Kanal

Generasi ‘Yatim Piatu’

Media Sosial - maxmanroe.com

Oleh Hafnidar

AKHIR-AKHIR ini banyak anak-anak yang berubah menjadi “yatim piatu”. Bukan karena tidak lagi memiliki ayah dan ibu, melainkan kehadiran ayah dan ibu tidak lagi dapat dirasakan oleh anak-anak mereka. Satu penyebabnya adalah ketidakmatangan orang tua (ortu) dalam menghadapi teknologi digital yang berkembang pesat. Duduk boleh berdampingan dengan anak, namun mata, pikiran dan perasaan tertuju pada layar kaca handphone, laptop atau televisi.

Lebih ironis lagi, jangankan menghadirkan perhatian dan perasaan untuk anak-anak, wujud fisik pun tidak ada. Fenomena ini sudah umum terjadi. Pagi-pagi Ayah Ibu berangkat kerja dan kembali ke rumah ketika anak-anak sudah istirahat. Ada juga yang lembur sampai larut malam. Pertemuan dengan anak pada hari Sabtu dan Minggu. Itu pun kalo tidak ada jadwal tambahan ortu atau anak, menghadiri undangan atau pun rencana “me time”. Pertemuan di meja makan tidak lebih dari sekedar rutinitas fisik.

Fenomena ini tidak hanya terjadi pada keluarga modern, keluarga di pedesaan juga demikian. Percakapan dengan anak hanya berupa kalimat perintah, biasanya pada level emosi rata-rata atas. Anehnya berkembang nasihat turun-temurun dalam masyarakat Aceh bahwa anak tidak boleh dipuji, tidak boleh terlalu diperhatikan serta orang tua harus menjaga jarak (wibawa) di depan anak-anaknya. Hal ini menjadi satu penyebab orang tua tidak mau berbicara dengan lemah lembut, sopan dengan anaknya, orang tua tidak mampu menjadi pendengar aktif bagi anaknya, orang tua tidak berusaha menjadi moderator yang mampu menggali perasaan anak menjadi untaian kalimat yang diceritakan pada orang tuanya, dan seterusnya.

Situasi yang terus-menerus demikian menyebabkan anak berada dalam kondisi yang bertegangan (stress), ditambah lagi pengaruh pergaulan, ekonomi, sosial dan politik yang tidak kondusif, maka anak mudah sekali tumbuh sebagai seseorang yang memiliki temperamen tinggi, sulit mengontrol diri, mudah meledak-ledak, gampang panik, menyimpan dendam dan sulit memaafkan.

Orang semacam ini kemudian akan lebih memilih hal-hal yang mudah, instant, yang tidak memerlukan kerja keras dan usaha dalam hidupnya. Padahal untuk mendapatkan solusi atas hal-hal sederhana saja, kita membutuhkan usaha dan perhatian khusus. Apalagi berbicara cita-cita masa depan, visi dan misi hidup berbangsa, bernegara, dan beragama. Anak-anak semacam ini kurang mampu merespons gangguan-gangguan yang muncul atau hal-hal yang mengancam ego dirinya (distraksi), dikarenakan terjadinya CT (cognitive tunneling).

CT adalah fokus perhatian yang tiba-tiba berpindah ke hal-hal yang mudah, instant yang tidak memerlukan usaha. CT juga terjadi pada anak-anak muda yang sedang bersemangat meraih cita-cita, namun tiba-tiba berpindah fokus pada pilihan meng-upload foto, membaca status orang lain dan berkomentar di media sosial dari pada membaca buku-buku pelajaran dan mengerjakan tugas sekolah. Begitu juga dengan menonton, jalan-jalan, lebih menarik dari pada menganalisa dan mendiskusikan fenomena, serta teori-teori yang berat. CT tidak lain disebabkan oleh kemampuan fokus/kosentrasi yang kurang. Pengasuhan merupakan satu faktor penyebab.

Pendidikan karakter
Pendidikan karakter sebuah solusi, persis seperti yang diusulkan Bapak mantan Rektor UIN Ar-Raniry, Prof Dr H Farid Wajdi Ibrahim MA (Serambi, 12/8/2018). Namun pertanyaannya, pendidikan karakter harus dimulai dari mana? Bagaimana strategi implementasi yang efektif? Bukankah kurikulum pendidikan nasional saat ini adalah kurikulum karakter? Namun mengapa kasus degradasi moral pada anak-anak sekolah terus meningkat?

Sesungguhnya pendidikan karakter harus dimulai dari rumah bukan sekolah. Sekolah hanya memberi pengaruh 20% saja, sedangkan rumah 60% dan sisanya lingkungan. Wajar jika sehebat apapun kurikulum pendidikan karakter di sekolah akan menemui kegagalan jika tidak melibatkan orangtua di rumah. Kurikulum pendidikan karakter harus ada di rumah dan sekolah. Ironisnya pemahaman kebanyakan orang tua saat ini adalah menyekolahkan anak berarti menitipkan anak di sekolah untuk dididik dan diajar sepenuhnya oleh guru dengan upah bayaran. Miris.

Oleh karena itu, harus ada usaha melibatkan orang tua dalam pendidikan anak. Misalnya, pada awal tahun ajaran kemasukan murid baru, pihak sekolah perlu mengagendakan kegiatan wawancara kedua orang tua calon murid, untuk meyamakan persepsi tentang pengasuhan anak, serta memastikan bahwa kedua orang tua bersedia bersama-sama guru mendidik dan mengajarkan anak.

Halaman
12
Editor: hasyim
Sumber: Serambi Indonesia

Viral Wanita Terobos Rombongan Presiden Jokowi dan Acungkan Jari Tengah, Tabrak Polisi yang Mengawal

Berita Populer