Kanal

Sepakbola Aceh; Dari Dimurthala ke Adly Calok

-

Oleh Rahmat Djailani dan Alkaf Muchtar Ali Piyeung

TIDAK bisa dibantah, bahwa sepakbola tidak hanya sebatas olahraga, ia bahkan kini sudah menjelma menjadi bahasa kemanusiaan. Sepakbola juga diakui dapat menjadi ‘jembatan’ yang melampaui segala batas-batas yang diciptakan oleh kepentingan politik dan ekonomi sekali pun. Dalam sejarahnya, sepakbola ditemukan di Cina, sekitar tahun 206 SM, pada masa pemerintahan dinasti Tsin dan Han. Pada zaman itu masyarakat Cina telah memainkan bola yang disebut tsu chu. Tsu sendiri artinya “menerjang bola dengan kaki”, sedangkan chu berarti “bola dari kulit dan ada isinya”.

Permainan bola saat itu menggunakan bola yang terbuat dari kulit binatang, dengan aturan menendang dan menggiring dan memasukkannya ke sebuah jaring yang dibentangkan di antara dua tiang. Namun menurut Bill Muray, seorang sejarahwan sepakbola, dalam bukunya The World Game: A History of Soccer, permainan sepakbola sudah dikenal sejak awal Masehi.

Pada saat itu, masyarakat Mesir kuno sudah mengenal teknik membawa dan menendang bola yang terbuat dari buntalan kain linen. Namun, di luar sejarah di atas, Inggris diakui sebagai penemu sepakbola modern. Olahraga ini dimainkan pada pertengahan abad ke-19 di sekolah-sekolah di Inggris. Selanjutnya pada 1857 berdiri klub sepakbola pertama di dunia, yaitu Sheffield Football Club, serta lahirnya Football Association di Inggris pada 26 Oktober 1863.

 Sebagai alat perjuangan
Titik muasal sejarah sepak bola di Indonesia dapat dilacak dari pendirian Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) di Yogyakarta pada 19 April 1930 dengan ketua pertama Soeratin Sosrosoegondo. Sejak saat itu, kegiatan sepakbola semakin sering digerakkan oleh PSSI. Sebagai bentuk dukungan terhadap kebangkitan “sepakbola kebangsaan”, Paku Buwono X mendirikan Stadion Sriwedari yang kemudian membuat persepakbolaan Indonesia semakin gencar. Saat itu sepakbola juga dijadikan sebagai alat perjuangan melawan kolonial Belanda.

Setelah kemerdekaan, posisi sepak bola menjadi sangat penting sebagai alat membangun nasionalisme dan wibawa bangsa di mata dunia Internasional. Tentu kita ingat bagaimana sejarah ‘gemilang’ Indonesia, setelah 13 tahun merdeka, berhasil menahan imbang raksasa sepakbola dunia Uni Soviet 0-0 di Olimpiade Meulbourne 1958 di Australia. Ironisnya, cerita itu terus diproduksi hingga kini, ketika melihat kenyataan bahwa sepakbola kita tidak pernah bisa menatap dunia dengan tegak.

Aceh juga pernah punya cerita kejayaan sepakbolanya. Belum lekang dari ingatan kita bersama prestasi Persiraja Banda Aceh, dengan skuad Nasir Gurumud, Bustamam, M Daan, Zaim Merdeka dan lain-lain, dengan menjuarai sepakbola Kompetisi Perserikatan Divisi Utama PSSI musim 1980/1981. Pertanyaannya, mengapa saat itu Aceh bisa berprestasi dan kini kita terpuruk?

Dalam sebuah kesempatan, di sela-sela diskusi “Apa Kabar Sepakbola Aceh?” yang diselenggarakan Lingka Forum pada 7 Januari 2014 lalu, Nasir Gurumud mencoba menjawab pertanyaan itu. Dia menceritakan bahwa prestasi generasinya tersebut disebabkan oleh dua faktor: Pertama, prestasi tersebut lahir bukan dari proses yang instan, dan; Kedua, adanya faktor dari H Dimurthala.

Secara khusus Nasir Gurumud, dan hampir semua kita mengamini, pendapatnya, mengatakan “pengorbanan” Dimurthala untuk Persiraja yang luar biasa, sehingga kita bisa juara pada saat itu. Nasir menambahkan satu pengorbanannya adalah dengan memberi perhatian yang tinggi untuk para pemain; mulai dari pelatih yang berkualitas, latihan di luar negeri, bahkan sampai penyediaan jersey berkualitas tim nasional Eropa, di mana klub lain di Divisi Utama saat itu tidak memilikinya.

Muara dari kesungguhan itu kemudian melahirkan fanatisme dan kebanggaan. Pemain memiliki kebanggaan memakai seragam orange Persiraja, sehingga bermain dengan hati dan penuh fanatisme. Para pendukung juga demikian. Mereka mendukung dengan penuh kebanggaan dan rasa memiliki yang besar atas Persiraja.

Singkatnya, Dimurthala rela miskin untuk kejayaan Persiraja, dan memang di akhir hidupnya dia tidak lagi dalam kejayaan finansial, karena perhatiannya yang sangat luar biasa demi kemajuan sepakbola Aceh. Sehingga wajar ketika kemudian Stadion Lampineung, Banda Aceh, ditabalkan dengan namanya. Inspirasi dari Dimurthala itu, semestinya harus diwarisi dan melekat dalam kepengurusan PSSI Aceh yang baru, di bawah kepemimpinan Adly Calok.

 Harus sungguh-sungguh
Kepengurusan PSSI Aceh yang baru ini haruslah bersungguh-sungguh dan ihklas. Mulailah dengan membentuk manajemen yang bersih, merekrut pemain yang berkualitas, menggelar kompetisi yang kompetitif dan adil secara rutin dan berjenjang, pembinaan usia dini yang berkesinambungan serta menemukan strategi-strategi baru dan jitu dalam melahirkan tim sepakbola Aceh yang hebat, sehingga nantinya dapat kembali menumbuhkan fanatisme dan rasa bangga segenap masyarakat Aceh.

Dimurthala harus hidup lagi, dalam bentuk aksi dan ketulusannya. Kita tentu percaya kepada ketua PSSI Aceh yang baru ini, bahkan memang harus memberi dukungan yang bulat kepada Adly Calok itu. Bahkan kita harus “memaksa” Adly Calok menjadi “Dimurthala” baru, yang siap miskin untuk kemajuan sepakbola Aceh.

Sehingga nantinya, kita kembali berjaya dan bangga atas prestasi sepakbola Aceh, baik di tingkat Nasional maupun Internasional. Dan, tentunya, tidak hanya terus mengulang-ulang kejayaan era Nasir Gurumud dkk atau merasa hanya cukup bermain imbang 0-0 melawan Uni Soviet, 55 tahun yang lalu. Semoga!

* Rahmat Djailani dan Alkaf Muchtar Ali Piyeung, Penggemar Sepakbola dan Pendukung fanatik Persiraja Banda Aceh. Email: alkaf.muchtar@gmail.com

Editor: bakri

Pengantin Pria di Kintamani Dihajar dan Ditodong Pisau oleh Teman yang Tersinggung di Acara Resepsi

Berita Populer