Kanal

Konsep Pendidikan Berbasis Syariah

Drs Muhammad Nasir (kiri) mewakili Kadis Pendidikan Dayah Aceh, menyerahkan hadiah kepada juara lomba baca kitab kuning di Dayah Perbatasan Safinatussalamah, Desa Biskang, Kecamatan Danau Paris, Aceh Singkil, Rabu (9/5/2018). - IST

Oleh Abdul Gani Isa

MARAKNYA berbagai praktik “haram” dalam beberapa tahun terakhir, seperti narkoba, aliran sesat, pergaulan bebas muda mudi, pelecehan seksual, sampai kepada mesum, bahkan menjurus kepada saling membunuh antarteman, perlu disikapi serius oleh pemerintah dan masyarakat, terutama para orang tua.

Berangkat dari hal itu, dalam Surat At-Tahrim ayat 6 Allah Swt mengingatkan, “qu anfusakum wa ahlikum nara (peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka).” Firman Allah Swt ini pada dasarnya ditujukan kepada orang-orang yang beriman yang dimulai dengan kalimat “Ya ayyuhalladzina amanu. qu anfusakum wa ahlikum nara” (wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.)

Kata qu adalah fi’il amr, menunjukkan “perintah”, dan setiap perintah dalam kaidah bahasa Arab menunjukkan kepada “wajib”, sesuai kaidah yang dibuat para ulama al-asl fil amr lil wujub (asal semua perintah menunjukkan kepada wajib). Wajib dalam terma hukum Islam dimaknai dengan “berpahala bila dikerjakan dan berdosa bila ditinggalkan”.

Ibnu Abbas ra memberi komentar kalimat, qu anfusakan wa ahlikum nara dengan i’malu bi ta’atillahi wattaqu ma’asillahi wa amaru ahlikum bidzikri yunji kumullahu minannar (kerjakanlah olehmu ketaatan kepada Allah, dan hindarilah dengan sesungguhnya perbuatan maksiat dan perintahkan keluargamu mengingat-Nya, nisacaya Allah melepaskan kamu dari api neraka). Pendapat yang sama juga diberikan oleh Qatadah, dan Mujahid (lihat; Ibn Katsir, Juz. IV, 1993: 390).

Praktik Rasulullah saw
Menarik kita simak kembali cara Rasulullah saw menerapkan nilai dan ajaran agama bagi pembinaan keluarga yang berbasis syariah. Di antara banyak konsep atau cara yang beliau lakukan antara lain: Pertama, konsep ramah lingkungan. Dimaksudkan dengan ramah lingkungan adalah “bersih lahir dan bersih batin”. Bila kita mengkaji fikih, setidaknya ada dua macam kotoran atau najis, yaitu hissiyah dan maknawiyah.

Bentuk hissiyah adalah semua kotoran atau najis yang dapat dilihat dengan pancaindera, sehingga dengan mudah bisa dibersihkan. Sedangkan yang maknawiyah adalah kotoran yang tidak bisa dilihat oleh pancaindera, inilah yang disebut dengan “dosa-dosa” anak Adam.

Inilah yang diutamakan Rasulullah saw, agar disekat melalui filter yang bersahaja, tidak hanya yang bersifat hissiyah tidak masuk ke rumahnya, tapi justeru yang maknawiyah pun secara lebih tegas, walau dosa yang sekecil apa pun tidak boleh dekat dan masuk ke dalam rumah tangganya. Rasulullah pernah mengingatkan kita umatnya, kullu lahmin nabata minal haram fa aula binnar (setiap daging yang tumbuh dari jenis haram, maka lebih dekat/condong ke neraka).

Kedua, anjuran beliau addibu awladakum bi tsalatsati khisalin (didiklah anakmu dengan tiga hal) yaitu: (1) Mampu membaca Alquran. Alquran kitab suci umat Islam yang menjadi petunjuk bagi manusia (hudan linnas). Alquran mengajak umat melakukan semua perintah dan menjauhi semua larangan-Nya. Isinya hampir 90 persen berkisar tentang akhlak. Karena itu, tidaklah berlebihan bila Rasululullah saw disebut khuluquhu Alquran (akhlak Rasulullah adalah Alquran).

Jadi, Rasulullah saw adalah diibaratkan seperti Quran berjalan. Inilah yang diisyaratkan Alquran dengan kalimat laqad kana lakum fi rasulillahi uswatun hasanah (pada diri Rasulullah sarat dengan nilai contoh teladan yang baik), yakni akhlaqul karimah. Dan bila umat Islam tidak lagi berpegang teguh dengan Alquran dan al-Sunnah, merupakan awal berada di tepi jurang kehancuran atau berada dalam kesesatan yang nyata;

(2) Mencintai Rasulullah saw. Mencintai Rasulullah dengan sering bershalawat kepadanya, mengikuti contoh amaliah dan disiplin menjalankan perintah Allah Swt, seperti shalat dan lainnya. Shalat menjadi satu hal penting diterapkannya di dalam keluarga, seperti sabdanya, “Muru as-shabiya bis shalah idza balagha sab’a sinin, fa idza balagha `asyra sinin fadhribuhu `alaiha (Suruhlah anak-anakmu mendirikan shalat bila berumur tujuh tahun, bila sudah beranjak sepuluh tahun (tidak mau), maka berilah sanksi kepadanya)” (HR. Abu Daud, dan Turmidzi).

Konsep seperti digagas Rasulullah dinilai sangat penting, terlebih dalam era modern, di mana dampak dari pengaruh lingkungan sangat tidak mudah diawasi. Namun bila si anak sudah disiplin dengan shalat, insya Allah dengan sendirinya bisa mengawal dirinya masing-masing sekalipun saat berada di luar rumah;

(3) Mencintai dan mengenal keluarga Rasulullah saw. Dalam kaitan ini orang tua dianjurkan membawa ke rumah bacaan-bacaan yang bernilai agama, seperti kisah-kisah keluarga Rasulullah, sejarah para nabi dan rasul, atau CD lagu yang bernafaskan Islami. Bahkan yang penting juga mengontrol, mengawasi alat komunikasi yang digunakan seperti handphone/smartphone, pemakaian jaringan internet/komputer, medsos, dan lain-lain.

Hal itu bisa dilakukan baik melalui contoh dari orang tua, pesan moralitas, nasihat yang santun dan bersifat persuasif, dan cara-cara lainnya bilhikmati walmauidzah. Karena menurut Rasulullah saw, setiap anak yang lahir dalam keadaan fitrah, orang tuanyalah yang menjadikan anak itu Yahudi, Nasrani atau Majusi (HR. Bukhari Muslim). Rasulullah juga bersabda, “Didiklah anakmu karena ia akan hidup kelak berbeda dengan situasi zamanmu.”

Dan, ketiga, Rasulullah saw juga menganjurkan, akrimu awladakum wa ahsinu adabahum (muliakanlah anak-anakmu dan perbaikilah akhlak mereka). Memuliakan si anak bukanlah berarti memenuhi semua permintaannya atau juga bukanlah memanjakan secara berlebihan. Bila cara seperti ini yang dipraktikkan, akhirnya bukan si anak yang merasa segan dan hormat kepada orang tuanya, tetapi justeru orang tuanya yang merasa takut kepada anaknya.

Inilah yang diingatkan Imam Syafi’i ra, laitsal yatimu alladzi qad mata waliduhu walakinnal yatima yatimul ilmi wal adabi (tidaklah seorang anak itu dinamakan yatim karena meninggal kedua orang tuanya, tapi anak itu dinamakan yatim karena miskin ilmu dan akhlaknya).

Tanggung jawab keluarga
Sekalipun keberhasilan anak dalam sebuah keluarga tidak sepenuhnya di tangan orang tua, karena dalam sistem pendidikan modern juga dikenal adanya keterlibatan guru di sekolah, dan masyarakat di luar lembaga rumah tangga. Namun bila merujuk kepada teori dan konsep pendidikan Rasulullah saw dan perintah Allah Swt dalam Alquran, tanggung jawab utama tetap berada di pihak keluarga dengan dukungan para pendidik di sekolah dan masyarakat.

Alquran dengan tegas mengingatkan orang tua agar tidak menjerumuskan anaknya ke dalam neraka, yang kayu apinya terdiri dari manusia dan batu. Di mana siksaan api neraka lebih dahsyat dari api di dunia sekarang ini.

Anak adalah anugerah terindah sekaligus amanah (titipan) yang Allah berikan kepada setiap orang tua. Oleh karena itu, orang tua hendaknya memperhatikan kebutuhan dan perkembangan anak-anaknya, agar mereka tumbuh menjadi anak yang cerdas, sehat baik jasmani maupun rohani, dan bar-akhlaqul karimah, serta berbakti orang tua, agama, bangsa dan negara.

Anak dapat membuat senang hati kedua orang tuanya, manakala anak tersebut berbakti kepada mereka, serta taat dalam menjalankan ibadahnya. Namun anak juga dapat membuat susah kedua orang tuanya manakala anak tersebut tidak berbakti kepadanya, serta tidak taat beribadah, apalagi kalau sampai terlibat atau tersangkut dalam masalah kriminalitas atau kenakalan remaja yang lain.

Pada hari itu, tidaklah bermanfaat harta dan anak, melainkan orang-orang yang datang kepada Allah Swt dengan hati yang bersih (QS. al-Syu’ara: 88). Dengan kuat dan semangatnya tanggung jawab orang tua di rumah tangga, guru di sekolah dan masyarakat, insya Allah, segala bentuk isu yang mengkhawatirkan selama ini bisa diatasi secara bersama. Wallahu a’lamu bish-shawab.

* Dr. H. Abdul Gani Isa, SH., M.Ag., staf pengajar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry, dan anggota Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh. Email: aganiisa@yahoo.co.id

Editor: bakri
Sumber: Serambi Indonesia

Berita Populer