Kanal

Pendidikan Aceh di Era Revolusi Industri 4.0

Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah didampingi Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Syaridin, Ketua Komisi Pendidikan DPRA Abdul Fatah, dan Wakil Ketua Majelis Pendidikan Aceh, Dr Azwar Thaib, mengikuti prosesi peringatan Hari Pendidikan Daerah (Hardikda) ke 59 di Lapangan Tugu Darussalam, Banda Aceh Minggu (2/9/2018). - IST

Oleh Syarbaini Oesman

SECERCAH kebahagiaan mewarnaiperingatan Hari Pendidikan Daerah (Hardikda) Aceh 2 September tahun ini. Enam guru dan tenaga kependidikan kita meraih juara nasional pada ajang Apresiasi Pendidik dan Tenaga Kependidikan dan Berdedikasi 2018 yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud). Menjadi sesuatu yang cukup beralasan ketika pencapaian ini disambut dengan sukacita. Karena, Aceh belum pernah meraih penghargaan yang spektakuler semacam itu sebelumnya.

Mungkin masih banyak lagi prestasi lain yang telah diukir guru-guru kita. Sebut saja, misalnya, apa yang dilakukan Mira Fitriana. Guru Biologi dari SMA IT Darul Ulum Umar Faruq, Montasik, Aceh Besar, berhasil menulis buku berjudul 7 Secret of Miracle Rezeki Guru Sholehah. Karyanya ini ditetapkan sebagai satu dari 10 buku terbaik yang ditulis guru. Sudah dicetak ulang sebanyak tiga kali. Ini berarti, sang penulis mulai memetik hasil dari karyanya.

Di luar Aceh, seorang guru Sekolah Dasar secara otodidak berhasil mengembangkan portal belajar untuk guru. Dari hasil mengelola situs yang diberi nama gurusd.net itu, Deni Demian Ranoptri, sang guru sekolah terpencil di Kalimantan Selatan itu bisa meraup pendapatan hingga Rp 70 juta per bulan (Jawapos, 20/9/2016). Di samping tetap berkomitmen tinggi pada pengabdiannya sebagai pendidik, guru-guru tadi melahirkan karya dan mendapatkan “insentif” dari hasil kreativitasnya.

Guru-guru yang cerdas, kreatif, terus berkarya dan mendedikasikan pengabdian kepada profesinya sebagai pendidik menjadi harapan kita semua. Akan tetapi, di tengah pencapaian demi pencapaian itu, kita masih mendengar pula kisah miris tentang kondisi pendidikan di sebagian pelosok negeri. Tentang sebagian guru yang belum optimal melaksanakan tugas atau fasilitas pendidikan yang belum merata.

Masih ada sekolah di pedalaman yang operasionalnya belum memenuhi standar pelayanan minimal, bahkan dengan kondisi guru yang minim kualitas, juga kuantitas. Padahal, meski perkembangan teknologi semakin canggih, peran guru tetap tidak dapat digantikan. Guru menjadi aktor utama dalam menghadirkan proses pembelajaran di kelas. Karena itu, proses pendidikan di sekolah selalu menuntut kehadiran peran dan dedikasi seorang guru; guru yang cerdas, kreatif, dan inovatif.

Revolusi Industri 4.0
Berbeda dengan keberhasilan guru terpencil dari Kalimantan Selatan --lulusan Universitas Terbuka yang berhasil mengembangkan portalnya-- dan teman-teman guru yang mengakrabi dunia digital, sejumlah guru kita belum terbiasa memanfaatkan kemajuan teknologi informasi dalam pelaksanaan tugasnya di kelas. Hal ini tidak hanya kontradiktif dengan kisah-kisah di atas, tapi juga tidak sejalan dengan arus perubahan yang sedang melanda dunia seiring dengan terjadinya Revolusi Industri 4.0. Pendidikan kita sekarang berada di tengah-tengah situasi itu.

Meski Dinas Pendidikan Aceh setiap tahun melaksanakan pelatihan dan bimbingan penguasaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) bagi guru, namun hal itu belum mampu menuntaskan permasalahan. Satu kendala adalah keterbatasan anggaran. Ditambah lagi dengan persoalan keterbatasan kewenangan, sejak pemerintah memberlakukan UU No.23 Tahun 2014 yang membatasi Provinsi hanya mengurusi jenjang pendidikan SMA/SMK dan pendidikan khusus/layanan khusus, sehingga masih banyak pendidik yang belum tersentuh layanan.

Dengan kewenangan yang berbatas, provinsi tidak dapat “menyentuh” guru-guru SD dan SMP. Oleh karena itu, sejauh mana penguasaan TIK guru-guru pada jenjang ini, terutama mereka yang bertugas di pelosok, tidak diketahui nasibnya. Karena,tugas ini menjadi kewenangan kabupaten/kota. Karena gambaran-gambaran situasi seperti itu, barangkali, Rektor Universitas Multimedia Nusantara (UMN) Dr Ninok Leksono MA menyebut, dunia pendidikan saat ini sedang mengalami “goncangan” menghadapi era Revolusi Industri 4.0 (Kompas.com, 2/5/2018).

Saya ingin membahasakan secara sederhana, bahwa di tengah derasnya pengaruh teknologi yang sekarang sudah berada pada tahap generasi keempat, dunia pendidikan formal kita di daerah masih dihadapkan pada persoalan-persoalan mendasar. Misalnya, rendahnya minat belajar siswa atau kepedulian masyarakat yang tidak signifikan dengan semangat menciptakan ouput berdaya saing tinggi. Plus, sebagian tenaga pendidik kita yang belum melek IT dan tidak memiliki the fighting spirit untuk maju, menjadi tantangan pendidikan pada era ini. Fenomena ini menjadi suatu hal yang kontradiktif.

Melihat realitas tantangan pendidikan kekinian, seharusnya kita sudah terbebas dari lilitan masalah seperti tadi. Harusnya kita sudah bergerak ke level yang sesuai dengan kondisi objektif masa kini, yakni menyiapkan generasi yang oleh mantan Mendikbud Anies Baswedan disebut sebagai cara berpikir pendidikan abad 21, yang mengubah mindset dari “kamu mau jadi apa?” menjadi “kamu mau buat apa” setelah menyelesaikan proses pendidikan. Sebab, ketika Revolusi Industri 4.0 sudah melanda, akan terjadi perubahan besar pada tatanan kehidupan, terutama menyangkut lapangan kerja.

Revolusi Industri 4.0 memungkinkan terjadinya distruptif teknologi yang memunculkan kecerdasan buatan atau intelegensi artifisial. Sehingga, akan banyak pekerjaan manual manusia yanghilang dan digantikan dengan robot. Meski pada sisi lain, era ini juga membuka peluang untuk memunculkan bidang pekerjaan baru.

Oleh karena itu, sekolah dan tenaga pendidik seharusnya menyediakan dirinya untuk lebih siap menjawab tantangan tersebut. Yakni, menyiapkan lulusan yang mampu beradaptasi dengan berbagai tantangan dan kesulitan era pada saat mana lulusan sekolah harus bersaing dengan robot dan kecerdasan buatan. Yang harus dilakukan oleh lembaga pendidikan justeru menyiapkan peserta didiknya agar memiliki kemampuan memecahkan masalah (problem solving), beradaptasi, kolaborasi, kepemimpinan, kreativitas dan inovasi. Inilah bidang-bidang yang tidak bisa digantikan oleh mesin.

Kebijakan nasional
Ada empat elemen penting yang menjadi perhatian dan akan dilaksanakan oleh pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan daya saing bangsa di era Revolusi Industri 4.0, yaitu: Pertama, penyesuaian sarana dan prasarana pembelajaran dalam hal teknologi informasi, internet, analisis dan komputerisasi untuk menghasilkan lulusan yang kompetitif dan terampil terutama dalam aspek literasi data, literasi teknologi dan literasi manusia. Terobosan inovasi akan berujung pada peningkatan produktivitas dan kualitas dari guru dan siswa.

Kedua, rekonstruksi kebijakan kelembagaan pendidikan yang adaptif dan responsif terhadap Revolusi Industri 4.0 dalam mengembangkan transdisiplin ilmu dan program studi yang dibutuhkan. Selain itu, perkembangan teknologi juga diharapkan menjadi solusi bagi anak bangsa di pelosok daerah untuk menjangkau pendidikan tinggi yang berkualitas.

Ketiga, persiapan sumber daya manusia khususnya guru dan peneliti, peremajaan sarana prasarana dan pembangunan infrastruktur pendidikan, riset, dan inovasi juga perlu dilakukan untuk menopang kualitas pendidikan, riset, dan inovasi. Dan, keempat, perlu dilakukan terobosan dalam riset dan pengembangan yang mendukung Revolusi Industri 4.0 serta pengembangan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas guru dan siswa di Sekolah dan Perguruan Tinggi.

Empat kebijakan nasional tadi menitikberatkan aspek pentingnya penguatan pendidikan, baik re-orientasi program, penyesuaian sarana dan prasarana, maupun kualitas sumber daya manusia yang mengikuti perkembangan era Revolusi Industri 4.0. Oleh karena itu, sekolah sebagai ujung tombak penyiapan SDM masa depan, harus menyesuaikan diri dengan tuntutan perkembangan zaman.

Selain peran sebagaimana diajarkan dalam prinsip Kihajar Dewantara, guru juga menjadi filter dari beragam literasi media yang ditemukan siswa agar tidak mengarah pada hasil yang kontraproduktif. Guru harus mampu melahirkan lulusan yang kreatif, inovatif, mampu menjawab tantangan dengan sumber-sumber belajar yang kredibel, sesuai aturan ilmiah yang menjunjung etika. Dari sini diharapkan bermunculan generasi ‘kekinian’ yang mampu menjawab setiap tantangan zaman, berkarakter dan berintegritas.

Sekarang, gelombang revolusi industri 4.0 sedang berlangsung di depan mata. Pemerintah Aceh dengan segala daya dan upaya pun telah menyiapkan langkah-langkah untuk merespon upaya perbaikan mutu pendidikan. Termasuk membentuk 20 cabang dinas untuk memangkas birokrasi dan meningkatkan pelayanan. Pertanyaanya, bagaimana pendidikan Aceh ke depan? Ini tentu sangat tergantung dari bagaimana kita menyikapi gelombang perubahan tersebut. Semoga!

* Drs. Syarbaini Oesman, M.Si., Kepala UPTD Balai Tekkomdik Dinas Pendidikan Aceh. Email: ben.nirbaya@gmail.com

Editor: bakri
Sumber: Serambi Indonesia

Berita Populer