Kanal

Mendewasakan Pendidikan Aceh

BUPATI Aceh Tamiang Hamdan Sati menyerahkan penghargaan kepada perwakilan sekolah pemenang lomba, di sela-sela peringatan Hardikda, Kamis (7/9/2017). - SERAMBINEWS.COM/MUHAMMAD NASIR

(Refleksi Hardikda Aceh 2018)

Oleh Rini Wulandari

JIKA usia Pendidikan Aceh diukur sejak 2 September 1959, usai Presiden Soekarno meletakkan batu pertama Kota Pelajar dan Mahasiswa (Kopelma) Darussalam dan diikuti peresmian Fakultas Ekonomi sebagai fakultas pertama, maka usianya kini sudah mencapai 59 tahun. Usia kepala lima dalam ukuran usia manusia yang tidak lagi muda, namun telah menjelma menjadi “pendidikan Aceh” yang dewasa.

Layaknya manusia, ada pasang surut ketika melewati masa merangkak, berdiri, berjalan. Ada kalanya jatuh dan bangun, namun itu adalah dinamika yang normal. Begitupun dengan nasib masa depan pendidikan Aceh. Kelahiran dua civitas akademika Aceh, Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) dan IAIN yang kini telah menjelma menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry adalah buah manis, atau karya besar tokoh-tokoh pendahulu Aceh di bidang pendidikan, seperti disebut Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah.

Dan, seperti dikatakan oleh banyak orang, tugas menjaga dan meneruskan perjuangan lebih berat dari kerja rintisan awal tersebut. Kerja berikutnya akan berhadapan dengan banyak rintangan. Tidak hanya persoalan pola pikir (mindset), budaya, namun juga perbedaan pendapat dalam memilih kebijakan dan strategi mana yang harus didahulukan untuk mencapai hasil yang terbaik. Apalagi jika rintangan tersebut berhadapan dengan persoalan politik, pastilah akan menjadi lebih rumit dan pelik.

Meskipun pemberlakuan UU No.23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah mengatur kewenangan dalam penyelenggaraan pendidikan, namun dalam menyikapi regulasi tersebut diperlukan upaya untuk meningkatkan kualitas koordinasi antarjenjang pemerintahan, agar perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan menjadi sinergi yang saling menguatkan.

Semakin berat
Kini tantangan pendidikan Aceh menjadi semakin berat, terutama ketika perubahan waktu, tidak saja mengubah pola pendidikan, namun melahirkan generasi yang berbeda jauh dengan generasi sebelumnya. Generasi yang harus bergerak cepat mengikut zaman yang popular dengan sebutan generasi Z atau generasi milenial, sebagai kelanjutan generasi Y.

Kita tentu masih ingat bagaimana kita tertatih pada 2015-2016 lalu, ketika hasil Uji Kompetensi Guru (UKG) menunjukkan peringkat kompetensi guru Aceh berada pada urutan tiga terendah secara nasional. Lalu pada 2016 Aceh menempati peringkat 23 nasional. Kemudian secara perlahan bangkit berada pada urutan 15 nasional pada 2017, berdasarkan data Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB), UKG yang dikeluarkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemendikbud RI).

Perkembangan itu menunjukkan bagian dari etos kerja yang dilakukan Pemerintah Aceh untuk mengejar berbagai ketertinggalan bidang pendidikan yang ada. Apalagi ketika pemerintah secara serius memilih tema besar Hardikda dengan “Aceh Carong Menuju Era Industri 4.0”. Pemilihan tema ini, seperti diamanatkan oleh Plt Gubernur Aceh, agar dapat mengakselerasi target capaian pembangunan bidang pendidikan agar sesuai dengan target pendidikan nasional.

Di dalamnya memuat dua tantangan besar, yaitu: Pertama, melanjutkan kerja-kerja mengejar ketertinggalan dan; Kedua, mengatasi tantangan besar millennium baru, generasi Z, generasi yang terhubung dengan kecepatan gerak perubahan, karena mengacu pada perkembangan tehnologi yang kian pesat.

Halaman
12
Editor: bakri
Sumber: Serambi Indonesia

Wanita di Medan Dicegat 4 Teman Sosialitanya saat Naik Taksi, Babak Belur Dihajar Pakai High Heels

Berita Populer