Jurnalisme Warga

Ndelabar Simboling, Menu Berbuka Puasa Khas Singkil

RAMADHAN menjadi bulan yang penuh berkah dan rezeki bagi umat muslim pada umumnya

Ndelabar Simboling, Menu Berbuka Puasa Khas Singkil
IST
WANHAR LINGGA, S.Pd, (kiri) Ketua Yayasan Pelestarian Kebudayaan Suku Singkil (Yapkessi) dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Banda Aceh, melaporkan dari Singkil

OLEH WANHAR LINGGA, S.Pd, Ketua Yayasan Pelestarian Kebudayaan Suku Singkil (Yapkessi) dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Banda Aceh, melaporkan dari Singkil

RAMADHAN menjadi bulan yang penuh berkah dan rezeki bagi umat muslim pada umumnya. Di bulan ini pula aneka kuliner yang jarang muncul pada bulan lainnya, bermunculan. Terkadang makanan yang tiba-tiba muncul itu justru berupa panganan khas suatu daerah.

Etnis Singkil, salah satu dari 12 suku yang ada di Aceh juga mempunyai menu khas yang boleh dibilang merupakan menu wajib saat berbuka puasa. Kuliner khas Singkil ini juga terdapat di Kota Subulussalam, karena Subulussalam awalnya merupakan bagian dari Kabupaten Aceh Singkil. Makanan khas tersebut bahan bakunya justru rotan. Lo, kok rotan? Eits tunggu dulu, Anda penasaran?

Ya memang rotan kok. Siapa sangka rotan yang selama ini mungkin hanya dikenal sebagai bahan baku pembuat perabot, keranjang parsel, atau bola sepak takraw, ternyata juga bisa dikonsumsi sebagai makanan yang menggiurkan. Tapi yang dikonsumsi warga Singkil dari tanaman rotan tersebut adalah jenis rotan getah dan yang diambil hanya bagian pucuknya saja. Orang Singkil menyebut pucuk rotan ini dengan nama simboling.

Simboling adalah nama lokal untuk pucuk atau umbut batang rotan yang dalam bahasa Latinnya bernama Myrialepis paradoxa. Biasanya masyarakat mencari pucuk rotan yang masih segar-segarnya di dalam hutan, lalu diolah menjadi anyang (sejenis urap) yang dalam bahasa Singkil disebut ndelabar (Nde-la-bagh).

Ndelabar simboling merupakan salah satu makanan tradisional yang sangat digemari oleh masyarakat Singkil (Kabupaten Aceh Singkil dan Kota Subulussalam). Untuk memperoleh simboling ini biasanya para penjual berburu ke hutan dan ini tentunya sangat berisiko tinggi. Soalnya, untuk memperoleh pucuk rotan berdiamter 3 hingga 5 centimeter ini mereka harus masuk hutan dengan risiko terkadang tangan dan kakinya tertusuk duri, belum lagi sesekali bertemu ular dan satwa liar lainnya.

Tapi, betapa pun risiko menghadang, keinginan untuk mendapatkan simboling yang masih segar untuk dapat dihidangkan pada saat berbuka puasa mengalahkan kekhawatiran bertemu dengan satwa liar dan buas di hutan.

“Selain untuk dikonsumsi sendiri, jika kami dapat banyak, simboling biasanya kami jual untuk masyarakat,” kata Ogek Hamdani (45), warga Danau Bungara, Kecamatan Kota Baharu, Kabupaten Aceh Singkil yang hampir saban hari sepanjang Ramadhan menjajakan simboling di teras rumahnya.

Setelah memperoleh simboling mereka biasanya terlebih dahulu membersihkan duri-duri dari kulitnya lalu dipotong-potong dengan ukuran sekitar 1- 1, 5 meter. Kemudian, dijajakan di pasar atau dengan cara berjalan kaki sepanjang kampung dengan membawa simboling menggunakan angkong (kereta beroda dua yang dihela orang). Ada juga yang hanya diletakkan di teras rumah. Harga jualnya juga terbilang murah. Hanya Rp 5.000 untuk empat batang.

Rasa simboling cenderung pahit, tapi tetap dapat mengugah selera makan apabila sudah pas di lidah. Tidak seperti jengkol atau petai, makanan ini tidak meninggalkan bau di mulut.

Cara mengolah simboling menjadi ndelabar sangatlah mudah. Terlebih dahulu dikupas lapisan luarnya, lalu diambil bagian isinya. Potong-potong isinya, lalu direbus. Setelah direbus sekitar sepuluh menit lalu dicampur dengan sayuran lain, misalnya daun ubi, kacang panjang , dan jantung pisang yang juga direbus. Kemudian, dicampur dengan bumbu khusus yang sudah disiapkan, terdiri atas cabai, kelapa gongseng (sangrai), bawang merah, jeruk nipis, dan garam.

“Mengolah ndelabar ini sebetulnya sangat mudah. Yang menjadi khasnya justru terletak pada bahan bumbu-bumbunya,” kata Nova Risma Lingga, warga Danau Bungara.

Selain diolah menjadi ndelabar, simboling juga bisa dimasak sebagai sayur gulai dengan ikan lele kering (limbek karing atau itu kekhah) bahkan dengan cara yang sederhana dibakar langsung dengan kulitnya juga bisa. Setelah masak, isinya yang putih lembut bisa langsung dikonsumsi untuk dicocol dengan sambal kecap sebagai lalapan.

Selain rasanya yang khas, harganya pun sangat ekonomis. Bagi masyarakat suku Singkil, ndelabar ini bukan hanya sekadar untuk hidangan saat berbuka puasa, tapi juga sekaligus sebagai makanan adat saat upacara-upacara khusus.

Nah, Anda berminat mencicipi ndelabar simboling? Segeralah ke Singkil saat bulan Ramadhan ini, karena tidak mencoba, ya tidak keren.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved