Wali Santri Mengamuk di Ponpes

Pondok Pesantren Serambi Mekkah, Desa Blang Beurandang, Kecamatan Johan Pahlawan, Meulaboh, Kabupaten Aceh Barat

Wali Santri Mengamuk di Ponpes
SERAMBI/DEDI ISKANDAR
Polisi memeriksa kondisi Tgk Muhibbul Nasir Waly setelah diamuk massa dari keluarga santri yang tak terima perlakuan korban yang diduga menganiaya dan memandikan para santri dengan air comberan ketika memberikan hukuman di Ponpes Serambi Mekkah, Desa Blang Beurandang, Meulaboh, Aceh Barat, Minggu (7/4) sore.
* Tak Terima Anaknya Dipukul dan Dimandikan Air Comberan

MEULABOH - Pondok Pesantren Serambi Mekkah, Desa Blang Beurandang, Kecamatan Johan Pahlawan, Meulaboh, Kabupaten Aceh Barat, Minggu (7/4) sore, dihebohkan dengan peristiwa mengamuknya sejumlah keluarga santriwati.

Mereka marah besar dan menganiaya seorang guru di Ponpes tersebut, Tgk Muhibbul Nasir Waly (anak dari Alm Abuya Nasir Waly), menyusul laporan tentang putrinya yang dipukul dan dimandikan air comberan.

Informasi yang berhasil dihimpun Serambi, aksi penyerangan itu terjadi berawal dari pengaduan santriwati kepada orang tuanya yang kebetulan pada Minggu kemarin datang menjenguk. Beberapa santriwati mengaku dipukul serta dimandikan air comberan karena dituduh terlibat pacaran. Keseluruhan ada 15 santriwati yang mendapat hukuman tersebut.

Tak terima atas perlakuan itu, para keluarga mengamuk dan marah besar. Mereka menilai tindakan melakukan pemberian hukuman seperti itu tidak pantas dilakukan oleh seorang teungku, apalagi di pondok pesantren.

Keluarga korban yang terus berdatangan mendapatkan informasi tersebut langsung mengamuk dan mencoba masuk ke dalam lokasi pondok pesantren. Para warga yang merupakan kaum laki-laki ini mencoba mencari tahu ustaz yang bernama Tgk Muhib.

Setelah bertemu, anggota keluarga santri tak mampu mengendalikan emosi dan langsung menyerang ustaz tersebut. Meski sudah berupaya menyelamatkan diri, namun guru pengajian ini tetap saja menjadi sasaran warga yang marah dan mengejar korban menggunakan kayu balok.

Disebut-sebut, sebelum penyerangan terjadi, Tgk Muhib sempat melontarkan kata-kata yang membuat keluarga santriwati marah. Sehingga mereka mengamuk saat hendak meminta pertanggungjawaban terhadap persoalan tersebut.

Setelah diamuk dan diwarnai tangis serta histeris santriwati dan warga yang melihat, Tgk Muhib berhasil diselamatkan dengan kondisi wajah yang penuh lumuran darah dan mengalami luka parah dibagian matanya. Bahkan baju korban juga dipenuhi darah.

Sementara keluarga santriwati yang mengamuk sempat mengancam akan membakar pesantren apabila persoalan itu tak secepatnya diselesaikan. Sedangkan korban langsung diamankan pihak keluarga karena sudah mengalami luka parah.

Kapolres Aceh Barat AKBP Faisal Rivai SIK melalui Kasat Reskrim Iptu M Riyan Citra Yudha yang dikonfirmasi Serambi, mengaku telah melakukan pengusutan terhadap kasus tersebut. Tgk Muhib sendiri saat ini dilaporkan sudah diboyong ke RSUD Cut Nyak Dhien Meulaboh guna mendapatkan visum et repertum terhadap luka yang dialami. 

Pihak kepolisian mengaku masih mencari tahu siapa pelaku yang menjadi dalang dalam kasus penyerangan tersebut. “Kasus ini masih kita selidiki, sedangkan sebuah balok yang diduga digunakan pelaku untuk menyerang sudah kita amankan di Mapolres,” pungkas Kasat Reskrim Iptu M Riyan Citra Yuda.(edi)

Kami Dituduh Pacaran
SALAH seorang santriwati, SRY, yang juga mendapatkan hukuman mengaku kalau ia bersama 14 rekannya dipukul dan disiram air comberan. Hukuman itu dijatuhkan karena Tgk Muhib menuduhnya berpacaran. 

“Kami dikumpulkan. Setelah dipukul, barulah kami disiram air comberan,” katanya sambil memperlihatkan luka lebam di bagian paha kanannya akibat terkena pukulan benda tumpul.

Menurut SRY, kejadian kekerasan seperti itu sudah kerap terjadi di pondok pesantren dan menimpa sejumlah santriwati dan santri lainnya. Akan tetapi, baru sekarang masalah itu berani dilaporkan kepada orangtua karena mereka tidak tahan dengan perlakuan dan hukuman yang diterima.(edi)

Kami tidak Terima
ERNAWATI (40), orangtua salah satu santriwati kepada wartawan mengaku tidak terima dengan perlakuan kekerasan yang dialami anaknya hanya gara-gara dituduh pacaran.

“Anak kami diberikan ke pesantren ini untuk diberikan ilmu agama, dan bukannya disakiti atau diberikan hukuman kekerasan, apalagi dimandikan air comberan,” tegasnya.

Menurut dia, perlakuan aneh dan takut dari anaknya selama ini itu sudah kerap terlihat. Karena anaknya merasa trauma sepulang dari pesantren. “Kami akan minta pertanggungjawaban terhadap masalah ini, kami tidak terima,” tegas Ernawati.(edi)

Harusnya tak Perlu Terjadi
PIMPINAN Pondok Pesantren Serambi Mekkah, Tgk Harmen Nuriqmar, menyatakan, peristiwa penyerangan orang tua santriwati terhadap salah satu guru di Ponpes yang dipimpinnya harusnya tak perlu terjadi.

Menurut Tgk Harmen, permasalahan ini semestinya bisa diselesaikan musyawarah dan kekeluargaan, tidak perlu sampai melakukan aksi anarkis sehingga menyebabkan luka parah pada Tgk Muhibbul Nasir Waly.

“Dimandikan air comberan dan mendapatkan hukuman bagi santriwati memang benar, dan hukuman itu diduga diberikan akibat mereka terlibat pacaran,” kata Tgk Harmen. Ia jelaskan, pesantren tersebut memiliki aturan tegas terhadap para santri/wati yang melakukan kesalahan, termasuk dengan melakukan tindakan pacaran, karena hal itu berdosa dan dilarang dalam agama.

Terhadap penyelesaian kasus tersebut, Tgk Harmen Nuriqmar mengaku terlebih dahulu akan menyelesaikan persoalan itu secara kekeluargaan dan musyawarah. Namun terhadap aksi anarkis yang terjadi pada seorang guru mengaji dan luka parah, hal itu akan dilihat bagaimana penyelesaian nantinya. “Intinya kami menyesal hal ini bisa terjadi,” pungkasnya. Ia sendiri mengaku saat hukuman terhadap para santriwati itu diberikan tidak sedang berada di tempat.(edi)
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved