Sriwijaya Post
home / opini

Ramadhan dan Alquran

Selasa, 16 Agustus 2011 10:01 WIB
Oleh M Yusran Hadi

AL-QURAN merupakan pedoman, konsep, dan aturan hidup manusia. Dalam konteks hablum minallah, Alquran mengatur relasi hamba dengan khaliqnya. Hubungan vertikal ini dalam bahasa syariat disebut ibadah seperti shalat, puasa, zakat dan haji.

Sedangkan dalam konteks hablum minan naas, al-Qur’an menjelaskan  tata cara pergaulan dan hubungan manusia dengan dirinya, manusia lain dan makhluk Allah lainnya. Hubungan horizontal ini dikenal dengan sebutan muamalah. Konkritnya, al-Quran memberi petunjuk bagaimana mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.

Beriman terhadap Alqur’an bukan sekadar percaya saja, namun mesti dibarengi dengan implementasi yang nyata sebagai tuntutan dari iman tersebut yaitu membaca, memahami, dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Membaca al-Qur,an merupakan suatu ibadah yang diperintahkan Allah. Dan para ulama sepakat, bahwa hukum membaca al-Qur’an adalah wajib ‘ain. Maknanya, setiap individu muslim harus bisa baca al-Qur’an. Kalau tidak, maka ia berdosa.

Al-Qur’an diturunkan pada bulan Ramadhan, sebagaimana firman Allah: “Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan petunjuk tersebut dan pembeda (antara yang benar dan yang batil).” (QS. Al-Baqarah: 185).

Pada bulan Ramadhan Rasulullah SAW selalu bertadarus, muraja’ah hafalan dan talaqqi al-Qur’an dengan Jibril as, sebagaimana disebutkan dalam riwayat Ibnu Abbas (H.R. Bukhari).

Makna ruhiah inilah yang dipahami oleh para ulama salafusshalih (shahabat, tabiin dan tabi’ tabi’in) sehingga mereka meninggalkan sementara aktivitas pengajian mereka selama ini hanya untuk berinteraksi dengan al-Qur’an pada bulan yang mulia ini, baik dengan cara memperbanyak membacanya, memahami dan mentadabburi maknanya, menghafal dan mempelajarinya, serta mengamalkannya.

Maka, sudah sepantasnya bulan Ramadhan ini kita berkosentrasi penuh dengan al-Qur’an dan berinteraksi dengannya sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah SAW dan para ulama salafus shalih.  Terlebih lagi bulan Ramadhan memiliki sederet kelebihan dan keutamaan.

Lantas, bagaimana dengan kita saat ini, sudah sejauh manakah kita mampu membaca dan mengkhatamkan al-Qur’an selama bulan Ramadhan? sudahkah kita mentadabburi makna-maknanya dan mengamalkan isinya? Pertanyaan ini penting dijawab oleh kita sebagai introspeksi dan inspirasi bagi kita untuk bersemangat dalam berinteraksi dengan al-Qur’an, terlebih lagi di bulan Ramadhan ini.

Di bulan Ramadhan inilah kita perlu mempertegas kembali komitmen, interaksi, dan pengamalan kandungan Al-Quran. Hal ini dapat dilakukan dengan cara-cara berikut;

Pertama, memperbanyak bacaan al-Qur’an. Bertekad untuk membaca al-Qur’an setiap harinya di bulan Ramadhan. Target minimal mampu membaca 1 juz setiap harinya sehingga dapat mengkhatamkan bacaan al-Qur’an sekali selama bulan Ramadhan. Bahkan kalau bisa, kita harus punya target beberapa kali khatam. Sehingga, setelah Ramadhan sudah terbiasa membacanya. Bila kita mampu membaca 1 juz setiap hari berarti kita mampu mengkhatamkan hanya 1 kali selama bulan Ramadhan.

Sebenarnya, orang yang mengkhatamkan al-Qur’an hanya 1 kali masih termasuk orang yang malas. Kenapa demikian? Karena, membaca 1 juz dengan bacaan tartil hanya memakan waktu sekitar 30-45 menit. Masih banyak tersisa waktu (baca: 23 jam lagi) yang bisa kita gunakan untuk urusan dunia dan akhirat. Bayangkan, kalau kita mampu membaca 2 juz setiap harinya, berarti akan khatam 2 kali dalam sebulan. Bagaimana kalau kita mampu membaca 5 juz per hari? Tentu khatam 5 kali dalam sebulan. Hal ini tidak terlalu sulit bila kita mau membagi waktu dengan baik. Caranya mudah, setiap habis shalat fardhu kita berkomitmen untuk baca 1 juz. Maka, bila sehari semalam itu shalat fardu 5 waktu, berarti kita mampu baca 5 juz. Bila kita mampu membaca 5 Juz setiap harinya, berarti kita mampu mengkhatamkan al-Qur’an 5 kali dalam sebulan. Maka tidak mengherankan, bila para ulama salafus shalih mampu mengkhatamkan al-Qur’an pada bulan Ramadhan sampai 10 kali khatam.  

Kedua, memahami isi kandungan al-Qur’an yaitu dengan cara memahami makna ayat-ayat al-Qur’an baik secara harfiah (terjemahan) maupun makna tafsir ayat tersebut, agar kita mengerti apa yang kita baca yaitu pesan dan ajaran Allah tersebut sehingga dapat kita amalkan. Mengamalkan al-Qur’an tidak mungkin dilakukan tanpa mengetahui pesan-pesan al-Qur’an tersebut. Begitu pula dengan cara menghayati kisah-kisah dalam al-Qur’an, agar menjadi ibrah dan dapat diambil manfaatnya sebagai cermin untuk kehidupan kita saat ini. Tentu kisah yang baik perlu dicontoh dan diamalkan, sedangkan kisah yang tidak baik perlu dijauhi dan ditinggalkan.

Ketiga, menghafal al-Qur’an. Minimal surat-surat pendek dan surat-surat penting lainnya yang sering dibaca dalam shalat. Para ulama shalafus shalih mampu hafal al-Qur’an dalam umur masih kanak-kanak. Misalnya, imam Syafi’i hafal al-Qur’an pada umur 7 tahun. Itulah modal kesuksesan mereka di dunia dan di akhirat, sehingga mengantarkan mereka menjadi seorang ulama dan menjadi hamba Allah yang bertakwa.

Keempat, mempelajari al-Qur’an. Sebagai petunjuk hidup manusia, al-Qur’an mengajarkan kepada kita berbagai aturan hukum dalam segala aspek kehidupan. Tujuannya, agar mendatangkan kemaslahatan dan menolak kemudharatan bagi manusia. Kita bisa mempelajari al-Qur’an dengan perantara berbagai disiplin ilmu syariat yang bersumber darinya seperti tauhid, tafsir, hadits, fiqh, ushul fiqh, dan sebagainya.

Al-Qur’an merupakan sumber segala ilmu, baik ilmu dunia maupun ilmu akhirat. Bila al-Qur’an ditinggalkan, di mana bukti pengakuan kita sebagai seorang muslim yang beriman kepada al-Qur’an? Tidakkah kita malu kepada Allah yang telah mencurahkan nikmat-Nya yang begitu banyak kepada kita, namun kita meninggalkan ajaran al-Qur’an dengan kesibukan mencari perhiasan dunia semata? padahal harta dan kemewahan dunia ini tidak dapat memberikan jaminan kebahagiaan.

Kelima, mengamalkan isi kandungan al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Membaca, memahami, menghafal dan mempelajari al-Qur’an tidak akan bermanfaat bila tidak ada pengamalan terhadap al-Qur’an. Meskipun demikian, mengamalkan al-Quran tidak mungkin terwujud bila tidak membaca dan memahami al-quran itu sendiri. Oleh karena itu, aktivitas tersebut di atas sangat terkait satu sama lainnya, meskipun faktor yang terpenting dari interaksi al-Qur’an adalah mengamalkan al-Quran. Karena al-Qur’an ini diturukan kepada manusia untuk diamalkan sehingga dapat berfungsi sebagai pedoman hidup manusia.

Demikianlah cara interaksi kita dengan al-Qur’an. Bulan Ramadhan merupakan momentum yang sangat tepat untuk mempertegas kembali komitmen kita terhadap al-Qur’an. Berbagai kelebihan dan keutamaan Ramadhan sejatinya mampu memotivasi kita untuk lebih peduli dan intensif dalam berinteraksi dengan al-Quran.

* Penulis adalah Dosen Fakultas Syariah IAIN Ar-Raniry, Banda Aceh.

Editor : bakri
Share on Facebook
Terkait
Tribun Network

Kembali ke Home
Full Site