Meraih Keampunan Allah

Ramadhan merupakan bulan yang sangat agung dan berlimpah keberkahan (syahrul adzim mubarak)

Meraih Keampunan Allah
IST
Dr. Marhamah, M.Kom.I., Dosen Komunikasi IAIN Lhokseumawe

Oleh Dr. Marhamah, M.Kom.I, Dosen Komunikasi IAIN Lhokseumawe

“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan pengharapan, maka Alah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”(HR. Bukhari dan Muslim)

Ramadhan merupakan bulan yang sangat agung dan berlimpah keberkahan (syahrul adzim mubarak), salah satunya Ramadhan dikenal sebagai bulan ampunan (syahrul maghfirah). Di bulan Ramadhan inilah Allah Swt berkenan memberikan keampunan kepada para hamba-Nya yang mau bertaubat. Dan bagi mereka yang sudah memperoleh maghfirah-Nya, tak ada balasan lain selain surga.

Merupakan tabiat alami manusia yang cenderung melakukan kesalahan dan dosa. Dosa telah ditakdirkan pada manusia dan pasti terjadi. Hal ini dimaksudkan Allah agar hati manusia selalu bergantung kepada Rabbnya, selalu menganggap dirinya sarat dengan kekurangan, senantiasa berintrospeksi diri, jauh dari sifat ‘ujub (mengagumi diri sendiri), ghurûr (terperdaya dengan amalan pribadi) dan kesombongan.

Islam memberikan jalan keluar terhadap tabiat manusia dengan segala kelemahannya, yaitu memohon keampunan Allah Swt sehingga tetap diberi kesempatan untuk kembali ke jalan-Nya yang lurus (sirath al-Mustaqiim). Berlimpahnya keampunan Allah, karena memang Allah Swt memiliki sifat Al-Ghaffar (Maha pengampun).

Ini adalah keutamaan dan kemurahan dari Allah memberikan pengampunan seluruh dosa yang ada pada manusia dengan kalimat tauhid. Karena kalimat tauhid adalah kalimat ikhlas yang menyelamatkan pemiliknya dari adzab.Allah Swt menganugerahinya surga dan menghapus dosa-dosa yang seandainya memenuhi bumi, dan menggantikannya dengan ampunan.

Rasulullah Saw dalam Hadits Qudsi menyatakan: Allah berfirman: “Wahai anak keturunan Adam, seandainya kamu membawa dosa sepenuh bumi kemudian kamu menjumpai-Ku dalam keadaan tidak mempersekutukan sesuatu dengan-Ku (tidak berbuat syirik) tentu saja Aku akan membawakan untukmu sepenuh bumi ampunan.” (H.R Muslim). Ali bin Abi Thalib menyebutkan meraih keampunan Allah dengan memenuhi segala perintah-Nya adalah meraih keampunan dari segala dosa, dan surga sebagai pahala amal dunia merupakan kebahagiaan yang paripurna.

Puasa Ramadhan membentuk sikap dan perilaku manusia sebagai makhluk sosial dengan bentuk persaudaraan, kesabaran, kepedulian, akhlak terpuji dan sifat positif lainnya. Akumulasi dari sifat-sifat terpuji inilah yang melahirkan pribadi yang memiliki gelar Muttaqin (orang-orang yang bertaqwa). Dan taqwa merupakan tujuan akhir dari ibadah puasa Ramadhan. Dijelaskan dalam Alquran: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa” (QS. Al Baqarah: 183).

Inti taqwa adalah menjaga diri agar tetap berada pada rambu-rambu ajaran Allah dengan melaksanakan segala perintah dan menjauhi larangan-Nya. Maka, pada dasarnya eksistensi puasa adalah pengendalian diri secara total dengan kendali iman, yaitu menahan diri dari nafsu, amarah, menahan diri dari ucapan yang tidak berguna, menahan diri dari pandangan mata terhadap suasana maksiat, menahan diri dari mendengarkan yang sifatnya provokatif, pergunjingan, juga menahan diri dari kecenderungan hati yang penuh curiga (syu’udzdzan) tidak pernah berbaik sangka (khusnudzdzan) atau berpikir positif. Inilah yang dimaksudkan dengan shaum khusus al-khusus, puasa yang semuanya berujung pada peningkatan ketaqwaan. Tujuan akhir puasa Ramadhan mengindikasikan bahwa essensi puasa Ramadhan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga sebagaimana puasa kebanyakan, akan tetapi menahan seluruh anggota tubuhnya dari hal-hal yang membatalkan puasa dan pahala puasa. Jika seseorang berpuasa hanya menahan lapar dan dahaga tanpa menahan anggota tubuh sehingga sikap dan akhlaknya jauh dari tuntunan agama, maka tidak ada arti puasa yang dijalankannya.

Sebagaimana sabda Rasulullah Saw: “Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah Swt tidak memerlukan (puasanya) meskipun dia tidak makan dan minum”(H.R. Bukhari).

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved