Pedagang Ikan Asel Demo di Subulussalam

Seratusan pedagang ikan asal Aceh Selatan (Asel) berunjuk rasa di Kota Subulussalam

Pedagang Ikan Asel Demo di Subulussalam
SERAMBI/KHALIDIN
MASSA pedagang ikan asal Aceh Selatan menyampaikan aspirasinya saat menggelar aksi di depan MapolresKota Subulussalam, Rabu 15/5). 

* Terkait Insiden dengan Pedagang Lokal

SUBULUSSALAM – Seratusan pedagang ikan asal Aceh Selatan (Asel) berunjuk rasa di Kota Subulussalam, Rabu (15/5). Aksi pedagang ikan dari ‘Negeri Pala’ itu untuk menuntut keadilan atas kasus pertikaian antarpedagang yang terjadi sehari sebelumnya atau Selasa (14/5), di jalan depan kantor Partai Nanggroe Aceh (PNA) Subulussalam.

Pantauan Serambi di lapangan, para pedagang ikan Aceh Selatan itu tiba di Subulussalam sekitar pukul 11.30 WIB, dengan menggunakan berbagai jenis kendaraan seperti truk colt diesel, pikap L-300, dan minibus Toyota Avanza. Namun, aksi massa ini dihadang puluhan aparat kepolisian di depan Mapolres Kota Subulussalam, kawasan Desa Tangga Besi, Kecamatan Simpang Kiri. Para pedagang itu kemudian dimediasi oleh aparat kepolisian bersama Dandim 0118/Subulussalam, serta Camat Simpang Kiri.

Sempat terjadi adu argumen antara aparat kepolisian dengan kelompok pedagang yang ngotot ingin turun ke pasar tradisional Subulussalam. Namun, polisi tetap menghentikan laju mereka dan meminta massa untuk menyelesaikan persoalan itu dengan kepala dingin. Bahkan, Kapolsek Simpang Kiri, Iptu RJ Agung Pratomo meminta massa menahan diri dan menyerahkan friksi antarpedagang tersebut kepada pihak berwajib, guna menghindari hal yang tak diinginkan.

Meski sempat alot, akhirnya massa bersedia untuk berdialog dengan diwakili beberapa tokoh mereka dengan pihak kepolisian, TNI, dan Camat Simpang Kiri. Dalam mediasi yang dihadiri Dandim 0118/Subulussalam, Letkol Inf Winarko SAg, Kapolsek Simpang Kiri, Iptu RJ Agung Pratomo, Kabag Ops Polres Aceh Singkil, AKP Erwinsyah, Kabagren AKP R Manurung, serta Camat Simpang Kiri, Abdurrahmansyah itu, para pedagang mengajukan dua tuntutan yakni dihukumnya pelaku penganiayaan tehadap rekan mereka, serta dibuatnya aturan tentang berjualan ikan.

Kepada wartawan, para pedagang ikan asal Aceh Selatan itu menyebutkan, ada empat rekan mereka yang dianiaya saat terjadi insiden, Selasa lalu. Masing-masing adalah, Antoni, Sulaiman, Bakhtiar, dan Usman. Jika keadilan tidak ditegakkan, para pedagang mengancam akan melakukan aksi ‘main hakim’ sendiri. “Karena itu, kami mendesak pihak kepolisian segera memproses persoalan yang terjadi ini sesuai hukum,” tuntut mereka.

Para pedagang ikan itu juga menyatakan, mereka bukan bermusuhan atau berselisih paham dengan masyarakat Subulussalam. Mereka menegaskan, hanya bermasalah dengan pedagang ikan di pasar Subulussalam. “Kami jelaskan, kami tidak ada masalah dengan masyarakat Subulussalam, kami hanya bermasalah dengan pedagang ikan di pajak (pasar-red),” ujar massa.

Informasi yang dihimpun Serambi, aksi ratusan massa ini untuk menuntut keadilan terkait insiden yang menimpa rekan mereka pada Selasa (14/5) sekitar pukul 09.30 WIB. Menurut mereka, telah terjadi insiden pemukulan terhadap empat pedagang ikan Aceh Selatan hingga menimbulkan adu fisik dan pengrusakan. Diakui massa, memang sudah ada upaya perdamaian di Mapolsek Simpang Kiri, namun hanya membahas masalah ganti rugi kerusakan barang saja. “Sementara masalah fisik, belum ada diproses secara hukum. Makanya, kami kemari ingin menuntut keadilan,” teriak massa.

Meski sempat ngotot untuk berdemo di pasar tradisional, massa akhirnya melunak dan bersedia dimediasi yang diprakarsai jajaran kepolisian dan Dandim Subulussalam, serta Muspika Simpang Kiri. Para pedagang juga bersedia pulang ke Aceh Selatan. Sedangkan, sejumlah perwakilan massa berdialog dengan Pemko Subulussalam yang dipimpin Wakil Wali Kota, Drs Salmaza.

Kapolsek Simpang Kiri, Iptu RJ Agung Pratomo yang dikonfirmasi Serambi, kemarin, membenarkan, adanya kejadian sehari sebelumnya yang bertepatan dengan hari pelantikan Wali Kota/Wakil Wali Kota Subulussalam periode 2019-2024, yakni Selasa (14/5). Insiden tersebut dipicu masalah aturan berjualan ikan. Selama ini, jelas Agung, sejumlah pedagang ikan dari Aceh Selatan nongkrong di luar pasar dan ini menjadi pemicu sikap antipati pedagang setempat. Tak pelak, para pedagang Subulussalam pun memprotes hal itu, apalagi sudah ada pernah dibuat perjanjian terkait masalah tersebut.

“Sebenarnya, masalah kemarin itu sudah dimediasi di Polsek Simpang Kiri. Namun memang sebatas masalah ganti rugi ikan dan sepeda motor yang rusak saja,” ujarnya.

Sedangkan soal aksi pemukulan atau penganiayaan terhadap empat pedagang ikan Aceh Selatan, menurut Kapolsek, pihaknya belum menerima laporan dari korban. Ia mengakui, saat insiden kemarin, memang ada pedagang yang jadi korban pemukulan. Namun, pihaknya belum memprosesnya karena tidak ada laporan yang masuk.

Kapolsek memastikan, saat ini kondisi sudah terkendali sehnigga meminta masyarakat untuk menahan diri. Selain itu, para pedagang dari dua kubu juga diimbau menahan diri dan tidak terprovokasi, apalagi menyebar informasi yang dapat memicu kemarahan. “Ini terjadi karea video viral, jadi warga terpancing. Kita harap, ke depan jangan ada lagi kejadian seperti ini,” ucap Iptu Agung.

Sementara itu, mantan Wali Kota Subulussalam, H Merah Sakti SH menyayangkan insiden yang terjadi antara pedagang ikan Aceh Selatan dengan pedagang Subulussalam. Hal ini, menurut Merah Sakti, sangat menciderai keharmonisan sesama warga, apalagi insidennya terjadi di bulan puasa.

Untuk itu, ia meminta, semua pihak menahan diri dan tidak provokasi atau melakukan provokasi apapun. Apalagi, para pedagang ikan yang sedang mencari rezeki untuk keluarganya itu sejatinya biasa hidup damai dalam persaudaraan. “Kita sangat sayangkan ini bisa terjadi. Jangan sampai terulang lagi, apalagi ini kita masih bersaudara,” imbau Merah Sakti.(lid)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved