Kanal

Perempuan di ‘Ruang Terbelenggu’

SAIFANNUR, Bupati Bireuen -

Oleh Siti Rahmah

SAYA sempat kaget bercampur sedih ketika membaca berita dengan headline “Nonmuhrim Haram Duduk Semeja” (Serambi, 5/9/2018), yang mengulas seputar surat edaran yang dikeluarkan oleh Pemkab Bireuen. Surat edaran yang ditandatangani oleh Bupati Bireuen H Saifannur S.Sos pada 30 Agustus 2018 lalu itu, berisi standar pelayanan warung kopi, kafe dan restoran di Bireuen.

Dari 14 poin yang tercantum surat edaran tersebut, tiga poin di antaranya patut ditelisik lebih dalam. Tiga poin itu terkait keberadaan perempuan di ruang publik, yaitu Poin 5 yang berbunyi, “para pramusaji wanita tidak dibenarkan bekerja pukul 21.00 WIB”; poin 7 “Dilarang melayani pelanggan wanita di atas pukul 21.000 WIB kecuali bersama mahramnya”; poin 13 “Haram hukumnya laki-laki dan perempuan makan dan minum satu meja kecuali dengan mahramnya”.

Edaran ini pun berbuah pro dan kontra dari masyarakat. Ada yang setuju karena peraturan ini disebut-sebut melindungi perempuan, lalu ada orang mengatakan ini menjadi bagus karena remaja yang ingin keluar malam akan ditemani oleh orang tuanya atau mahram. Ada juga yang berpendapat untuk apa perempuan duduk di warung kopi sampai malam. Apa tidak dipikirkan bagaimana kalau emak-emak para perempuan yang jualan di malam hari? Gimana ya nasib emak-emak kita.

Ruang publik
Kita tahu bahwa warung, kafe, dan resto adalah ruang publik. Ruang di mana perempuan dan laki-laki juga mencari nafkah. Kita tahu ruang publik biasanya terbuka untuk umum dan berada diruang terbuka. Dari ketiga poin tersebut ada dua poin yang saya kurang setuju adalah poin 7 dan 13. Saat berada di warung, kafe, dan resto, perempuan dilarang duduk semeja dengan orang yang bukan Mahramnya. Selain itu perempuan tidak boleh melayani pria pengunjung kafe, resto dan warung di atas pukul 21.00 WIB.

Kalau pengunjung tidak boleh dilayani oleh yang bukan mahram, berarti karyawan yang menyajikan minuman atau makanan juga harus yang mahramnya. Apakah ada yang salah dengan ruang terbuka kita saat ini? Saya sangat setuju dengan penegakan syariat Islam. Tetapi jangan hanya fokus pada perempuan. Kita juga harus pikirkan bagaimana kalau kita harus bertemu dengan rekan kerja, rekan bisnis dan lain sebagainya? Bagaimana para emak-emak, janda yang berjualan makanan di warung, kafe dan resto? Katanya kita bersyariat sudah harusnya juga dicari jalan keluar soal ini.

Pemerintah dan masyarakat bisa duduk bersama untuk membicarakan hal ini. Harus ada solusinya, mengkritisi edaran Bupati Bireuen tersebut bukan berarti tidak setuju dengan penerapan syariat Islam, bukan tidak setuju dengan kebijakan yang dibuat oleh orang nomor satu tersebut. Tetapi harus dipikirkan kembali dampak dari aturan ini jika diberlakukan.

Mungkin juga ke depannya para pengusaha warung, kafe dan resto perlu punya perkumpulan atau ikatan, sehingga ketua perkumpulan tersebut bisa mewakili untuk berdiskusi soal penerapan edaran ini. Juga harus dipikirkan bagaimana para musafir yang berhenti di Bireuen. Ingin makan dan minum di Bireuen. Bagaimana bisa menentukan mereka mahramnya atau bukan? Haruskah setiap pengunjung menunjukan Surat Nikahnya? Mungkin kebijakan ini masih bisa dibicarakan dan dicari jalan keluarnya.

Bagaimana mungkin perempuan bisa berada di dewan yang terhormat mewakili rakyatnya, kalau ruang geraknya belum apa-apa sudah dibatasi. Sebelumnya di Aceh Barat juga ada larangan memakai celana bagi perempuan, larangan duduk berboncengan “ngangkang” bagi perempuan di Lhokseumawe, wajib berjilbab bagi pramugari semua maskapai pesawat terbang yang mendarat di Aceh.

Mimpi bicara tentang peraturan pro perempuan, sama susahnya bermimpi perempuan bisa duduk di DPR. Peraturan ini jelas membatasi kami perempuan. Tak hanya itu, bagaimana perekonomian para karyawan dan pengusaha warung kopi, kafe dan resto. Walaupun saya bukan orang Bireuen, tetapi saya prihatin dengan hal ini.

Halaman
12
Editor: bakri
Sumber: Serambi Indonesia

Hasil Polling Mata Najwa di 3 Sosmed, Prabowo-Sandi Unggul dari Jokowi-Ma'ruf Amin

Berita Populer