Kanal

Refleksi Pendidikan Umat

Ilustrasi seorang pemuda sedang membaca Alquran. - getty images

Oleh Nauval Pally Taran

NAMANYA shuffah, ruang sederhana yang dimaksudkan secara khusus untuk menyukseskan agenda maha penting bagi umat. Institusi pendidikan, yang juga merupakan pondok pesantren pertama bagi umat. Shuffah mendahului institusi-institusi politik. Ia hadir sebagai agenda awal yang membersamai pembangunan masjid. Program pertama Rasulullah di Madinah.

Di dalam shuffah para pelajar yang kurang mampu menetap. Patut diduga, mereka adalah golongan awal dari umat ini yang menikmati pendidikan gratis. Tentu saja Rasulullah saw sebagai pelopornya. Dari Musnad Al-Imam Ahmad dan Siyar A‘lam An-Nubala, kita bisa melacak satu kebijakan mulia, di mana Rasulullah saw mengimbau para sahabatnya agar berpartisipasi untuk ketersediaan konsumsi gratis bagi para pelajar.

Tak ada kesepakatan tentang jumlah pelajar yang menetap di sana. Di dalam Hilyatul Aulia, Abu Nu‘aim menginformasikan bahwa jumlah para pelajar yang tinggal di dalam shuffah tidaklah tetap. Para pelajarnya dikenal sebagai ahlus shuffah, sebagian Muhajirin dan sebagian yang lainnya Anshar. Shuffah dengan segala isinya adalah luapan dari semangat pengentasan kebodohan.

Bagaimana generasi awal umat ini benar-benar melihat pendidikan Islam sebagai prioritas, tentu tidak terlepas dari pesan-pesan penting dalam kitab suci. Wahyu pertama yang dibebankan kepada Rasulullah saw berupa perintah untuk membaca (iqra‘), adalah pemicu kuat akan tumbuhnya semangat ilmu pada diri Rasulullah yang secara baik ditularkan kepada murid-muridnya (para sahabat).

Semangat ilmu itu, apinya terus dijaga pada hari-hari berikutnya dari peradaban baru yang dimulai dengan perintah iqra‘ ini. Terkadang, Allah Swt secara langsung terlibat untuk menjaga api itu. Memberikan maklumat melalui firman-Nya, bahwa pendidikan bagi umat mesti terus bergulir, bahkan dalam keharusan berperang sekalipun.

Allah Swt berfirman, “Tidak sepatutnya orang-orang yang beriman itu pergi semuanya (berjihad ke medan perang). Mengapa tidak, dari tiap-tiap golongan di antara mereka ada beberapa orang yang pergi untuk memperdalam ilmu agama, agar dapat memberi peringatan bagi kaumnya apabila mereka (yang berperang) telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (QS. at-Taubah: 122).

Ruh pendidikan Islam
Upaya untuk memahami ruh pendidikan Islam, tidak akan mungkin tanpa melihat bagaimana generasi awal (para sahabat) memaknai hakikat ilmu (Islam) itu sendiri. Ibnu Mas‘ud, sebagai guru dan ilmuwan terkemuka dari kalangan sahabat, memberikan penjelasan pada kita tentang hal ini. Di dalam Al-Fawaid, Ibnul Qayyim menukil perkataan Ibnu Mas‘ud tersebut bahwa “Ilmu bukanlah banyaknya kumpulan ingatan tentang riwayat-riwayat, namun ilmu adalah khasyah (rasa takut kepada Allah)”.

Dengan menghayati ruh ilmu tersebut, generasi awal umat ini melihat diri dan dunianya atas dasar ketertundukan pada Allah Swt. Yang ini merupakan inti dari tauhid dan Islam itu sendiri. Dari pandangan dunia inilah ikhtiar pendidikan Islam bertolak dan berkelindan. Dalam padanya, memahami dan mengikuti segala petunjuk yang Allah turunkan dengan Rasulullah sebagai penjabarnya, menjadi pokok terpenting dalam hidup.

Maka, bagaimana sejarah mencatat tentang superioritas umat yang telah wujud pada abad pertama Hijriah, tidaklah terlepas dari semangat dan kualitas pendidikan yang telah membentuk dan memperkukuh identitas para sahabat sebagai muwahhidun (insan bertauhid). Secara totalitas mereka tunduk kepada Allah Swt dan loyal pada agama-Nya.

Halaman
12
Editor: bakri
Sumber: Serambi Indonesia

Gadis di Sumbar Diperkosa Teman Pacar saat Kelelahan Mendaki Gunung hingga Akhirnya Tewas

Berita Populer