Kanal

Ayo Hijrah, Bro!

Ribuan jamaah dari berbagai kabupaten larut dalalm zikir dan shalawat nabi pada puncak peringatan tahun baru Islam tahun baru Islam - SERAMBINEWS.COM/IDRIS ISMAIL

Oleh Adnan

Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mau mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. (QS. Ar-Ra’d: 11)

HIJRAH bermakna mengubah, meninggalkan dan menjauhkan sesuatu, serta berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Istilah hijrah populer dengan proses perpindahan (migrasi) Rasulullah Saw dan para sahabat dari Mekkah ke Yatsrib (Madinah). Selain sebab sosial-politik yang tidak mendukung revolusi dakwah di Mekkah, berupa intimidasi, eksploitasi, diskriminasi, dan pemboikotan jual beli, hijrah bertujuan untuk melakukan transformasi, ekspedisi, reformasi, dan perluasan jaringan serta pengembangan sayap dakwah secara global dan mendunia. Dalam jangka waktu sepuluh tahun Yatsrib pun bertransformasi menjadi negara (daulah, state) beradab dan berperadaban hingga dinamai Madinah di bawah kepemimpinan Rasulullah saw.

Untuk mengenang reformasi besar tersebut membuat Khalifah Umar bin Khattab (13-23 H/634-644 M) menetapkan peristiwa hijrah sebagai awal penanggalan atau kalender Islam (tahun Hijriah). Kini hijriyah memasuki tahun 1440. Bermakna, sudah 1440 tahun penanggalan Hijriah berlangsung atas jasa besar Khalifah Umar bin Khattab. Pun, hijrah menjadi spirit kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab untuk melakukan ekspansi, penaklukan, dan perluasan wilayah kekuasaan hingga ke luar Jazirah Arabiyah, semisal Mesir, Palestina, Afrika Utara, Syria, Persia, dan Romawi. Dari sana wilayah kekuasaan Islam terus meluas dan berkembang pesat. Sebuah prestasi besar yang dilandasi dengan spirit hijrah.

Menyingkap pesan
Sebab itu, hijrah merupakan peristiwa besar yang menyingkap pesan penting lintas-zaman bagi perbaikan diri, bangsa, dan agama. Jika menilik secara mendalam (holistik), maka hijrah menyingkap pesan penting di antaranya: Pertama, menjadikan Allah Swt sebagai pusat orientasi (center oriented). Saat itu ada orientasi hijrah untuk kepentingan duniawi dan materi, berdagang dan berbisnis, serta berkeluarga. Hingga menjadi asbabul wurud munculnya hadis, “Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah.” (HR. Bukhari-Muslim).

Fenomena orientasi hijrah itu penting direfleksikan agar dalam setiap hijrah, berupa perubahan, perbaikan, dan pemajuan, penting meneguhkan dan mengokohkan orientasi secara benar. Jangan sampai hijrah dilakukan hanya untuk kepentingan style, trendy, mode dan merek, popularitas, serta pragmatisme. Sebab, disoriented telah menyebabkan munculnya problematika baru di tengah masyarakat. Seorang caleg saat kampanye berapi-api mengatakan anti-korupsi, peduli dan merakyat, ingin mewujudkan kemakmuran rakyat, dan sejumlah jurus tipudaya lainnya. Tapi, nyatanya setelah terpilih terlibat korupsi, tuli dan buta terhadap kepentingan rakyat, lupa diri. Ini akibat orientasi nyaleg untuk mencari pekerjaan, kekayaan, jabatan. Bukan untuk perubahan, perbaikan, pemajuan, dan pengabdian (QS. Al-Bayyinah: 5).

Sebab itu, pesan hijrah agar meneguhkan dan mengokohkan pusat orientasi dalam setiap perubahan, perbaikan, dan pemajuan itu Allah Swt. Bermakna, setiap tindakan dan kebijakan, dan apapun yang dilakukan akan dipertanggungjawabkan dihadapan Allah Swt. Berlaku adil akan mendapatkan kemuliaan. Dan, berlaku curang akan mendapatkan kemurkaan. Jika orientasi ini menghujam dalam setiap jiwa, maka lenyaplah korupsi kolusi nepotisme (KKN), kecurangan, kemunafikan, egoisme, mementingkan kepentingan pribadi dan golongan, dan ketidakadilan. Sebab, belbagai persoalan bangsa bermunculan diawali dari disorientasi dalam bersikap dan berbuat.

Kedua, membangun masjid sebagai pusat keumatan. Saat hijrah Rasulullah saw mendirikan Masjid Quba, dan Masjid Nabawi. Masjid dijadikan pusat keumatan. Masjid bukan hanya sekadar tempat sujud dan menunaikan shalat lima waktu. Tapi, masjid tempat menyelesaikan persoalan keluarga, musyawarah, pembelajaran dan pengajaran, asrama, rumah sakit, pusat ekonomi, menyusun strategi perang, dan memecahkan persoalan umat (QS. An-Nur: 36-37). Bermakna, masjid dijadikan tempat penyelesaian dan pemecahan masalah. Filosofi masjid sebagai pusat ketenangan, kebahagiaan, keramahan, peka dan peduli, kebersamaan dan kekompakaan, persatuan dan kesatuaan, benar-benar dapat diwujudkan dalam kehidupan.

Kini realitasnya masjid hanya sekadar tempat sujud dan shalat lima waktu. Bahkan, banyak masjid bukan lagi tempat menyelesaikan dan memecahkan masalah, tapi menjadi sumber masalah. Di mana masjid menjadi pusat hegemoni, dakwa-dakwi, keributan dan perpecahan, egoisme dan individualistik, intoleransi, jorok, kumuh, dan jauh dari filosofi masjid yang sesungguhnya. Sebab itu, keberadaan masjid kini perlu dikembalikah ke khittahnya sebagai pusat keumatan. Momentum hijrah hendaknya benar-benar dapat mengembalikan masjid kepada wujud dan khittah yang sesungguhnya. Artinya, masjid silahkan dikelola oleh siapa saja selama masjid dikembalikan ke khittahnya.

Ketiga, membangun persaudaraan seiman (ukhwah imaniyah). Konsep Rasulullah Saw dalam mempersaudarakan kaum Muhajirin dan kaum Anshar merupakan satu prestasi gemilang dalam peristiwa hijrah. Dimana penduduk yang berbeda bangsa, suku, kabilah, keluarga, dapat dipersatukan dan dipersaudarakan laksana satu keluarga (QS. al-Hasyr: 9). Iman menjadi indikator utama dalam mempersaudarakan kedua kelompok tersebut (QS. al-Hujurat: 10). Bukan hanya itu, seluruh kaum minoritas yang berada di Madinah, baik Yahudi, Nasrani, penganut kepercayaan, mendapatkan perlakuan istimewa di bawah kepemimpinan Rasulullah Saw dan dipersatukan dalam piagam Madinah. Keragaman penduduk Madinah laksana keragaman penduduk Indonesia yang disatukan dengan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika.

Spirit baru
Jika menilik secara mendalam, maka dapat disimpulkan bahwa hijrah tidak boleh mati dan berhenti. Hijrah harus terus dinamis, berkembang, dan menghujam di dalam dada. Peristiwa hijrah bukan sekadar untuk dikaji, bernostalgia, ditelusuri, dan didiskusi. Tapi, peristiwa hijrah harus mampu membawa spirit dan semangat baru dalam setiap perubahan, pemajuan, dan perbaikan. Jika reformasi besar bernama hijrah tersebut tidak mampu memberikan sumbangsih spirit dalam perubahan, pemajuan, dan perbaikan. Maka mesti tidak ada persitiwa yang jauh lebih besar untuk dijadikan spirit dalam setiap perubahan, pemajuan, dan perbaikan diri, bangsa, dan agama.

Spirit hijrah bukanlah perang fisik, tapi revolusi mental. Mental kerdil telah membunuh spirit, menurunkan gairah, menghujam sifat malas, sombong dan congkak, serta membutakan nurani dalam setiap diri manusia. Akibatnya, menjadi pribadi yang kalah, lemah, tidak mampu bersaing dan berkompetisi, fisik merdeka tapi jiwa tersandera, dan tidak akan mampu bertransformasi menjadi lebih baik. Sedangkan mental baja akan menumbuhkan gairah, meningkatkan stamina, menghujam semangat untuk bertransformasi menjadi lebih hebat. Akhirnya, akan menjadi pribadi pemenang, bangsa maju dan berkembang. Sebab, Tuhan tidak akan mengubah kondisi suatu kaum hingga setiap orang mau mengubah diri sendiri. Ayo hijrah, bro!

* Adnan, S.Kom.I., M.Pd.I., Dosen Bimbingan Konseling Islam, Sekretaris Jurusan Ilmu Alquran dan Tafsir IAIN Lhokseumawe, Aceh. Email: adnanyahya50@yahoo.co.id

Editor: bakri
Sumber: Serambi Indonesia

Hanyut di Laut sampai ke Jepang selama 49 Hari, Begini Cara Aldi Novel Adilang Bertahan Hidup

Berita Populer