Antisipasi Kepunahan Tanaman Cokelat di Tahun 2050, Peneliti Mulai Lakukan Strategi Penyelamatan

SERAMBINEWS.COM - Cokelat adalah salah satu kudapan yang disukai banyak orang. Namun, tahukah Anda bahwa cokelat sedang terancam dan bisa saja punah pada tahun 2050 nanti?

Para ilmuwan memprediksikan hal tersebut lantaran perubahan iklim yang drastis, terutama karena kelembapan udara yang berkurang dan juga kenaikan suhu.

Dari prediksi tersebut, ilmuwan sudah mengambil ancang-ancang untuk menyelamatkan cokelat dan biji-bijian lain menggunakan teknologi CRISPR (Clustered Regularly Interspaced Short Palindromic Repeats).

Baca: Cokelat, Makanan Sahabat Janin

CRISPR merupakaan alat yang memungkinkan peneliti untuk mengubah kode genetik. Selama ini CRISPR lebih terkenal sebagai teknologi pengeditan gen yang digunakan untuk menciptakan bayi, memberantas penyakit, atau mengembalikan spesies mammoth wol yang sudah punah.

Seperti diberitakan Inverse, Selasa (2/1/2018), langkah ini diambil oleh para ilmuwan dari University of California, Barkeley, dan perusahaan pangan global Mars. Keduanya berkolaborasi menciptakan tanaman kakao yang dapat bertahan dalam suhu lebih hangat dan kondisi lebih kering.

Dengan menggunakan CRISPR, mereka memodifikasi DNA tanaman supaya dapat tumbuh pada ketinggian yang berbeda dibanding saat ini. Tak hanya itu, nantinya tanaman cokelat yang dihasilkan lewat CRISPR juga akan dibuat tahan hama dan penyakit.

Kemampuan untuk tumbuh di berbagai ketinggian adalah kunci untuk tanaman tetap hidup.

Hal ini sesuai dengan laporan yang dikeluarkan National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) pada Februari 2016 lalu. NOAA menyebutkan bahwa pohon kakao hanya bisa tumbuh pada suhu 20 derajat di utara dan selatan khatulistiwa.

Selain itu, pohon kakao juga membutuhkan kelembapan yang tinggi, hujan lebat, nitrogen tanah yang kaya, dan suhu yang stabil untuk berkembang.

Dari analisis tersebut, para ilmuwan memprediksi bahwa kenaikan suhu dan kelembapan di masa depan akan memengaruhi tiga negara yang aktif memproduksi kakao, antara lain Pantai Gading, Ghana, dan Indonesia.

"Pada tahun 2050, kenaikan suhu akan mengubah daerah budidaya kakao. IPCC (Panel antar pemerintah tentang perubahan iklim) melaporkan bahwa ketinggian optimal Pantai Gading dan Ghana untuk menanam kakao meningkat dari 350-800 kaki menjadi 1.500-1.600 kaki di atas permukaan laut," tulis Michon Scott dalam artikel yang terbit 2016 itu.

Baca: Biji Kakao Diolah Pertama oleh Suku Maya, Sejarah Cokelat Bisa Ditemukan di Indonesia

Jennifer Doudna, seorang ahli biokomia dari UC Berkeley yang mengawasi kolaborasi dengan Mars berkata bahwa CRISPR memiliki implikasi pada genetik. Artinya, alat ini cenderung akan memberikan dampak yang lebih serius pada makanan.

"Banyak proyek melindungi tanaman dari perubahan iklim yang dirancang menggunakan CRISPR. Ini akan membantu petani dan industri," katanya.

Proyek ini juga merupakan bagian dari inisiatif Mars yang lebih besar, sebuah janji 1 Miliar dolar untuk mengurangi jejak karbon bisnis dan meningkatkan keberlanjutan hasil panen yang digunakan dalam produk.

Pada 2008, Mars sudah meluncurkan proyek Genm Kakao. Proyek tersebut merupakan upaya untuk merilis urutan gen kakao sehingga petani dapat mengidentifikasi sifat adaptasi perubahan iklim, hasil yang disempurnakan, dan efisiensi penggunaan air dan nutrisi.

Artikel ini telah ditayangkan pada kompas.com dengan judul : Rencana Besar Ilmuwan untuk Selamatkan Cokelat dari Kepunahan