Kanal

Hijrah Kekinian

Ribuan jamaah dari berbagai kabupaten larut dalalm zikir dan shalawat nabi pada puncak peringatan tahun baru Islam tahun baru Islam - SERAMBINEWS.COM/IDRIS ISMAIL

Oleh Marhamah

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. al-Baqarah: 218)

PERISTIWA hijrah Rasulullah saw dalam tradisi Islam merupakan sebuah sejarah yang sangat monumental dan memiliki arti yang sangat penting. Pada prinsipnya Allah Swt tidak menjadikan suatu peristiwa dengan sia-sia, tetapi ada ibrah (pelajaran) yang patut diambil sebagai barometer terhadap kehidupan saat ini.

Secara harfiah, hijrah diartikan berpindah yang dalam konteks makani, yaitu perpindahan dari satu tempat ke tempat lain atau disebut juga dengan hijrah fisik. Akan tetapi secara maknawi, hijrah diartikan sebagai perpindahan dari suatu keadaan yang tidak baik kepada keadaan yang lebih baik, dari kebatilan menuju kebenaran, dari kekufuran menuju keislaman. Hijrah maknawi inilah dinyatakan oleh Ibnu Qayyim sebagai hijrah haqiqiyyah. Karena pada prinsipnya hijrah fisik itu sendiri merupakan refleksi dari hijrah maknawi.

Hijrah menjadi simbol pengorbanan yang luar biasa, karena secara lahiriah umumnya naluri manusia akan menyatakan ujian itu sungguh berat. Meninggalkan nilai material yang barangkali selama ini mereka rintis dan perjuangkan. Rasul saw mengajarkan bahwa untuk mencapai suatu usaha besar dibutuhkan pengorbanan maksimal dari setiap orang.

Rasul saw dan sahabatnya berhijrah dari Mekkah ke Yastrib (Madinah) dengan segala daya yang dimilikinya, tenaga, pikiran, dan materi bahkan jiwa dan raga. Berpindah ke suatu tempat asing yang penuh spekulasi, tetapi kecintaan para sahabat akan Islam mengalahkan kecintaan pada semua itu. Pelajaran yang didapat dari pengorbanan ini adalah penegasan adanya perseteruan abadi antara kebatilan dengan kebenaran.

Manifestasi penting dari peristiwa hijrah ini, menyangkut dengan motivasi dalam melakukan suatu perbuatan. Motivasi Rasul saw dan para sahabat untuk hijrah adalah memperoleh ridha Allah Swt. Meskipun pada saat itu kondisi kaum muslim berada pada posisi yang sangat lemah dan teraniaya, namun prinsip keimanan yang ditanamkan Rasul saw mengantarkan mereka kepada optimisme akan datangnya kemenangan. Allah Swt berfirman, “Kebenaran itu datang dari Rabb-mu maka jangan sekali-kali engkau termasuk orang yang ragu-ragu.” (QS. al-Baqarah: 147).

Sikap optimisme
Sejalan dengan hal tersebut, Muhammad Rasyid Ridha menyebutkan bahwa iman membangkitkan sinar dalam akal, sehingga merupakan petunjuk jalan ketika berjumpa dengan gelap keraguan. Sikap optimisme umat Islam yang diiringi dengan tawakal kepada Allah menjadi semangat hijrah yang dapat menjadi pelajaran berarti. Hal ini menandakan bahwa tawakal merupakan perkara yang sangat agung sebagai bagian dari ibadah hati yang akan membawa pelakunya ke jalan-jalan kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Substansi hijrah merupakan strategi besar (grand strategy) untuk mewujudkan peradaban Islam dalam bentuk masyarakat yang adil, humanis, egaliter, dan demokratis yang tercermin dalam keputusan Nabi mengganti nama Yastrib menjadi Madinatul Munawarah (kota yang bercahaya). Karena itu, tepatlah apa yang dikatakan Annemarie Schimmael, profesor di bidang kultur Indo-Muslim Universitas Harvard, bahwa hijrah sebagai tahun (periode) menandai dimulainya era muslim dan era baru menata komunitas muslim.

Bahkan, Hunston Smith dalam bukunya The Religion Man, menyebutkan bahwa peristiwa hijrah merupakan titik balik dari sejarah dunia. Untuk menarik relevansi makna hijrah dengan konteks kekinian, jelas tidak harus menggunakan parameter sosiologis sejarah zaman Rasulullah, tetapi dengan menarik peristiwa itu sebagai ibrah (pelajaran).

Halaman
123
Editor: bakri
Sumber: Serambi Indonesia

Terekam Kamera Sosok Pria yang Diduga Selingkuhan Angel Lelga, Digerebek Vicky Berduaan di Kamar

Berita Populer