Kanal

Dalih-dalih Pemburu Kuasa

Suasana gedung DPR RI, Jakarta, Jumat (22/5/2009). KOMPAS/PRIYOMBODO) -

Oleh Bisma Yadhi Putra

KEMUDIAN ditanyailah Hotman Paris oleh para wartawan soal apa alasannya menolak ajakan bergabung dari beberapa partai politik. Dia menyahutnya santai saja: “Saya lebih populer dari partai politik”. Ini seloroh pastinya. Tetapi mengenai gaji, Hotman lantas bicara serius apa adanya: “Pendapatan saya ratusan kali lipat dari pada menjadi anggota DPR”. Jawabannya itu, oleh banyak kader maupun simpatisan partai politik dicap sombong dan dianggap takabur.

Hotman itu cuma satu dari sekian ramai orang yang tidak naif melihat jabatan anggota parlemen. Bahwa dengan posisi tersebut setiap orang akan bisa punya banyak uang, terbukti. Bahwa ada orang yang sudah banyak uang ingin punya lebih banyak uang dengan menjadi anggota parlemen, juga terbukti. Tetapi Hotman adalah satu dari sedikit orang yang mau berprinsip tidak menjadikan parlemen sebagai tempat untuk memperbanyak uang.

Ketika seseorang berterus terang mengatakan “saya tidak mau jadi kepala dinas karena pendapatan dari kebun kopi lebih banyak dari gaji pokok kepala dinas”, itu sama sekali tidak menampakkan sikap angkuh, juga tidak sedang merendahkan posisi yang ditolaknya itu. Sikap semacam inilah manifestasi dari kejujuran dan “merasa cukup dalam keberlimpahan”. Ini seharusnya mengajari pejabat-pejabat yang suka pura-pura tidak banyak uang, pura-pura hidup susah, biar dikasihani masyarakat dan dianggap tidak “main proyek”.

Dalam hal “merasa cukup”, memang terdengar ganjil kalau yang bicara adalah seorang kaya-raya. Bahwa Hotman sudah punya uang banyak, betul. Bahwa dia juga punya harta benda yang melimpah, memang. Bahwa dia tokoh berpredikat flamboyan, seratus persen benar. Bahwa jika dia mau menjadi anggota parlemen untuk menambah isi rekeningnya, peluangnya besar. Bahwa dia suka bermewah-mewahan dan dikelilingi model-model cantik, lihat sendiri Instagram #hotmanparis atau #hotmanparisofficial.

Akan tetapi “cukup” itu bukan bertalian dengan prinsip “hidup sederhana” saja. Orang yang berkelimpahan pun bisa dan harus mengamalkannya. Tidak semua orang menjadi kaya raya karena ketamakan atau usaha-usaha eksploitatif. Banyak pula yang kaya raya karena berusaha secara halal. Tetapi orang kaya raya yang tidak pernah merasa cukup berpeluang menjadi tamak; akan mengupayakan penambahan kekayaan dengan tindakan-tindakan eksploitatif, koruptif, yang dibungkus dengan dalih-dalih manipulatif.

Dalih politikus
Kalau dalih menjadi anggota parlemen agar bisa membantu banyak orang, menjadi pengacara pun bisa membantu banyak orang, seperti yang dilakukan Hotman selama ini dengan memberi konsultasi serta pendampingan hukum gratis bagi yang tidak mampu. Kalau Hotman mau menggunakan dalih “menjadi anggota DPR agar bisa menyejahterakan rakyat” bisa-bisa saja. Tapi tidak dilakukannya.

Tidak seperti banyak pengusaha kaya raya yang ingin jadi anggota parlemen dengan dalih “mau berbuat untuk lebih banyak orang”, padahal tujuan sebenarnya adalah menambah kekayaan dan memperluas jejaring bisnis melalui kuasa yang dipegang. Bahkan ada yang gara-gara jadi anggota parlemen bisnisnya tak lagi terurus dengan baik. Bosnya mulai terbuai dengan kenikmatan-kenikmatan dalam institusi politik. Justru pada orang-orang seperti inilah kita melihat sifat tamak, takabur, dan merendahkan institusi parlemen itu sendiri.

Hotman tidak mengejek parlemen serta anggotanya yang berpenghasilan lebih rendah. Justru yang paling suka merendahkan parlemen, ya, anggota parlemen itu sendiri, ketika mereka menjadikan lembaga sebesar itu hanya sebatas tempat cari-cari uang. Pemulung datang ke tempat sampah tujuannya untuk cari uang. Tetapi pemulung terus terang: “Tujuan utama kami ke sini mau cari makan”. Beda dengan anggota parlemen yang bersembunyi di balik dalih: “Saya ke sini untuk mewujudkan kesejahteraan orang banyak”. Padahal kedatangannya ke situ untuk “mengenyangkan” diri dari lapar akan kuasa.

Di sekitar kita, fakta-fakta yang menegaskan bahwa kekuasaan tidak pernah mengeyangkan ada banyak sekali. Berserak di sana-sini. Dulu di tahun 2011 ada seorang ketua umum mengatakan bahwa partai politiknya tidak takut kehilangan jatah pos kememterian karena sudah kenyang dengan kekuasaan. Di kemudian hari pengakuan sudah kenyang itu tidak terbukti. Partai politiknya ternyata masih lapar. Terlihat dari dilakukannya siasat dengan sungguh-sungguh agar anggota-anggotanya yang menjadi menteri tetap dipertahankan presiden.

Halaman
12
Editor: bakri
Sumber: Serambi Indonesia

Wanita Tewas Dalam Lemari Pernah Unggah Foto Bersama Pelaku, Sempat Usir dari Kos sebelum Dibunuh

Berita Populer