Kanal

Sudahkah Kita Berhijrah?

Pawai Ta'aruf Meriahkan Perayaan Tahun Baru Islam di Aceh Selatan - SERAMBINEWS.COM/TAUFIK ZASS

Oleh Abd. Halim Mubary

TANPA terasa kita sudah menapaki hari di tahun baru 1440 Hijriah. Tenggelamnya matahari pada Senin (10/9/2018) merupakan peristiwa besar bagi umat Islam, karena bertepatan dengan 1 Muharram 1440 Hijriah. Berbeda dengan perayaan tahun baru Masehi yang menggunakan sistem penanggalan syamsiyah atau penanggalan matahari. Sehingga orang pada umumnya menunggu sampai tengah malam tepat pada pukul 24.00, untuk merayakan pergantian tahun baru. Pergantian tahun baru Hijriah terjadi pada waktu Magrib, karena menggunakan sistem penanggalan qamariyah atau penanggalan bulan.

Secara historis, sejak Khalifah Umar bin Khattab pertama kali meletakkan dasar penanggalan kalender tahun Hijriah, maka dari sanalah sebuah peradaban besar Islam dimulai. Di antara ayat Alquran yang diturunkan Allah Swt kepada Muhammad saw pada masa awal kenabiannya, berupa perintah untuk berhijrah, “Dan tinggalkanlah segala perbuatan yang keji.” (QS. al-Mudatstsir: 5). Meninggalkan dosa merupakan pangkal hijrah mental spiritual seseorang demi menuju jalan-Nya.

Tidak mudah meninggalkan sebuah kebiasaan yang sudah mendarah daging, karena selalu ada tarik-menarik kepentingan di benak kita, untuk tetap bertahan, atau berhijrah demi sebuah perubahan. Namun jika kita masih merasa enggan, tetap dengan kebiasaan lama, maka tunggulah azab Allah yang maha pedih (QS. Al-Baqarah: 10).

Dengan demikian, hijrah menjadi penting artinya ketika seseorang bersedia melakukan perubahan secara menyeluruh dalam segala sendi kehidupannya. Dari yang jahat menjadi baik. Dari tercela menjadi lebih santun. Termasuk hijrah fisik dari lingkungan yang buruk kepada lingkungan yang lebih baik, seperti Rasulullah saw dan para sahabat hijrah dari Mekkah ke Yatsrib (Madinah).

Pesan moral dalam hijrah Nabi adalah penguatan mental spiritual selama prosesi hijrah tersebut. Nabi terbukti berhasil membangun sebuah peradaban di tempat yang baru. Padahal Nabi baru pertama kali menginjakkan kakinya di Madinah. Sebagai orang asing, biasanya akan sulit diterima oleh komunitas di sana. Namun, karena peradaban yang lebih maju dan alam pikiran penduduk Yatsrib yang lebih terbuka dibandingkan masyarakat Mekkah, sehingga Nabi berhasil dalam misi hijrah ke sana. Sebab, tidak lama setelah Nabi hijrah ke Madinah, hanya dalam rentang 10 tahun sebelum beliau wafat, Rasulullah saw telah berhasil membangun sendi-sendi peradaban penduduk di Kota Madinah ke arah yang lebih baik dari sebelumnya.

Kecuali itu, keteladan dalam kepemimpinan diri Rasul pulalah, sehingga beliau dapat diterima dengan baik di tengah penduduk Yatsrib yang heterogen. Sehingga Nabi bukan saja dikenal sebagai sosok teladan dalam mengawal dan menyelamatkan perjuangan Islam, namun yang lebih penting lagi, pada diri beliau juga melekat sifat-sifat siddiq, amanah, fathanah, dan tabligh yang patut kita teladani.

Dan, dari Madinah perjuangan Islam yang sesungguhnya dimulai, sehingga Islam berhasil menembus daratan Eropa, Asia, dan hingga Afrika. Menghiasi hampir seperempat belahan dunia. Jejak semangat hijrah yang ditinggalkan Rasulluah saw ini, sejatinya tetap kita pertahankan sampai kapanpun.

Pesan moral
Ada beberapa pesan moral yang bisa kita ambil dari peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad saw. Pertama, sifat shiddiq yang artinya benar. Rasul bukan hanya perkataannya yang benar, tapi juga perbuatan beliau yang selaras dengan ucapan. Beda sekali dengan pemimpin sekarang yang kebanyakan hanya kata-katanya yang manis, namun perbuatannya berbeda dengan ucapan. Ada politik kepentingan, sehingga para elite memutarbalikkan fakta (hoax). Saat kampanye pemilu, sebagian calon kandidat banyak yang jual “kecap” bahwa dirinyalah yang terbaik. Namun setelah terpilih, banyak janji-janji politik tadi yang hilang ditelan angin.

Kedua, sifat amanah pada Rasul begitu terjaga. Amanah artinya benar-benar bisa dipercaya dalam setiap perkataan dan perbuatan. Bukan lain di mulut, tapi lain di hati. Jika satu urusan diserahkan kepadanya, niscaya orang percaya bahwa urusan itu akan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Oleh karena itulah Nabi Muhammad dijuluki oleh penduduk Kota Mekkah dengan gelar al-Amin, artinya terpercaya. Sehingga jauh sebelum beliau diangkat menjadi Rasul, beliau telah memperlihatkan sifat amanah baik dalam berdagang maupun mengembalakan ternak orang lain yang dipercayakan kepadanya, karena Rasul tidak pernah berbohong. Jika diberikan kepercayaan, beliau akan merawatnya dengan sepenuh hati.

Halaman
12
Editor: bakri
Sumber: Serambi Indonesia

Viral Rumah Bohemian Rapsody di Blitar, Gaya Eropa dan Dianggap Mistis, Lihat Video Penampakannya

Berita Populer