Kanal

Belajar dari Habil

-

Oleh: Jarjani Usman

“Siapa saja menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan siapa saja yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bagian pun di akhirat” (QS. Asy Syuraa: 20).

Setiap masa berkurban datang, kita sepatutnya mengingat kembali sejarah dua anak Nabi Adam ‘alaihissalam, Habil dan Qabil. Dua-duanya pernah diminta berkurban. Yang satu ikhlas karena Allah, yang satu lagi tidak. Kurban Habil diterima Allah, sedangkan dari Qabil ditolak.

Apa yang pernah terjadi pada anak Nabi Adam itu sepatutnya membuat kita belajar dan berhati-hati dalam berkurban, khususnya berkenaan dengan niat. Niat penting sekali dimurnikan karena Allah, bukan karena riya’. Bila berbuat riya, ibadah kurban yang seharusnya memperoleh pahala yang luar biasa, malah sia-sia.

Tentunya, niat yang ikhlas bermula dari usaha mencari nafkah yang halal. Terbebas dari segala unsur yang haram, walaupun sedikit. Mencampurkan yang haram dengan yang halal sama seperti mencampurkan sedikit daging babi ke dalam daging sapi. Tentunya kita tidak ingin demikian. Oleh karena itu, dalam bekerja sehari-hari kita, antara lain, harus tepat waktu dan niat yang suci. Yang demikian termasuk bagian dari upaya mencari nafkah yang halal, yang sebahagiannya bisa disisihkan untuk kurban atau perbuatan baik lainnya.

Editor: bakri
Sumber: Serambi Indonesia

Warga Gerebek Guru Honorer Asal Madura yang Cabuli Siswi SMP di Dalam Mobil, Awal Kenalan di Medsos

Berita Populer