Kanal

Muhasabah

Para jamaah tetap mengikuti acara Zikir Akbar Gemilang dalam rangka memperingati Tahun Baru Islam. SERAMBI/BUDI FATRIA -

(Menyongsong Tahun Baru Islam 1440 H)

Oleh Abdul Gani Isa

Hasibu anfusakum qabla antuhasabu (Hisablah dirimu, sebelum kamu dihisab). Umar Ibn Khattab

TANPA terasa, bumi terus berputar. Setiap diri tahu berapa lama sudah berada di dunia ini, namun tak seorang pun tahu berapa lama lagi berada di bumi fana ini. Ya. Semua kita memakluminya, tahun pun berganti seirama dengan senjanya umur manusia. Ini memberi makna sadar atau tidak, kita antre menanti ajal yang kian dekat. Di satu sisi umur manusia terus bertambah, namun di sisi lain dipastikan semakin dekat dengan alam barzakh (kubur).

Bilangan bulan dalam setahun pun tidak pernah bertambah dan juga tidak pernah berkurang, yaitu tetap dua belas bulan dalam perhitungan Allah Swt, “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus...” (QS. al-Taubah: 36).

Memasuki tahun baru Hijriah, ditandai dengan masuknya bulan Muharram. Yang berarti, kita meninggalkan 1439 Hijriah dan memasuki tahun baru 1440 Hijriah. Namun diingatkan agar umat Islam dalam menyambut tahun baru ini tidak selayaknya seperti orang-orang nonmuslim merayakan tahun baru Miladiyah (Masehi), dengan euforia dan larut dengan kenikmatan duniawi.

Di tahun baru Hijriah ini, kita sebagai muslim yang taat, perlu mengintrospeksi diri (muhasabah), terhadap semua apa yang telah kita perbuat. Dan memilih semua bentuk amalan yang baik untuk tetap kita pertahankan dan meningkatkan amalan yang baik untuk kita kerjakan, serta meninggalkan semua perbuatan yang tidak bermanfaat, baik untuk diri maupun untuk semua orang di luar diri dalam bermuamalah.

Di dalam tahun baru ini, kita senantiasa berusaha untuk menjadi hamba Allah Swt yang taat akan perintahnya, dengan menjalankan semua kewajiban, menegakkan hukum syariat-Nya, dan menjauhi segala larangan-Nya. Allah Swt berfirman bahwa manusia memiliki tugas utama untuk beribadah kepada-Nya (QS. al-Dzariyat: 56). Kalaulah ditahun-tahun lalu kita masih sering melakukan berbagai kesalahan atau masih banyak kekurangan, maka marilah kita memperbaiki diri menuju kesempurnaan, baik dalam beribadah, bekerja, bermasyarakat, dan berkreasi sejalan dengan rambu-rambu syariat Ilahi Rabbi.

Pengertian hijrah
Sesuai dengan makna aslinya, hijrah memiliki pengertian meninggalkan (at-tarku) atau berpindah (al-intiqâl). Jika di masa-masa lalu masih banyak berbagai kemaksiatan yang kita lakukan, maka marilah kita ganti kemaksiatan itu dengan semangat memperbanyak amalan saleh. Mengajak orang berbuat yang makruf dan mencegahnya dari berbuat munkar. Kapan lagi kita memperbaiki diri, kalau bukan dimulai dari sekarang (ibda‘ binafsik). Dan, tidaklah pantas kita menundanya, karena kita tidak tahu kapan kehidupan di dunia ini berakhir.

Perlu diingat bahwa Allah Swt tidak menjadikan kehidupan di dunia ini abadi, sebagaimana firman-Nya, “Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia pun sebelum kamu Muhammad. Tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan kematian, Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kepada Kamilah kamu sekalian dikembalikan.” (QS al-Anbiya: 34-35). Ayat ini sungguh sangat jelas menerangkan, bahwa kehidupan di dunia ini tidak kekal, dan semua yang bernyawa pasti akan merasakan kematian.

Halaman
123
Editor: bakri
Sumber: Serambi Indonesia

Wanita Tewas Dalam Lemari Pernah Unggah Foto Bersama Pelaku, Sempat Usir dari Kos sebelum Dibunuh

Berita Populer