Kanal

Menggagas PKA di Perbatasan

Peserta lomba musik garapan kreasi Aceh, Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) 7 Tahun 2018, di komplek Taman Seni Budaya, Banda Aceh. - SERAMBITV.COM

Oleh Jarjani Usman

PEKAN Kebudayaan Aceh (PKA) VII yang berlangsung pada 5-15 Agustus 2018 di Banda Aceh, baru selesai dihelat. Even empat tahunan ini diharapkan bukan hanya menjadi ajang pameran produk-produk budaya Aceh, tetapi juga membantu memotivasi masyarakat untuk lebih produktif, sebagaimana diusul oleh Mustafa Ibrahim Delima dengan judul “PKA dan produktivitas `ureung’ Aceh” (Serambi, 7/8/2018). Untuk meningkatkan produktivitas sekaligus ekonomi masyarakat, penting juga dibuat semacam area PKA di perbatasan-perbatasan kabupaten/kota di Aceh.

PKA di perbatasan yang saya maksud adalah adanya semacam kompleks sebagai etalase produk-produk budaya setiap daerah setiap memasuki suatu kabupaten kota. Di sana akan dipajang bangunan-bangunan rumah adat dengan aksesoris khas masing-masing daerah. Dengan kata lain, setiap satu daerah, paling kurang memiliki satu kompleks produk budaya yang bisa disaksikan oleh orang-orang yang singgah di perbatasannya.

Namun demikian, kawasan PKA perbatasan itu bukan untuk meniadakan acara PKA empat tahunan di ibu kota provinsi. Jika PKA empat tahunan di ibu kota provinsi adalah PKA yang sifatnya kumulatif, PKA di setiap perbatasan kabupaten/kota merupakan singkatan dari Pusat Kebudayaan Aceh. Jadi, nanti akan ada PKA Aceh Besar, PKA Pidie, PKA Bireuen, PKA Aceh Utara, PKA Gayo, dan lain-lain.

Manfaat ganda
Jika direalisasikan, kawasan ini akan memberikan manfaat yang berlipat ganda atau multifungsi. Pertama, kawasan PKA ini bisa menjadi kawasan yang mempreservasi atau melestarikan produk-produk kebudayaan yang selama ini sudah kurang dikenal oleh sebahagian masyarakat. Produk-produk budaya setempat diwajibkan pajang, yang dilengkapi dengan sejarah dan cara memproduksikannya.

Kedua, kawasan PKA perbatasan ini bisa menjadi area untuk beristirahat sejenak (rest area) dalam suatu perjalanan jauh. Apalagi selama ini, tempat-tempat peristirahatan sejenak yang disediakan pemerintah di dekat kantor-kantor apparat keamanan tidak dimanfaatkan oleh para pejalan jauh. Alasannya mungkin karena merasa rugi beristirahat pada tempat-tempat yang kelihatannya sangar, kecil dan tidak menawarkan apa-apa untuk cuci mata atau pengisi perut.

Ketiga, kawasan PKA perbatasan ini juga bisa meningkatkan pengetahuan masyarakat luas. Adanya beragam produk khas local bisa membuat masyarakat tertarik untuk singgah untuk beristirahat sebentar sekaligus cuci mata untuk melihat produk-produk budaya khas masyarakat setempat, sekaligus mengenal rumah adatnya.

Misalnya, ketika memasuki wilayah perbatasan Aceh Tengah, akan langsung terlihat keunikan rumah adatnya, kuliner khasnya, dan lain-lain. Hal tersebut tentunya berbeda bila memasuki perbatasan wilayah Aceh Utara dan wilayah-wilayah lain, yang masing-masing punya keunikan tersendiri.

Apalagi PKA yang selama ini dilaksanakan empat tahun sekali di Banda Aceh tidak bisa dinikmati semua orang selama ini karena terlalu berdesak-desakan. Saya yang tinggal di kawasan ibukota provinsi tersebut juga tidak datang sekalipun ke PKA yang baru saja selesai, karena agak susah bila membawa anak-anak kecil.

Keempat, kawasan PKA tersebut bisa menjadi tempat edukasi budaya untuk para pelajar dan mahasiswa. Anak-anak bisa diajak ke wilayah perbatasan untuk membuat karangan mereka untuk berbagai mata pelajaran dan metodologi pembelajaran. Hal ini penting mengingat selama ini, pelajaran muatan lokal yang diberikan di sekolah-sekolah malah tidak bersifat lokal. Dalam mata pelajaran muatan lokal, umumnya yang diajarkan Bahasa Inggris.

Halaman
12
Editor: hasyim
Sumber: Serambi Indonesia

Fenomena Air Terjun Sedudo Nganjuk Berubah jadi Hitam Pekat, Pengunjung Dilarang Mandi

Berita Populer