Opini

Ramadhan dan Model Pembangunan Islami

Tidak hanya penuh dengan makna, Ramadhan adalah bulan suci yang penuh sarat nilai, multi-hikmah

Ramadhan dan Model Pembangunan Islami
IST
Dr. M. Shabri Abd. Majid, M.Ec, Koordinator Program Studi Magister Ilmu Ekonomi Unsyiah

Oleh Dr. M. Shabri Abd. Majid, M.Ec, Koordinator Program Studi Magister Ilmu Ekonomi Unsyiah

Tidak hanya penuh dengan makna, Ramadhan adalah bulan suci yang penuh sarat nilai, multi-hikmah dan multi-pahala. Selain menyehatkan raga, menenangkan jiwa, berpuasa turut mensejahterakan ekonomi. Ramadhan mengajarkan hidup toleran, sederhana, gemar menabung, dan bahkan produktif. Tidak hanya itu, Ramadhan turut meletakkan fondasi model pembangunan islami.

Pemerintah Aceh dalam menentukan arah, strategi, dan skala prioritas pembangunan seharusnya berpedoman pada makna, hikmah, dan pesan implisit Ramadhan. Apa pesan Ramadhan terhadap pembangunan Aceh yang islami? Bagaimana idealnya model pembangunan Aceh yang islami menurut perspektif Ramadhan? Sejauhmana Bappeda sebagai arsitek pembangunan telah merencanakan dan membangun ekonomi Aceh sesuai dengan nilai-nilai islami?

Tujuan tulisan ini adalah untuk merekomendasikan pembangunan Aceh model islami, sesuai dengan pesan Ramadhan. Serambi Mekkah yang dihuni mayoritas umat Islam wajib dibangun ekonominya berteraskan nilai-nilai makkiyyah (islamiyyah).

Tujuan akhir (ultimate goal) berpuasa di bulan Ramadhan adalah menggapai kekaqwaan. Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan ke atas orang-orang sebelum kamu, mudah-mudahan kamu bertakwa” (Q.S. al-Baqarah: 183). Ayat ini menyiratkan bahwa untuk membangun manusia secara totalitas, ia harus dibangun atas landasan ketakwaan. Pembangunan ekonomi umat yang hakiki mesti dimulai dari pembangunan spiritual (ketakwaan).

Kenapa ketakwaan begitu penting dalam proses pembangunan ekonomi Aceh? Seseorang yang telah bergelar “muttaqin” akan memiliki ketenangan jiwa, keteduhan batin, ketenteraman hati, kelapangan dada, perasaan optimis, semangat cinta dan kasih terhadap Allah Swt. Suasana hati (conscience) ini, tentunya, akan mempermudah aktivitas pembangunan ekonomi umat. Sebab individu yang mencintai Allah, pasti akan menaati segala seruan-Nya. Begitupun dalam membangun ekonomi umat, muttaqin pasti akan mengikuti sunnatullah, bebas dari praktik KKN, malpraktik, dan berbagai tindakan moral lainnya.

Sebaliknya, manusia jahil yang tidak bertakwa, hidupnya akan galau, gelisah, frustrasi, putus asa, dengki, iri-hati, dendam dan pemarah sehingga akan menyebabkan mereka tidak fokus membangun ekonomi umat secara berkelanjutan. Dus, kunci utama pembangunan ekonomi umat itu, sesungguhnya, terletak pada pembangunan spiritual (ketakwaan) setiap pribadi muslim.

Allah berfirman: “Dan kalaulah kebenaran itu tunduk menurut hawa nafsu mereka, niscaya rusak binasalah langit dan bumi serta segala isinya...” (Q.S. al-Mu’minun: 71). Begitu juga dalam membangun ekonomi Aceh, andaikata pelaku pembangunan, DPRA, pejabat gubernur dan segenap jajaran aparatnya serta rakyat Aceh memiliki ketakwaan, maka pembangunan ekonomi Aceh dengan mudah dapat diwujudkan.

Di lain pihak, kondisi pembangunan ekonomi Aceh yang luluh lantak di segala aspek kehidupan pascakonflik dan tsunami adalah tidak terlepas dari ketidakjujuran dan ketidaktakwaan para pemimpin Aceh dan juga rakyatnya?

Banyak ayat al-Quran menceritakan kisah-kisah tentang bagaimana Allah menghancurkan (halakah) suatu kaum yang ingkar dan kufur. Padahal sebelum ditimpa musibah, kaum tersebut telah dianugerahi rahmat pembangunan (tamkin) yang melimpah ruah. Allah Swt berfirman: “Tidakkah mereka memperhatikan dan memikirkan betapa banyak umat-umat yang telah Kami binasakan sebelum mereka, padahal (umat-umat itu) telah Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi (dengan kekuasaan dan kemewahan) yang tidak Kami berikan kepada kamu, dan Kami turunkan hujan atas mereka dengan lebatnya, dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka, kemudian Kami binasakan mereka dengan sebab dosa mereka mereka, dan Kami ciptakan sesudah mereka, umat yang lain?” (Q.S. al-An’am: 6).

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved