Opini

Eskatologi Islam; Mencegah Korupsi

Hampir dapat dipastikan bangsa Indonesia akan memiliki sosok Presiden dan Wakil Presiden untuk periode lima tahun

Eskatologi Islam; Mencegah Korupsi
Dr. Munawar A. Djalil, MA, Pegiat Dakwah dan Pemerhati Masalah Politik-Pemerintahan

Oleh Dr. Munawar A. Djalil, MA, Pegiat Dakwah dan Pemerhati Masalah Politik-Pemerintahan

Hampir dapat dipastikan bangsa Indonesia akan memiliki sosok Presiden dan Wakil Presiden untuk periode lima tahun yang akan datang, termasuk anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) baik Pusat maupun Daerah dan anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD). Sebagai rakyat tentunya kita sangat mendambakan pemerintah ke depan adalah pemerintah yang dikelola secara baik dan benar yang terbebas dari praktek-praktek korupsi

Meskipun kalau kita mencermati keadaan negara selama ini, kita dibuat miris karena penyakit kronis yang bernama korupsi ini telah menggerogoti seluruh aspek kehidupan bangsa kita, dimana pelaku pemerintah yang notabenenya sebagai pelaksana aspirasi rakyat telah menyeleweng dari nilai-nilai moral dan etika masyarakat.

Pertanyaannya adalah kenapa intensitas korupsi masih begitu besar di Indonesia, malah tumbuh dan berkembang bak cendawan di musim hujan. Agaknya dalam hemat penulis, merebaknya praktik korupsi sesungguhnya karena persepsi keliru tentang korupsi itu sendiri.

Setidaknya ada beberapa persepsi korupsi yang berkembang di dalam masyarakat. Korupsi sering dilihat sebagai simbol kecerdasan, misalnya kecerdasan “me-mark up” anggaran. Persepsi bahwa korupsi sebagai seni hidup karena memainkan jabatan butuh nilai seni.

Persepsi bahwa hidup jujur bisa membawa kehancuran di samping persepsi “aji mumpung (pajan syit lom)” yaitu kapan lagi menggerogoti uang negara kalau bukan pada saat memegang jabatan, semua persepsi tersebut telah melengkapi pemahaman kita tentang hakikat praktik korupsi sudah begitu sistematis, karena proses mitologisasi sudah demikian merambah jauh ke dalam sendi masyarakat.

Secara fakta empiris memang tidak bisa dinafikan, sejak lahir, besar, sekolah, kuliah, sampai pada bekerja, kita sudah diakrabi dengan sistem transaksi yang bernuansa korup. Kita sudah dicekoki dengan berbagai istilah transaksi yang kedengarannya baik dan bijak, tetapi sebenarnya membuka peluang praktik korup. Sebut misalnya “uang atur damai”, “uang terima kasih”, “bagaimana baiknya”, dan sebagainya.

Hal ini jelas terlihat pada hampir setiap individu dalam masyarakat kita, ketika mendapat peluang korupsi dengan jabatannya, dengan seketika pula mereka bisa terjebak ke dalam persepsi korupsi tersebut. Mengapa? Karena adanya dorongan subconscious (alam bawah sadar) untuk berperilaku korup yang seluk-beluknya sudah dipahami dan diterima umum. Nah pada titik ini, diperlukan pemahaman agama untuk mempengaruhi alam bawah sadar mencegah korupsi.

Syahdan, tulisan ini mencoba menawarkan argumen tentang perlunya membumikan paham eskatologi Islam dalam masyarakat sebagai upaya mendasar dalam memberantas dan mengebiri kemungkinan syahwat korupsi. Sebagaimana diketahui eskatologi Islam adalah ilmu yang mempelajari tentang kehidupan setelah mati, seperti adanya alam barzah, hari kebangkitan, padang mahsyar, pengadilan akhirat, syurga dan neraka, dll.

Membumikan eskatologi
Tampaknya tidak ada pilihan lain kecuali penyakit kronis bangsa ini, tak terkecuali di Aceh, mesti diobati dengan memulai menata ulang pemahaman tradisional Islam yang selama ini terbukti kurang efektif. Doktrin Islam menjadi penting karena bisa menanamkan pemahaman di bawah sadar seseorang yang tidak cepat lekang.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved