Kanal

PA Main Politik Dua Kaki

MAWARDI ISMAIL,Pengamat Politik - SERAMBINEWS.COM

BANDA ACEH - Partai Aceh (PA) selaku partai lokal yang memiliki konstituen terbesar di Aceh ditengarai ingin memainkan politik ‘dua kaki’ dalam Pilpres 2019 nanti. Hal itu setidaknya mulai terbaca ketika dua elite partai itu berbeda sikap politik dan dukungan untuk calon presiden dan wakil presiden pada Pilpres 2019 nanti.

Demikian antara lain dikatakan pakar hukum dan pengamat politik di Aceh, Mawardi Ismail SH MHum yang diwawancarai khusus oleh Serambi kemarin, menanggapi berita sebelumnya, “Mualem Dukung Prabowo, Abu Razak Perkuat Jokowi”.

“Dengan adanya sikap itu membuka peluang orang menafsirkan permainan politik dua kaki Partai Aceh, bisa saja ditafsirkan seperti itu. Kalau saya juga melihat seperti itu (politik dua kaki), ada gejala ke situ,” kata Mawardi Ismail SH MHum kepada Serambi, kemarin.

Diberitakan sebelumnya, Sekretaris Jenderal PA, Kamaruddin Abubakar alias Abu Razak mengaku akan mendukung Jokowi-Ma’ruf Amin. Sedangkan Muzakir Manaf atau Mualem masih setia dalam barisan Prabowo. Mualem akan mendukung Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno sebagai capres dan cawapres Indonesia pada pilpres mendatang.

Perbedaan pilihan politik antara dua elite PA dan KPA ini memang cukup mengejutkan. Wajar saja, selama ini PA identik dengan Prabowo Subianto (Gerindra) dalam arus dukungan politik nasional.

Memang, ini bukan pertama sekali perbedaan dukungan di internal mantan kombatan dalam arah politik nasional. Pada pilpres 2014, antara Zaini Abdullah, Apa Karya, dan Mualem juga terjadi perbedaan pilihan. Namun, saat itu dianggap wajar saja, karena antara ketiga elite itu memang berseberangan dalam pandangan politk.

Sedangkan antara Mualem dan Abu Razak keduanya masih bersama-sama dalam satu barisan hingga saat ini. Keduanya adalah elite PA dan KPA, yang memiliki pengaruh dan masih mengayomi anggotanya di seluruh Aceh.

Sebelumnya, Abu Razak telah membantah tegas isu PA ingin memaikan politik dua kaki. Dia mengatakan, dukungannya kepada pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin pada Pilpres 2019 masih sebatas dukungan pribadi, bukan dukungan partai.

Namun, Mawardi Ismail mengatakan, Abu Razak ini juga salah satu representatif dari PA dan KPA. Otomatis, apa pun statemen yang dikeluarkan pasti dianggap sebuah pandangan politik partai. “Bagaimanapun dia adalah pimpinan partai, antara perkataan pribadi dan jabatannya ini sulit dipisahkan,” kata Mawardi Ismail.

Masih menurut Mawardi, sebelum Abu Razak mengatakan akan mendukung Jokowi pada Pilpres nanti, sebenarnya rencana PA untuk memainkan politik dua kaki sudah tercium. Fenomena itu sudah terlihat ketika banyaknya kader PA yang maju ke DPR RI melalui sejumlah partai nasional. “Fenomenanya sudah terlihat karena ada kader PA yang maju dengan partainya pendukung Jokowi dan ada juga yang maju dengan partai pendukung Prabowo,” kata Mawardi.

Terkait isu tersebut, pakar hukum dan pengamat politik di Aceh, Mawardi Ismail SH Mhum mengatakan, Partai Aceh (PA) yang notabene memiliki kader-kader dan simpatisan yang loyal, harus segera mengumumkan sikap politiknya. Alasannya, karena PA memiliki konstituen yang besar dan untuk menghindari perbedaan pendapat di internal PA. “Ya, PA harus segera mengumumkan sikap politiknya. Kita lihat dulu sikap politik partai Aceh bagaimana,” katanya.

Mungkin PA nanti mengumumkan sikap politik bahwa kadernya bebas memilih calon presiden dan wakil presiden pada Pilpres 2019. “Yang penting untuk level DPRK dan DPR tetap mementingkan kepentingan Partai Aceh. Makanya sikap Partai Aceh ini penting untuk ditunggu,” kata Mawardi.

Ditanya Serambi apakah akan ada kader lain yang akan mengikuti jejak Abu Razak untuk mendukung Jokowi sebagai capres, Mawardi menjawab simpel sekali. “Kalau jejak Abu Razak aman, pasti akan ada jejak yang lain,” katanya.

Begitu pun, dalam mengambil sikap politik--meski diakui secara pribadi--Abu Razak pasti sudah membuat perhitungan matang-matang. Lantas, apakah Mualem akan marah kepada Abu Razak karena berbeda pandagan politik? Menurut Mawardi tidak.

“Saya rasa tidak, sebab Abu Razak ketika mengambil sikap pasti sudah mempertimbangkan itu. Abu Razak itu kader senior, tidak mungkin dia mengambil tanpa perhitungan yang mendalam,” demikian Mawardi Ismail.(dan)

Editor: bakri
Sumber: Serambi Indonesia

Video Detik-detik King Kobra Ditangkap Kurir JNE di Perumahan, Warga Mengaku Lihat Ada 6 Ekor Ular

Berita Populer