Kanal

Bermuka Dua

-

Oleh: Jarjani Usman

“Manusia yang paling buruk adalah yang bermuka dua, yang mendatangi suatu kaum dengan muka tertentu dan mendatangi lainnya dengan muka yang lain” (HR. Bukhari).

Pada masa penjajahan dulu, relatif mudah mengenal orang-orang yang bermuka dua. Ada yang berpura-pura bahu-membahu berjuang bersama rakyat, tetapi sebenarnya memihak penjajah demi memperoleh harta duniawi. Negeri sendiri dibiarkan terus terjajah dan rakyat terus sengsara, yang penting dirinya beruntung. Namun di zaman sekarang, agak sulit memastikan seseorang benar-benar bermuka dua.

Soalnya, orang yang dianggap bermuka dua (karena perbedaan aspirasi politiknya), malah sebenarnya orang baik-baik. Sedangkan orang yang biasanya baik-baik, tetapi bisa berubah bermuka dua. Orang-orang yang diharapkan menjadi pembela karena ilmu pengetahuan dan pengalamannya, malah bukan membela siapa yang benar, tetapi membela yang bayar (paling banyak). Kalau perlu, pihak yang benar disalahkan. Idealisme dan agama yang suci begitu mudah digadaikan, demi memperoleh keuntungan besar.

Mungkin menjelang pemilihan umum juga akan bermunculan orang-orang yang bermuka dua. Sewaktu bertemu rakyat pada saat berkampanye, demikian hebat janji-janji perbaikan dan perjuangan untuk kepentingan rakyat disuarakan. Namun setelah terpilih nantinya dan duduk di bangku empuk dengan sesamanya, malah asyik memperjuangkan kepentingan perutnya sendiri hingga jabatannya berakhir.

Editor: bakri
Sumber: Serambi Indonesia

Gadis di Sumbar Diperkosa Teman Pacar saat Kelelahan Mendaki Gunung hingga Akhirnya Tewas

Berita Populer