Kanal

Menyoal Kebudayaan Kita

PLT Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, menyematkan pin dan menyerahkan tropi kepada empat peraih anugerah utama dalam Malam Anugerah Budaya PKA Ke-7 di Kompleks Meuligoe Wali Nanggroe, Aceh Besar, Senin (13/8). -

Oleh Marah Halim

SEANDAINYA ada Pekan Kebudayaan Jepang atau Jerman (PKJ), maka terbayangkah kita apa yang akan “dipekankan”? Besar kemungkinan itu pekannya produk-produk Jepang dan Jerman yang berkaitan dengan berbagai alat kebutuhan kini dan disini (meminjam arti istilah hukum positif). Semuanya akan serba mekanis atau robotis, karena produk mereka yang kita pakai hampir semua berupa alat-alat canggih yang diproyeksikan untuk memudahkan pekerjaan, pergerakan, dan interaksi.

Kebudayaan, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah suatu pemikiran, adat istiadat, dan akal budi; dengan kata lain kebudayaan bermakna cara berpikir dan bertindak manusia. Menurut Koentjaraningrat, kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, serta hasil karya manusia dalam kehidupan.

Kebudayan juga dijadikan milik diri tiap manusia dengan belajar. Menurut E.B Taylor kebudayaan diartikan sebagai kompleks yang berisi pengetahuan kepercayaan, kesenian, moral, hukum, dan adat istiadat serta kemampuan yang didapatkan manusia sebagai anggota masyarakat. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa kebudayaan adalah hasil pencapaian akal budi manusia terkait dengan benda dan jasa yang dibutuhkan untuk membuat hidupnya semakin berkualitas dalam segala hal.

Meminjam Abraham Maslow (1908-1970), hidup manusia (komunitas/bangsa) akan berkualitas jika ia mampu dan mandiri memenuhi lima kebutuhannya secara hierarki; dari kebutuhan fisiologis (nyaman), perlindungan (aman), kasih sayang (dirindui), harga diri (diakui), hingga aktualisasi diri (dikenang). Untuk mencapai kebutuhan-kebutuhan itulah manusia dengan akal budinya bekerja sama menciptakan berbagai alat dari yang paling jadul hingga yang paling canggih.

Dalam kebutuhan fisiologis (ragawi) misalnya, manusia ingin nyaman dan semakin nyaman ketika makan, istirahat, seks, dan lain-lain; untuk itu ia perlu alat dan fasilitas yang memudahkannya untuk mendapatkannya, menyimpannya, mengolahnya, menikmatinya, menyajikannya, dan seterusnya. Dalam istilah saat ini kebutuhan yang berbau ragawi ini sering disebut dengan konsumsi dan akomodasi. Di atas kebutuhan ragawi, ternyata pemenuhan kebutuhan jiwawi jauh lebih banyak.

Memenuhi kebutuhan
Ragam kebutuhan ragawi dan jiwa manusia mendorongnya untuk menciptakan proses untuk mencapai masing-masing kebutuhan itu. Untuk memenuhi masing-masing kebutuhan itu manusia perlu bergerak (mobile) dan berinteraksi dengan penciptanya, manusia lain dan lingkungan alamnya. Untuk memudahkan proses bergerak dan berinteraksi itulah kemudian manusia menciptakan berbagai alat.

Untuk proses berpindah dan berinteraksi itu manusia membutuhkan alat-alat transportasi, alat-alat produksi, alat-alat distribusi, alat-alat komunikasi, alat-alat akomodasi, alat-alat dekorasi, alat-alat konsumsi, alat-alat dokumentasi, alat-alat bela diri, alat-alat defensi, alat-alat ekspresi seni, alat-alat kesehatan, dan berbagai macam alat yang menunjang proses lainnya.

Sejak zaman batu (prasejarah) hingga zaman informasi saat ini, manusia tak kenal henti mendesain dan membuat berbagai alat untuk menunjang proses-proses bergerak dan berinteraksi satu sama lain itu. Di masa prasejarah peralatan manusia terbuat dari batu dan logam yang kasar. Seiring dengan perkembangan akal budi manusia batu dan logam itu kemudian semakin beragam dan bentuknya semakin bagus dan semakin mudah digunakan. Akal manusia yang serba ingin tahu mendorongnya untuk terus-menerus untuk memenuhi dan meningkatkan kuantitas dan kualitas alatnya.

Filosofi alat adalah instrumen untuk membuat pemerolehan kebutuhan manusia menjadi lebih cepat, lebih tepat, lebih aman, lebih banyak, lebih efektif dan efisien, lebih hemat, lebih simple, lebih instan, lebih sehat, lebih selamat, lebih nyaman, lebih adil, lebih transparan, lebih etis, dan semua yang lebih-lebih. Kemampuan menciptakan alat untuk merasakan sensasi yang lebih-lebih itulah yang saat ini membedakan kelas kebudayaan (peradaban) manusia. Semakin besar kemampuan dan kemandirian suatu bangsa untuk memenuhi segala alat yang dibutuhkan maka akan semakin berharga eksistensi manusia (bangsa) itu.

Halaman
12
Editor: hasyim
Sumber: Serambi Indonesia

Benarkah Mie Ayam Tugu Lilin Pajang Solo Pakai Pesugihan Pocong? Yuk Mampir ke Warungnya

Berita Populer