Kanal

Sekolah Bebas Rasa Takut

Siswa Simeulue memperlihatkan hadiah yang diraih dari berbagai lomba yang diikuti di tingkat daerah maupun di luar daerah usai upacara Hardikda ke-59, Senin (3/9/2018). - SERAMBINEWS.COM/SARI MULIYASNO

Oleh Muazzah

SEKOLAH, rumah kedua bagi anak-anak di seluruh penjuru bumi. Tempat yang ditujukan bagi mereka untuk menimba ilmu sebanyak-banyaknya. Syarat mutlak sebuah sekolah ialah adanya siswa dan guru, karena tanpa salah satunya, proses utama di sekolah, yaitu belajar mengajar, tidak dapat terlaksana. Meski dewasa ini, hal tersebut sedikit mengalami pergeseran makna. Sekolah kini tak lagi menjadi satu-satunya tempat mengejar ilmu. Ada banyak kelas maya yang tersedia, dan ada banyak sumber belajar selain guru.

Sekolah secara konvensional, mutlak butuh lingkungan yang positif bagi seluruh penghuninya. Positif dalam artian memberikan rasa aman dan nyaman bagi semua, baik siswa maupun gurunya. Hal ini akan memberikan efek secara holistik pada proses dan hasil akhir pendidikan di sekolah. Sehingga meniadakannya akan menjadikan sekolah bagai tempat yang menakutkan.

Merdeka belajar
Saat di sekolah, para peserta didik memiliki kewajiban belajar, menimba ilmu yang disajikan oleh guru, baik secara langsung maupun tidak langsung. Siswa datang ke sekolah untuk mendapatkan banyak pengetahuan baru, yang sebelumnya tidak mereka miliki. Dengan dalih ini, orang tua mempercayakan sepenuhnya urusan transfer ilmu dilakukan oleh guru-guru di sekolah untuk anak-anaknya.

Namun demikian, tidak dapat kita pungkiri bahwa ada banyak sekolah yang belum layak dikategorikan sebagai sekolah ramah anak. Sekolah tanpa sadar menjadi tempat yang menakutkan bagi para siswanya. Jangankan untuk mendapatkan banyak ilmu, banyak siswa justru menjadi terpuruk akibat lingkungan sekolah yang tidak kondusif.

Siswa yang harusnya belajar dengan merdeka, justru terkukung oleh rasa takut. Ketakutan yang diakibatkan oleh ketidaktahuan maupun karena sistem, kerap terjadi di banyak sekolah di Indonesia. Dari awal sekolah hingga akhir, semua proses dijalani dengan berbagai rasa takut, bahkan saat sekolah belum dimulai sekalipun. Siswa dan orang tua takut tidak lulus di sekolah yang menjadi target utama, saat proses pemilihan sekolah. Saat sudah diterima, semakin banyak rasa takut yang menyertai si-anak.

Dimulai rasa takut saat berangkat sekolah, takut terlambat, kelupaan mengerjakan PR, kelupaan akan kelengkapan atribut sekolah, dan lainnya. Saat di sekolah, ketakutan bertambah, takut tidak memahami pelajaran, takut tidak mampu menyelesaikan tugas, takut tidak bisa menjawab ujian, takut tidak memiliki teman, dan ketakutan-ketakutan lainnya. Dan hingga menuju akhir proses sekolah, anak-anak memiliki ketakutan yang maha besar, takut tidak lulus UN, takut nilai rendah, takut tidak bisa melanjutkan ke jenjang selanjutnya.

Ketakutan-ketakutan inilah yang pada akhirnya membuat proses pendidikan menjadi rusak. Anak-anak bersekolah tidak dengan kebahagian selayaknya pencari ilmu. Anak-anak tak dapat menemukan hal-hal yang disenanginya karena terlalu terfokus pada hal-hal yang ditakutinya, atau orang tua dan gurunya takuti. Hal ini berdampak pada psikologis anak, dan ada banyak kasus menyedihkan akibat ketakutan-ketakutan yang diciptakan secara tak sadar tersebut.

Ingatkah kita pada kasus bunuh diri seorang pelajar yang tidak lulus UN, tak diterima di sekolah favoritnya, dan berbagai kasus kekerasan yang terjadi pada siswa maupun yang dilakukan oleh siswa. Perundungan, tawuran, penyalahgunaan narkoba, hingga kasus bunuh diri, merupakan efek samping dari “rasa takut” yang diberikan oleh sistem pendidikan. Yang jika dibiarkan begitu saja, akan terus memakan korban, yang tak lain ialah siswa sendiri.

Merdeka mengajar
Tak hanya siswa yang dihantui rasa takut oleh pendidikan kita, pun demikian guru. Guru yang harusnya merdeka mengajar, juga terkukung oleh peraturan kaku dan target-target melangit pemangku kebijakan pendidikan. Guru dituntut dengan hal-hal yang terkadang di luar batas kemampuannya sebagai seorang guru. Di satu sisi, guru dituntut untuk memberikan performa terbaik mereka di sekolah, namun di sisi lain, kaki mereka diikat dengan segudang peraturan yang kadang tak manusiawi.

Halaman
12
Editor: bakri
Sumber: Serambi Indonesia

Ditemukan Tewas di Sawah, Mahasiswi Aceh Ternyata Dibunuh Pacar karena Alasan Ini

Berita Populer