk soal yang tidak biasa dari sebelumnya. Soal-soal yang mereka anggap sangat sulit karena pola berpikir di dalam soal yang mereka hadapi sudah mengacu pada prinsip-prinsip HOTS, sementara di dalam proses pembelajaran mereka di sekolah mereka belum dikenalkan dengan hal tersebut.

Hal ini tentu saja menimbulkan kesulitan bagi para siswa dalam menyelesaikan soalsoal tersebut. Tahun 2019 nanti, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan akan menjadikan persoalan HOTS ini sebagai salah satu kebijakan yang akan diterapkan baik kepada guru maupun siswa. Hal ini bertujuan supaya rangking PISA (Programm of International Student Assessment) Indonesia juga diharapkan meningkat dari tahun-tahun sebelumnya. Selanjutnya, apa hakikat dari HOTS tersebut?

Saya mengutip pengertian HOTS dari beberapa sumber diinternet untuk memberikan pemahaman yang benar. Pertama saya kutip dari laman beritatagar.id yang dalam artikelnya menyebutkan bahwa Alice Thomas dan Glenda Thorne mendefinisikan istilah HOTS dalam artikel yang berjudul How to Increase Higher Order Thinking (2009) sebagai cara berpikir pada tingkat yang lebih tinggi daripada menghafal, atau menceritakan kembali sesuatu yang diceritakan orang lain.

Hal ini yang mungkin menjadi tidak biasa bagi siswa bahkan guru di Indonesia untuk dilakukan. Pola dan paradigma pembelajaran yang klasik dan telah lama terjadi di Indonesia sejauh ini berupa hafalan atau menghafal. Level di atas mengahafal barangkali lebih banyak berkaitan dengan bagaimana siswa berpikir krtitis (critical thinking) dalam menghadapi sebuah persoalan yang disajikan di dalam soal-soal ujian.

Selanjutnya, saya mengutip tulisan dari laman Arlinaagungwordpress.com yang mengatakan bahwa secara umum, keterampilan berpikir terdiri atas empat tingkat, yaitu: menghafal (recall thinking), dasar (basic thinking), kritis (critical thinking) dan kreatif (creative thinking) (Krulik & Rudnick, 1999). Menghafal adalah tingkat berpikir paling rendah. Keterampilan ini hampir otomatis atau refleksif sifatnya.

Contoh dari keterampilan ini adalah menghafal 3 x 4 = 12 dan 5 + 4 = 9. Mengingat alamat atau nomor HP seseorang termasuk dalam keterampilan tingkat ini. Siswa, terutama pada kelas-kelas awal, seringkali dipaksa untuk menghafal fakta-fakta ini. Tingkat berpikir selanjutnya disebut sebagai keterampilan dasar. Keterampilan ini meliputi memahami konsep-konsep seperti penjumlahan dan pengurangan, termasuk aplikasinya dalam soalsoal.

Contoh dari konsep perkalian adalah mencari harga total 12 kilogram beras bila harga perkilonya adalah Rp 6.350. Berpikir kritis adalah berpikir dengan memeriksa, menghubungkan, dan mengevaluasi semua aspek situasi atau masalah. Termasuk di dalamnya mengumpulkan, mengorganisir, mengingat, dan menganalisa informasi. Berpikir kritis termasuk kemampuan membaca dengan pemahaman dan mengidentifikasi materi yang dibutuhkan dan tidak dibutuhkan. Kemampuan menarik kesimpulan yang benar dari data yang diberikan dan mampu menentukan ketidak-konsistenan dan pertentangan dalam sekelompok data merupakan bagian dari keterampilan berpikir kritis.

Dengan kata lain, berfikir kritis adalah analitis dan refleksif.Tingkatan yang terakhir adalah berpikir kreatif yang sifatnya orisinil dan reflektif. Hasil dari keterampilan berpikir ini adalah sesuatu yang kompleks. Kegiatan yang dilakukan di antaranya menyatukan ide, menciptakan ide baru, dan menentukan efektifitasnya. Berpikir kreatif meliputi juga kemampuan menarik kesimpulan yang biasanya menelorkan hasil akhir yang baru. Dua tingkat berpikir terakhir inilah (berpikir kritis dan berpikir kreatif) yang disebut sebagai keterampilan berpikir tingkat tinggi atau higher order thingking skills.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved