Opini

Ramadhan Momentum Ketahanan Keluarga

Alhamdulillah kita masih dipertemukan dengan bulan suci Ramadhan, bulan penuh pahala, bulan yang penuh

Ramadhan Momentum Ketahanan Keluarga
IST
Dr. H. Agustin Hanafi, Lc., MA, Ketua Prodi Magister Hukum Keluarga UIN Ar-Raniry

Oleh Dr. H. Agustin Hanafi, Lc., MA, Ketua Prodi Magister Hukum Keluarga UIN Ar-Raniry

Alhamdulillah kita masih dipertemukan dengan bulan suci Ramadhan, bulan penuh pahala, bulan yang penuh berkah dan istimewa yang di dalamnya terdapat Lailatul Qadr, malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Ramadhan juga bulan diturunkannya Alquran menjadi pedoman hidup umat manusia, maka wajar kehadiran bulan suci Ramadhan sangat ditunggu oleh umat manusia.

Hadis Nabi Saw “Sekiranya umatku mengetahui rahasia yang terkandung pada bulan suci Ramadhan, maka niscaya mereka berharap agar sepanjang tahun dijadikan bulan Ramadhan”.

Ramadhan memiliki nuansa pendidikan yang luar biasa terutama pada lingkungan keluarga. Jika suami-istri memiliki kepekaan yang tinggi dan memanfaatkannya secara baik, maka dapat menjadi senjata ampuh untuk menciptakan keluarga samara. Karena Ramadhan selalu menghadirkan nilai-nilai positif bagi keluarga yaitu adanya kebersamaan dalam berbagai aktivitas seperti makan sahur dan berbuka puasa bersama.

Dalam hal ini, pasangan suami-istri, anak, mertua, dapat berdiskusi menyusun program dan saling memotivasi agar terdorong meningkatkan kualitas ibadah. Kemudian melakukan safari masjid, berangkat bersama shalat berjamaah, i‘tikaf, qiyamul lail, khatam Alquran, dan lain-lain. Usai melaksanakan shalat, berdoa dan memohon kepada Allah agar mahligai rumah tangga tetap utuh hingga akhir hayat.

Istri bermunajat kepada Allah Swt agar senantiasa memberikan perlindungan dan kemudahan pada setiap langkah suami dalam memenuhi kebutuhan keluarga. Suami juga memohon agar istri setia menunggu, diberikan kesabaran, kekuatan, kemudahan dalam menghendel rumah dan merawat anak, sama-sama berdoa agar dikaruniai keturunan yang saleh.

Komunikasi yang sehat
Kemudian dalam moment kebersamaan seperti ini, suami-istri saling mengingatkan bahwa Ramadhan bulan pengendalian diri sehingga suami tidak melulu meminta, apalagi memaksa istrinya untuk menyediakan makanan kesukaannya, sehingga istri tidak memiliki waktu untuk beribadah.

Di sisi lain, istri pun semakin mengerti akan hak-haknya sehingga tidak menuntut di luar batas kemampuan suami, bahkan rela dan bersedia membantu mengurangi beban suami. Kendati demikian suami selalu berusaha memperbaiki keadaan dan satu sama lain saling mengupayakan menggapai keluarga samara.

Adanya kebersamaan dan kesempatan indah seperti ini tentu akan menumbuhkan rasa cinta dan sayang serta penghargaan yang tinggi terhadap pasangan, menciptakan transparansi kepada pasangannya mengenai banyak hal seperti pendapatan, aktivitas, problematika yang dihadapi demi perbaikan kondisi rumah tangganya.

Misalnya istri mengingatkan suami dengan lembut agar tidak lagi meneruskan kebiasaan buruknya seperti merokok, mengingatkannya untuk tidak berlama-lama di warung kopi karena istri dan anak-anaknya merindukannya. Suami juga mengingatkan istri dengan santun bahwa Ramadhan bukan ajang melangsingkan tubuh, bukan juga ajang berbelanja, tetapi bulan keperihatinan terhadap orang lemah sehingga menumbuhkan rasa kepedulian dan sosial yang tinggi.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved